Upacara Tradisional Ya Qowiyyu yang Berpotensi Menjadi Daya Tarik Wisata Klaten

Jatinom– Di Desa Jatinom, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, terdapat suatu upacara tradisional yang sifatnya unik. Upacara tradisional ini terkenal dengan nama “Yaqowiyyu”. Kata “Yaqowiyyu” berasal dan doa penutup yang diucapkan Ki Ageng Gribig setiap selesai menjalankan dakwah pengajiannya.

Ki Ageng Gribig adalah seorang ulama besar yang hidup pada zaman yang sama dengan Wali Songo. Ki Ageng Gribig menyebarkan agama Islam di daerah Jatinom dan sekitarnya. Beliau merupakan seorang ulama yang sangat dihormati dan dijadikan suri tauladan. Tidak hanya dakwah tentang ajaran kerohanian saja yang diterima oleh para pengikutnya, tetapi benda-benda yang diberikan oleh Ki Ageng Gribig dianggap bertuah.

Upacara tradisional Ya Qawiyu pada intinya merupakan upacara permohonan kepada Tuhan agar diberi keselamatan dan kemudahan mencari rezeki serta dilindungi dan diberkahi dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu Yaqowiyu juga disebut upacara “penyebaran apem”. Disebut demikian karena pada setiap puncak acara Yaqowiyu akan disebarkan kue apem kepada pengunjung.

Para pengunjung sangat antusias memperebutkan kue apem karena mereka percaya bahwa apem hasil rebutan tadi tidak akan dimakan, tetapi disimpan sebagai benda yang mengandung keberuntungan. Ya Qawiyyu disebut juga dengan “Saparan” karena pelaksanaannya selalu jatuh pada bulan Sapar dalam perhitungan tahun Qomariah tahun Jawa.

Upacara tradisional Ya Qawiyyu awalnya merupakan peringatan untuk mengenang Ki Ageng Gribig sewaktu pulang menunaikan ibadah haji pada bulan Sapar tahun 1589 M oleh para kerabatnya.

Sewaktu pulang dari tanah suci beliau membawa oleh-oleh berupa roti. Karena sudah menjadi kebiasaan dalam masyarakat setiap berangkat naik haji diantar dan setiap pulang akan diberi ucapan selamat, dan ada pula yang meminta oleh-oleh. Karena banyaknya tamu yang datang roti yang dibawa dari tanah suci tidak cukup untuk menjamu tamu-tamunya. Sewaktu tinggal dua biji roti tadi dicampurkan untuk membuat kue apem yang kemudian untuk menjamu tamu-tamunya.

Dari kejadian tersebut para kerabat Ki Ageng Gribig memperingati setiap tahunnya sehingga menjadi tradisi yang berakar kuat hingga saat ini. Namun peringatan yang semula hanya terbatas oleh kerabatnya saja dan tamu-tamu yang datang dari sekitar Jatinom makin banyak pengunjungnya, hingga tidak bisa ditangani sendiri oleh kerabat Ki Ageng Gribig.

Upacara tradisional Ya Qawiyyu yang sekarang telah melibatkan beberapa unsur masyarakat dan instansi pemerintah yang terkait. Dan saat ini Upacara Ya Qawiyyu sudah berubah menjadi salah satu daya tarik wisata dari daerah Jatinom, Klaten.