Bambang Sarosa: Pemberdayaan Masyarakat Butuh Komunitas Militan

Foto: FEB UNS

Partisipasi masyarakat sebenarnya membuka kesempatan untuk menyejahterakan banyak pihak. Ini selaras dengan upaya mereka, karena orientasinya dari masyarakat akan kembali ke masyarakat. Namun, tantangannya terletak pada mereka yang mau ikut terlibat dan bergerak menggerakkan upaya yang bisa dilakukan bersama-sama.

Realitanya, ketika individu ingin membangun sebuah pranata ekonomi demi mengangkat kesejahteraannya, ada kendala-kendala by system, seperti tata kelola yang berkelanjutan, hutang, dan bunga hutang itu sendiri. Mereka yang terjerat pada kendala tersebut, kemudian berakhir dengan masalahnya sendiri. Alhasil, ini seperti mata rantai yang seolah tak terkendali.

Sektor ekonomi kita rentan dengan kendala-kendala tersebut. Bergerak, berjejaring, serta saling menguatkan melalui suatu wadah memungkinkan terjalinnya solidaritas antar individu. Namun, partisipasi masyarakat masih menyisakan banyak celah yang perlu dibenahi. Terutama pada mereka yang sebenarnya dapat melihat dan memahami permasalahan itu. Karena itu, kebersamaan menjadi faktor terpenting demi melibatkan masyarakat ke arah kesejahteraan yang lebih baik.

Bagaimana caranya? Dan apa bentuk terbaik agar banyak pihak mau terlibat dalam upaya ini?

Menurut Bambang Sarosa, dosen di Program Studi Ekonomi Pembangunan Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS), sistem ekonomi kita memerlukan komunitas yang rela menyisihkan waktunya untuk terlibat dalam pemberdayaan masyarakat. Umumnya, lantaran terkendala pada waktu dan tuntutan kerja, banyak pihak enggan menceburkan diri dalam dunia pemberdayaan.

Padahal menurut dosen yang juga praktisi koperasi ini, komunitas itu sifatnya terbuka, dan tidak mengeksklusi kalangan tertentu. Komunitas yang militan, dan teredukasi dengan baik, dapat meningkatkan daya gerak dan pengaruh di tengah masyarakat. Pengaruh yang baik, memberi peluang tersampaikannya pesan dari upaya yang sedang dilakukan.

”Partisipasi masyarakat itu membutuhkan komunitas yang militan. Itu sebagai bentuk penyadaran. Karena kesadaran kita itu kunci dari praktik dalam aktivitas ekonomi sehari-hari.” ujarnya.

Psikologi Menjadi Kunci

Komunitas memerlukan banyak siasat dalam menghadapi masalah yang dihadapi bersama. Siasat-siasat tersebut, kunci interaksi masuk ke dalam usaha mengangkat derajat hidup individu yang menjadi sasaran komunitas. Dahulu kala, Profesor Mubyarto, seorang guru besar Ekonomi dari Universitas Gadjah Mada pernah mengatakan kalau kunci dari penguasaan perspektif masyarakat adalah kombinasi ilmu ekonomi dan sosiologi. Kedua ilmu tersebut jika dipraktikan dengan bahasa yang sederhana dapat digunakan sebagai siasat pemberdayaan masyarakat.

Sekarang, menurut Bambang Sarosa, kunci dari penguasaan perspektif masyarakat adalah ilmu psikologi. Mengingat, ekonomi merupakan praktik, maka psikologi yang berkutat dengan laku kesadaran manusia dan perialkunya, justru penting dipelajari sebagai bekal siasat pemberdayaan yang positif.

”Sekarang bukan lagi ekonomi dengan sosiologi. Masa sekarang, psikologi itu penting. Orang-orang juga makin sadar pentingnya psikologi. Jadi itu bukan lagi sekedar konseling, diterapkan ke mana pun bisa. Psikologi bisa masuk ke mana saja, dan langsung menyentuh individunya. Makanya itu penting.” ujarnya.

Bermula dari psikologi, pemberdayaan akan memulainya dari gerakan penyadaran dan membawa ke arah kesadaran yang lebih baik. Kesadaran bersama yang terjalin di antara anggota komunitas, tentu memudahkan gerak tujuan komunitas. Ketika penyadaran dan kesadaran bersama tumbuh, mobilitas masyarakat lambat laun mengalami perkembangan yang baik.

Lebih jauh, Bambang Sarosa mengungkapkan jika komunitas di masa sekarang membutuhkan suatu inovasi yang mencerahkan. Inovasi yang dimulai dari tahapan pemahaman dari realita atau kebutuhan di masa depan, membuka celah kemajuan bagi dinamika masyarakat. Selain itu, pengolahan informasi menjadi sebuah inovasi karenanya membutuhkan pengelolaan dari bentuk komunitas yang diemban secara psikologis.

”Hidup kita terpaku pada pola-pola Webber. Kita mulai kebingungan membedakan profesionalisme dan pragmatisme. Hal-hal yang sederhana seperti bersosialisasi dan berbagi itu penting. Makanya komunitas itu perlunya ada supaya mereka yang ada di sana kreatif dan mencetuskan banyak ide-ide inovatif.” tutupnya.

 

Add Comment