Bambang Sarosa: Praktik Ekonomi di Antara Idealisme dan Pragmatisme

Koreksi penting terhadap pemikiran masyarakat di arus utama tentang praktik ekonomi adalah pentingnya akumulasi sebagai sebuah kemutlakan.

Kita dihadapkan pada pertanyaan tentang akumulasi, ada pula pertanyaan tentang efisiensi, di samping itu terserak juga pertanyaan tentang penawaran atau permintaan. Namun, yang sering dilupakan adalah bagaimana fungsi berbagi dalam praktik ekonomi sehari-hari.

Sebagai contoh ada dua penjual bubur kacang ijo yang letak jualannya berdekatan. Keduanya memang tidak bersebelahan secara langsung, letak jualan mereka berjarak tidak sampai lima meter. Sayangnya di sana mereka saling bersaing. Mereka melupakan suatu aspek penting dalam humanisme, yakni pentingnya empati dan kebersamaan ketika saling bersosialisasi sebagai sesama pedagang.

Kemudian, kesadaran kompetitif itu menjalar ke dalam perilaku ekonomi mereka. Tiada lagi kerekatan yang menyatukan mereka selaku pedagang bubur kacang ijo. Seolah-olah persaingan membuat mereka mesti menundukkan. Konsumen menjadi raja. Dan pelaku bisnis, berlomba-lomba merebut hati sang raja. Fenomena ini sebenarnya yang perlu diberi kritik.

Terkait hal ini, Redaksi Surakartadaily.com berkesempatan mewawancarai Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) Bambang Sarosa. Pada kesempatan yang berlangsung di sebuah wedangan yang terletak di kawasan Kota Barat, Surakarta, kami membicarakan banyak hal, terutama mengenai perilaku ekonomi sehari-hari, khususnya berjalannya unit bisnis di masa-masa ini.

Dari dulu, menurut dosen yang akrab disapa Pak Baros ini, sudah disepakati bahwa praktik umum ekonomi adalah adanya penawaran dan permintaan. Kemudian fungsi lainnya saling menyesuaikan. Karena itu, misal dalam perdagangan ada unit bisnis yang tak mencapai keuntungan, kebangkrutan terjadi.

Begitu pentingnya sebuah keuntungan, sehingga unit bisnis perdagangan mempraktikkan cara-cara khusus agar usaha mereka terus bertahan dalam situasi apapun. Tapi yang kadang tidak disadari, kolaborasi dan solidaritas itu juga penting. Di masa-masa sekarang, pemikiran bahwa keuntungan mutlak itu pentig diperoleh seorang diri, masih mengakar jauh di alam bawah sadar kita.

”Karena indivudalisme masih tertanam di masyarakat kita. Efisiensi setiap individu semata, masih di alam bawah sadar orang-orang. Coba kita berpikir ulang tentang itu. Banyak cara supaya sejahtera itu bisa bersama-sama,” ujarnya ketika diwawancarai pada (17/3/2021).

Obrolan kemudian berlanjut ke ranah yang lebih luas, yaitu kecenderungan yang melanda masyarakat kita belakangan. Selain individudalisme, menurut dosen yang mengajar di Porgram Studi Ekonomi Pembangunan UNS ini, kebanyakan para sarjana sekarang mulai meninggalkan idealisme dan banyak mengalami kegamangan di dalam pragmatisme kerja.

”Kita perlu orang-orang yang mau menghubungkan kantung masyarakat yang masih bergantung pada kapital besar, dan terjerat pada hutang-hutang yang memberatkan. Sebenarnya formulanya banyak, seperti koperasi, tapi realitanya, mahasiswa sebagai salah satu kalangan terdidik sekarang, seperti sudah layu sebelum berkembang,” ujarnya.

Maka, ilmu ekonomi sekarang, menurut dosen yang juga bergiat di bidang pemberdayaan masyarakat ini, tidak begitu memerlukan istilah-istilah yang membingungkan. Kepentingannya adalah menyederhanakan ilmu ekonomi, lalu membuatnya lebih bermakna dan bermanfaat bagi masyarakat. Pasalnya, praktik sebenarnya awal mula dari teori-teori yang ada. Menangkap realitas dan melibatkan diri ke dalamnya menjadi lebih penting bagi kebutuhan masyarakat belakangan ini.

”Pertanyaan besarnya, mau mencari uang apa mau mencari kerja?” ujarnya.

Add Comment