Sistem Keluarga Mendidik Hasrat

Biem.co

Dewasa ini anak-anak dihadapkan dengan keadaan yang membingungkan. Anak-anak dipaksa untuk belajar di rumah. Ruang belajar-bermain mereka menjadi sempit karena keadaan. Pengawasan proses bertumbuh mereka kini sepenuhnya dipegang keluarga.

Kita melihat gambaran demikian pada masa-masa seperti ini. Pengaruh sekolah formal dalam kehidupan anak-anak di masa sekarang tentu saja berkurang. Belum lagi anak-anak itu ketiban situasi yang menuntut adanya efisiensi penerapan silabus pengajaran. Barangkali ini semacam pertanda supaya keluarga mulai mencari sistem pendidikannya sendiri.

Kini jamak berlaku hasrat anak-anak teralihkan oleh konten-konten digital yang melenakan. Kemudian, tiba-tiba konsol permainan jadi lebih menarik daripada materi pelajaran. Kontrol guru, jam belajar, serta interaksi antar peserta didik tak lagi beriringan dengan erat. Anak-anak pun berpotensi banyak menelan simbol-simbol konsumtif daripada kebiasaan belajar.

Kegamangan pendidikan di situasi seperti sekarang merupakan autokritik bagi sistem pendidikan apapun yang masih terus berjalan. Tak bisa ditawar lagi, perubahan mesti dilakukan. Ini sebuah keniscayaan yang tak terelakkan. Kita memerlukan modifikasi pengajaran. Gawai memang memudahkan, namun jika tidak tepat guna dalam pemakaian, ia bisa menjerumuskan. Hal demikian tak perlu berulang kembali di masa depan.

Maka, bagi saya pribadi, mendidik hasrat adalah yang utama. Selera anak-anak perlu dibelokkan, dari yang kerap melahap simbol-simbol konsumtif, menjadi lebih berbudaya. Upaya seperti ini membutuhkan proses panjang, karena hal ini menyentuh kebiasaan umum yang mengakar di arus utama masyarakat. Maka kita memerlukan ketekunan berlipat-lipat. Mumpung, ada waktu bersama lebih banyak di masa seperti sekarang.

Waktu kebersamaan atau bisa kita sebut waktu berkualitas memang sangat berharga. Kata pepatah, kesempatan itu jarang muncul dua kali. Maksudnya, selagi ada waktu dan kesempatan, gunakan. Jangan sampai sia sia belaka. Itu mesti dipahami oleh anggota keluarga yang punya kewajiban mendidik di dalam rumah. Ini waktu yang tepat untuk menanam sebaik mungkin, agar kelak bermanfaat di kemudian hari.

Waktu berkualitas dalam sistem pendidikan keluarga membutuhkan instrumen tepat guna. Ketidaksiapan instrumen yang ada mungkin salah satu tantangannya. Sebab, tak semua keluarga punya latar pendidikan yang sama. Maka, diperlukan semacam hubungan timbal balik antara komunitas pendidikan yang berisi kalangan terdidik dengan simpul-simpul masyarakat. Rumusan ini membuka peluang melipatgandakan asupan nilai dari metode sekolah formal yang anak-anak ikuti secara daring.

Hasrat

Sekelibat, saya teringat pada orasi kebudayaan Karlina Supelli dalam gelaran Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) 2014. Di kesempatan itu, Karlina mengungkapkan kalau masyarakat butuh asupan pendidikan hasrat supaya tak terjerumus pada pola konsumerisme. Kurang lebihnya, menurut Karlina, mereka yang punya pengaruh dan kecerdasan intelektual dalam masyarakat, mestinya menyadari keadaan, dan mulai berkomitmen atas ketetapannya.

Dalam penafsiran saya, mereka, para kalangan terdidik ini, mungkin memang sebaiknya mulai bergerak. Karena disadari atau tidak, hasrat masyarakat berpengaruh besar dalam pola perilaku sehari-hari. Bagaimana nanti masyarakat mengolah apa yang ada di depan matanya dimulai dari hasrat mereka, entah itu berbudaya atau sekedar penelan tanda.

Pada situasi seperti sekarang, terhambatnya ruang gerak membuat masyarakat ragu dalam bermobilitas. Selain mungkin karena mampatnya akses ekonomi, barangkali disebabkan sedikitnya opsi yang disadari. Sensitivitas membaca potensi ini, tak dimiliki semua orang. Tapi kalangan terdidik yang menyadari peran dan pengaruhnya, punya kemampuan akan hal itu.

Dalam naskah pidato itu Karlina mengungkap kalau perspektif itu penting dalam kehidupan. Bahkan bagi saya, ia bisa membentuk kondisi material dan spiritual seseorang. Sementara bagi Karlina Supelli, asal tak berpersektif serba ekonomi atau materill, keseimbangan kehidupan dapat ditemukan. Perspektif serba materiil, akan menjadikan invididu terbiasa berpikir jangka pendek, pragmatis, dan serba instan.

Mendidik hasrat bisa dimulai dari sebuah karya. Memantik anak membuat suatu karya, adalah sebentuk proses olah rasa yang dimulai sejak dini. Sebelum memantik penggarapan, kita dapat menghadirkan karya-karya yang sebelumnya telah dibuat. Proses pembelajaran pun berjalan dari sini. Pelbagai karya-karya seni realis bisa menjadi tahap awal dalam memulai proses tersebut.

Anak memang bukan milik keluarga saja. Anak adalah milik zamannya. Ia mesti dihadapkan pada kenyataan di luar sana. Apa saja yang terjadi di lingkungan kita? Ada hal menarik apa yang bisa kita petik nilainya? Itu mengapa keberangkatan cara ini membutuhkan suatu kebijakan personal. Tanpa itu, nilai-nilai yang dibutuhkan akan terlepas dari pesan yang hendak disampaikan.

Meski begtu, tidak semua keluarga dapat melakukan cara itu sendiri. Maka, konsep komunitas diciptakan untuk menopangnya. Terutama komunitas yang bergerak dalam ranah pendidikan informal. Mereka punya kreativitas yang merangsang olah rasa anak-anak. Gerak mereka juga luas tak dibatasi struktur yang birokratis. Semangat pendampingan mereka kerapkali dipicu oleh aktualisasi kreatif.

Tatkala interaksi yang diharapkan terjalin, ada keluarga lain yang terbentuk dalam lingkaran sosiologis anak-anak. Format pendidikan informal itulah keluarga baru dalam lingkar sosiologis mereka. Artinya keberadaan sistem pendidikan informal adalah alternatif bagi opsi pendidikan yang bercorak kekeluargaan.

Selalu ada jawaban bagi setiap permasalahan di masa-masa seperti sekarang. Pada masa pandemi, segenap lini kehidupan membutuhkan ketahanan dari dalam. Pola pendidikan pun juga sama. Karena kenyataannya anak-anak adalah aset masa depan paling berharga dari sekian bentuk yang ada. Memikirkan itu semua, membuat saya teringat pada salah satu kutipan dari Neil Postman tentang anak, “Jangan kau cabut anak-anak dari dunianya. Kelak kau akan menemukan orang dewasa yang kekanak-kanakan.”