Sekilas tentang Tradisi Ya Qawiyyu di Jatinom

Foto: Humas Pemkab Klaten

Jatinom- Dalam penanggalan Islam, terutama pada bulan Safar, masyarakat Kabupaten Klaten rutin melaksanakan tradisi yaaqawiyyu yang menjadi peninggalan Ki Ageng Gribig, ratusan tahun lalu.

Ki Ageng Gribig atau bernama asli Wasibagno Timur merupakan ulama besar yang menyiarkan Islam di Desa Krajan, Jatinom, Klaten dan sekitarnya. Ki Ageng Gribig sangat menguasai strategi berdakwah, sehingga dakwahnya mengena di hati masyarakat. Mereka yang saat itu masih banyak yang atheis, akhirnya mau memeluk Islam.

Suatu saat, Ki Ageng Gribig pulang dari Mekah dan membawa buah tangan berupa kue apem yang hendak dibagikan kepada saudara, murid maupun tetangga. Tapi karena tidak cukup, Ki Ageng Gribig kemudian meminta kepada keluarganya untuk dibuatkan kue apem. Apem yang berasal dari kata affum dan artinya maaf itu kemudian disebut apem yaaqawiyyu.

Kata yaa qawiyyu dibubuhkan karena tatkala menutup pengajian, Ki Ageng Gribig selalu melafalkan do’a yang berbunyi “Ya qowiyu yaa aziz qowina wal muslimin, ya qowiyyu warsuqna wal muslimin“. Artinya, ya Tuhan, berikanlah kekuatan kepada kita segenap kaum muslimin.

Berawal dari narasi itu, sebar apem yaa qawiyyu menjadi tradisi masyarakat Klaten hingga sekarang. Masyarakat yang menanti tradisi yang dipercaya membawa berkah itu pun, menyebar hingga ke daerah tetangga. Tak ayal, Sendang Plampeyan, lokasi yang menjadi tempat sebar apem pun seperti lautan manusia.

Setelah melaksanakan salat Jumat, masyarakat langsung berbondong-bondong menuju Sendang Plampeyan. Gunungan apem yang terdiri dari gunungan lanang dan gunungan wadon pun diarak dari Masjid Ageng Jatinom menuju sendang. Gunungan disusun menurun seperti sate dengan susunan 4-2-4-4-3 yang melambangkan jumlah rakat salat lima waktu. Dalam susunan itu terdapat kacang panjang, tomat, dan wortel yang menyimbolkan bahwa masyarakat sekitar hidup dari sektor pertanian. Di puncak gunungan diberi mustaka seperti mustaka masjid.

Setibanya di sendang, gunungan yang berisi enam ton apem tersebut didoakan terlebih dahulu, baru kemudian disebarkan. Untuk mendapatkan apem tersebut, tak sedikit masyarakat yang berada di bawah sendang membentangkan kain jarik atau jaring.