Dua Jenis Keturunan dan Keuntungannya

Foto: Jatmandki.org

Belakangan ini saya merasa bersyukur, dengan adanya pihak-pihak yang dengan baik hati mendokumentasikan pengajian para Kiai atau ulama. Dokumentasi itu tidak kemudian di simpan menjadi arsip belaka, tapi juga disebar, dibagikan, untuk bisa dimanfaatkan banyak orang. Dokumentasi audio, video dan tulisan resume dawuh-dawuh kiai itu terus diproduksi, dibagikan luas di media massa, sehingga dapat mudah diakses oleh setiap orang yang membutuhkan. Seperti saya ini.

Pengajian Gus Baha’, Habib Luthfi bin Yahya, Habib Umar Muthohar, Gus Mus, Gus Yahya, Gus Ghofur Maemon, Kiai Said Aqil Siradj, Kiai Anwar Iskandar, Kiai Marzuqi Mustamar, Kiai Jamaluddin Ahmad, dan Kiai Imron Djamil adalah sebagian video yang paling sering dicari. Sosial media seperti youtube, facebook dan instagram menjadi ruang penyebarannya. Sekarang ini orang-orang seperti saya, yang sehari-hari harus mburuh, dapat dengan mudah mendengarkan dawuh pitutur luhur dari para ulama di sela-sela menyelesaikan pekerjaan. Satu jenis nikmat yang butuh saya utarakan sekarang ini.

Satu di antara ulama yang videonya cukup banyak diunggah di Youtube adalah pengajian Kiai Haris Shodaqoh. Kabarnya pengajian ‘offline’ kitab al Hikam yg diampu oleh Kiai Haris Shodaqoh tiap hari Ahad di pesantrennya, dihadiri ribuan jamaah. Video pengajian kitab al Hikam Kiai Haris ini juga dapat kita simak di Youtube. Seperti video pengajian kitab Hikam lainnya, yg diampu oleh Kiai Jamaluddin Ahmad, dan Kiai Imron Djamil.

Pengajian Kiai Haris Shodaqoh menurut saya sangat mudah untuk ditangkap, diterima, direnungkan, dipahami, sebab materi pengajian dijelaskan dengan bahasa yang sangat fasih, urut, jelas, dan tidak terburu-buru, alias tenang cenderung santai, serupa Kang Ulil Abshar tiap kali ngaji online. Ini sangat membantu orang seperti saya yang kurang mampu menangkap penjelasan dengan cepat.

Dalam salah satu video pengajian, beliau Kiai Haris Shodaqoh menjelaskan tentang dua jenis keturunan dalam kehidupan ini. Tentu penjelasan yang saya tulis di bawah ini tidak sama persis dengan apa yang beliau sampaikan, pasti ada kekurangan dan penambahannya, meskipun tidak saya sengaja. Bukan apa-apa, ini jelas sebab keterbatasan saya dalam menangkap maksud dari apa yang beliau sampaikan.

Menurut Kiai Haris Shodaqoh Pengasuh Ponpes al Itqon Bugen Semarang, ada dua bentuk kategori ‘dzuriah’ atau keturunan, pertama keturunan ‘bi nasab’, dan kedua, keturunan ‘bi sabab’. Pengertian bi nasab adalah keturunan secara biologis, atau ada hubungan darah di antara masing-masing pihak, anak bapak, atau pendahulu dan penerusnya. Sedangkan keturunan bi sabab, bisa dipahami dengan pengertian hubungan yg terjalin karena sebab-sebab tertentu. Dalam satu pengajian haul Kiai Ali Syafi’I, Kiai Haris Shodaqoh menjelaskan bahwa hubungan guru murid atau kiai dengan santri termasuk dari hubungan ‘dzuriah bi sabab’.

Dari garis keturunan ini, seorang murid termasuk dalam lingkup keturunan atau keluarga dari gurunya. Jika gurunya adalah ulama atau kiai, maka beruntunglah seorang murid sebab diakui sebagai keluarga ulama. Kiai Haris kemudian mengisahkan riwayat tentang ulama yang kelak masuk syurga, lalu setelah lama tinggal di syurga tapi peraupan-nya masih tampak murung, seperti tidak senang, seakan tidak puas. Kemudian datanglah malaikat bertanya kepada ulama tersebut, kenapa ia masih tampak susah, sedangkan ia sudah berada di dalam syurga. Apakah ulama itu tidak mensyukuri nikmat yang diberikan Allah kepadanya?

Mendengar pertanyaan malaikat itu, Si Ulama lalu memberi jawaban, bahwa meski ia sudah berada di syurga tapi saat ia masih merasa ada yang kurang. Ada yang kurang, sebab kesenangan ulama tersebut tidak dapat dirasakan oleh orang-orang yang dikasihinya. Padahal dulu ketika di dunia, kesenangan yang ia rasakan selalu bisa dibagi dengan anggota keluarga, dan semua anak didiknya, para murid dan santrinya. Ulama itu berharap Allah menghendaki keluarga besarnya, bi nasab dan bi sabab bisa ikut merasakan nikmat seperti apa yg ia rasakan.

Mendapati jawaban semacam itu, malaikat dengan tegas menjelaskan aturan baku yang kaku, rigid, sesuai dengan protokol dan hukum yang berlaku. Bahwa syurga hanya diperuntukkan bagi hambanya yang memang pantas mendapatkannya, seperti dirinya dan orang-orang saleh lainnya, yang ketika di dunia menjalani kehidupan dengan lurus, baik, tidak menyakiti orang lain, bertanggungjawab, serta mematuhi perintah-perintah Allah dan menjauhi setiap larangannya. Sedangkan jalan hidup beberapa kerabatnya tidak sama dengannya, tidak lurus, tidak baik, jadi mana bisa disamakan kedudukan dan ganjaran yang diterimanya. Menurut malaikat, permohonan semacam itu dirasa tidak tepat, menyalahi ketentuan yg berlaku.

Mendengar penjelasan malaikat seperti itu, Kiai ahli syurga itu tetap berharap supaya keluarga besarnya dapat bersama-sama dengannya di syurga, apapun caranya, jika tidak, maka ia menganggap syurga bukan tempat yang menyenangkan lagi. Bagaimanapun kebahagiaan adalah dapat melihat lain orang bahagia, seperti yg kerap ia upayakan di dunia.

Melihat kekuatan tekad Kiai saleh tersebut, malaikat kemudian berangkat untuk menghadap kepada Allah swt. menyampaikan dengan urut dan lengkap permohonan Kiai tersebut, dan anggapannya tentang syurga yang tidak menyenangkan lagi itu.

Menerima penjelasan malaikat yang urut dan kumplit itu, Gusti Allah swt. penguasa syurga dan segalanya itu, dengan sifat welas asihnya, segera memerintahkan malaikat untuk menjemput semua keluarga besar kiai saleh tersebut, untuk segera dikumpulkan bersama orang yang mengasihinya di syurga.

Setelah menyampaikan kisah ini, dalam kesempatan itu, Kiai Haris Shodaqoh kemudian menyampaikan pesan, bahwa betapa pentingnya mencari guru, menyambung nasab dengan cara belajar kepada para ulama.

Kisah semacam ini juga pernah disampaikan oleh Gus Baha’, dan banyak ulama lainnya. Jika kiai-kiai dan ulama dengan laku hidupnya yang indah itu saja sangat yakin dengan kisah ini, tentu saya yang serba kurang di sana sini-sini ini juga sepatutnya yakin dengan kisah tentang maha pengasih dan pengampunnya Gusti Allah swt. di atas.

Saya terus berharap semoga kita menjadi golongan umat yang senantiasa mendapat ampunan serupa itu dan yakin bahwa guru-guru, dan kiai-kiai kita senantiasa memikirkan nasib semua santrinya. Inilah kisah beruntungnya menjadi santri dari kiai yang baik hati.

*Saya sarikan dari rekaman video pengajian Kiai Haris Shodaqoh yg diunggah di YouTube.