Titik Terang Peralihan Pekerja PG Gondang

Foto: Iklantravel.com

Di Pabrik Gula Gondang Winangoen atau PG Gondang, pada pukul 14.00, saya memasuki gerbang utama bersama salah seorang kawan seperjalanan. Ketika pertama kali memasuki Pabrik Gula yang didirikan pada 1860 ini, saya menangkap samar-samar kegagahan masa lalu seperti tegap menantang zaman.

Meski telah sekian waktu direstorasi, tapi tak membuat nuansa arsitektur kolonial kehilangan taji. Malah, perpaduan di antara kedua unsur itu saling melengkapi satu dengan yang lain, sehingga kebaruan itu menggaet ketertarikan yang auratik bagi pengunjung generasi terkini sebagaimana saya dan kawan saya.

PG Gondang adalah sisi lain Kota Klaten, kota yang terletak di antara dua kota basis Mataraman, Solo dan Jogja. Pada masanya pabrik gula ini merupakan salah satu aset terbaik di Pulau Jawa. Baik di era Kolonial Hindia Belanda maupun di masa Republik Indonesia. Hanya saja, setelah kondisi perindustrian mengalami perubahan, Gondang Winangoen turut bersalin wajah.

Memasuki sudut lain di PG Gondang Baru, saya seolah memasuki masa lalu Klaten bersama tempat ini. Seakan-akan ada mesin waktu yang menghisap imajinasi saya seiring masa yang berkelindan di foto-foto yang terpampang. Seorang pengunjung lain kemudian berseloroh, ”Seperti ini ya rupa orang-orang zaman dahulu,” katanya bergumam sendiri.

Bongkah-bongkah foto yang terpajang di ruangan itu sepintas memacak sejumlah dokumentasi pekerja di masa lalu. Tak begitu jelas, tapi ada sedikit gambaran. Gurat wajah mereka jadi terbayang di kepala saya. Mungkin benar seperti yang diungkap oleh pengunjung di sebelah saya tadi, barangkali saat ini jarang kita menemui situasi demikian. Pekerja di masa kini lazim memakai sandang dan gurat yang tentu berbeda. Saya mafhum: setiap masa memiliki ekspresinya masing-masing.

Selama 156 tahun beroperasi, Gondang Winangoen menjelma sentra penghidupan para petani tebu, rakyat kecil, dan juga pekerja pabrik. Ada sekian banyak orang yang menggantungkan penghidupan pada pabrik gula ini. Namun kalkulasi mesti dilakukan, ada untuk rugi yang terhitung. Aspek lain lantas dikesampingkan. Itulah mengapa setelahnya, PG Gondang harus berhenti beroperasi pada tahun 2016.

Perjalanan Gondang Winangoen melintasi zaman menyimpan lika-liku cerita. Sebelum Beku operasi (BKO), Pemerintah Kabupaten Klaten dan Komisi VI Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI bersepakat mengupayakan pemulihan jumlah bahan baku tebu (BBT). Manajemen PTPN IX yang membawahi PG Gondang Baru menyepakati hal itu. Sayangnya, karena kalkulasi tertentu dan ketersediaan dana yang terbatas, penerapan kesepakatan itu batal. Ini berujung pada nasib PG Gondang Baru yang mesti BKO.

Sentot Suparna dalam tulisannya yang berjudul Gondang Winangoen, Sebongkah Berlian di Belantara Kompetisi Gula Nasional menulis, ”apa pun yang yang dialaminya, Gondang Winangoen atau Gondang baru sampai saat ini masih kokoh berdiri. Penuh wibawa dengan guratan-guratan bekas kejayaan masa silam. Bagi segenap kalangan Gondan Baru adalah sebongkah berlian. Wahana bisnis yang menjanjikan sekaligus menyimpan pesona dan potensi budaya,” tulisnya.

Salah seorang pengunjung, Lukman (28) yang saya temui di ruang sayap timur berkata pada saya, ”tempat ini bisa lebih dari ini. Kalau ada yang mau memikirkannya, Gondang bisa maju Mas. Warga Klaten seperti saya bangga punya Gondang. Kalau lebih maju lagi, pasti menarik sekali,” tuturnya penuh harap. Sama seperti Lukman, saya berangan pada keberlanjutan nasib Gondang Baru di masa depan. Ini adalah aset sejarah yang tidak bisa didiamkan begitu saja.

Titik Terang

Lukman, pengunjung yang sebelumnya berseloroh di samping saya, memperkenalkan diri. Ia hanya mengajukan nama panggilannya, Lukman. Tak lama, ia mengajak saya mencari tempat merokok. Kami bertiga, termasuk kawan seperjalanan saya menemukan kawasan yang dicari. Kami lantas duduk dan mengambil rokok masing-masing. Lukman sempat menawarkan rokoknya, tapi kami menolak. Ia pun meloloskan sebatang rokok di kedua jarinya. Asap mengepul bergumpal-gumpal. Pembicaraan pun mulai mengalir. Klaten menjadi tema utama di samping soal curi-curi pembahasan kehidupan pribadi Lukman.

Bagi Lukman, Klaten itu unik. Kendati diapit dua kota yang memiliki rekam jejak sosiopolitik dan historis yang kompleks, ia mengamini kondisi Klaten yang sekarang terbentuk karena konsep yang telah ditetapkan jauh-jauh hari. Konsep ini menurut Lukman disusun dari tangan-tangan yang punya kuasa lebih. Karenanya banyak hal yang tercacah-cacah dan mesti dikumpulkan lagi apabila Klaten mau bersaing di tatanan nasional. Bagi Lukman, serasa ada kebesaran Klaten yang tampaknya tertutupi. ”Saya tak punya kuasa. Saya cuman karyawan biasa. Ya, kalau ada yang punya kemampuan lebih dari saya, semestinya bisa mengangkat Klaten,” ujarnya.

Memasuki pembahasan PG Gondang, Lukman mengatakan bahwa ia sejak kecil sudah lama melihat Gondang. Apalagi ketika ia berkuliah di Yogya, ia berseloroh telah ribuan kali melewati pabrik itu. Sayang, Lukman menyesali sekarang hanya tinggal kawasan wisata. Namun menurut Lukman, itu tantangan bagi pihak-pihak yang punya otoritas. Menurut Lukman, detil pasang surut Gondang Baru mesti disampaikan ke khalayak luas. Tidak hanya bagi yang berkunjung ke sana.

Gondang Baru kini telah berganti rupa. Ia telah menjadi destinasi wisata. Pergantian beberapa pemerintahan, menuntut Gondang Baru menyesuaikan diri. Ada harga yang tak tertanggungkan. Terutama modal sosial yang ada di sekitar Gondang Baru. Jelas, dalam modal sosial, masyarakat-lah yang terkena imbas dari peralihan fungsi. Nilai guna beralih, berikut nilai tambah yang ada di dalamnya. Ini menumpuk pekerjaan rumah ke depan bagi para stakeholder yang ada di Kabupaten Klaten, sebagaimana pendapat Lukman tadi.

Lukman, saya dan kawan seperjalanan saya adalah saksi dari era baru P.G Gondang. Pabrik gula yang terletak di Jalan Solo-Jogja ini merupakan titik tolak bagaimana Klaten dahulu pernah berjaya karena menyokong industri gula nasional. Di sini masyarakat Klaten meraih kebanggaannya, pernah begitu percaya diri karena asetnya, serta paham bahwa mereka adalah bagian dari fondasi pembentukan kedaulatan ekonomi, meski itu berjalan di masa lalu.

PG Gondang sebenarnya memiliki nilai sejarah yang cukup mengesankan. Tempat ini dahulu didirikan pada masa hampir berakhirnya Tanam Paksa, atau tepatnya 1860, oleh NV Klatensche Cultuur Maatschapij yang berkantor pusat di Amsterdam, Belanda. Manakala masih beroperasi sampai di era Republik Indonesia, salah satu ciri khasnya adalah pabrik gula ini masih menggunakan teknologi mesin uap buatan Prancis, B. Lahaye & Brissoneau, yang dibuat tahun 1884. Untuk mengangkut tebu dari tempat penimbangan ke tempat penyimpanan juga masih menggunakan kereta lori.

Mulanya, PG Gondang dikelola oleh NV Mirandolle Vaute & Co yang berkedudukan di Semarang. Sedangkan nama Gondang Winangoen disematkan dari kawedanan Gondang Winangun, onderdestric Jogonalan, Karesidenan Surakarta, tempat pabrik gula ini pertama kali didirikan. Asal usul pabrik gula ini menjadi keunikan tersendiri karena merupakan salah satu pabrik gula warisan Belanda.

Dahulu, PG Gondang ibarat tempat di mana masyarakat Klaten menabuhkan masa jayanya. Sementara dewasa ini, kendati beralih fungsi, bukan berarti masyarakat Klaten, mesti gamang ihwal eksistensi. PG Gondang masih ada, tapi ia perlu sentuhan lain, sebuah sentuhan masa kini yang sesuai dengan kebutuhan zaman. PG Gondang bak mengundang masyarakat Klaten mengingat, memikirkan, dan terlibat dalam kemegahan baru PG Gondang di masa depan.

Mengenai masa depan PG Gondang, selintas saya teringat akan latarbelakang pekerjaan Lukman sebagai desainer grafis lepas di banyak proyek. Meski ia sempat bilang tak punya otoritas lebih, sebenarnya jika ia mendapat kesempatan, tentu ia mau terlibat. Maka saya tercenung, bahwa pemberdayaan masyarakat adalah soal akses. Tentu ia harus menyesuaikan kebutuhan di masa sekarang.

Jika dulu PG Gondang bergantung pada produksi gula dan diwarnai oleh banyak pekerja kasar, agaknya ini masa ketika PG Gondang diisi oleh pekerja kreatif seperti Lukman demi menyerap potensi ekonomi masyarakat setempat. Sebab, ekonomi lokal adalah prioritas. Sementara kepedulian warga, relevansi keadaan, serta membaca zaman merupakan variabel penting lainnya dalam menyongsong masa depan daerah yang berdikari.