Sejarah Mataram sebagai Kaca Benggala

Foto: Infopawartos

266 tahun silam, tepat tanggal 13 Februari 1755 M ditandatangani sebuah perjanjian yang menandai berakhirnya Dinasti Mataram. Perjanjian ini dikenal dengan nama Perjanjian Giyanti. Nama Giyanti diambil dari nama tempat penandatanganan perjanjian ini, yaitu desa Jantiharjo.

Prasastinya saat ini masih terjaga dengan baik di Dukuh Kerten Desa Jantiharjo Kecamatan Karangnyar Kabupaten Karanganyar. Berdasarkan perjanjian ini, wilayah di sebelah timur Kali Opak menjadi kekuasaan Sunan Pakubuwono III dan berkedudukan di Surakarta. Sementara itu wilayah di sebelah barat kali Opak diserahkan kepada Pangeran Mangkubumi, yang kemudian diangkat menjadi Sultan Hamengkubuwono I dan berkedudukan di Yogyakarta.

Sejarah Mataram Islami dimulai dari Danang Sutawijaya putra Ki Ageng Pemanahan mentasbihkan dirinya menjadi Raja Mataram I meskipun hal ini ditentang oleh Hadiwijaya selaku penguasa Kesultanan Pajang. Saat berkuasa pendiri Mataram ini bergelar Panembahan Senopati ing Alaga Sayidin Panatagama Khalifatullah Tanah Jawa. Sepanjang masa pemerintahannya, Panembahan Senopati berupaya menguasai tanah Jawa.

Berbagai daerah juga coba ditaklukan. Mulai dari Madiun, Kediri, Ponorogo, Pasuruan, Tuban, Sedayu, Gresik, Lumajang, Kertasana, Malang, Blitar, Lasem dan Sumenep diserang untuk memperluas wilayah kekuasaan. Namun misinya belum sepenuhnya berhasil sampai wafatnya pada tahun 1601 M setelah berkuasa selama 13 tahun.

Mas Jolang yang merupakan putra Mahkota kemudian diangkat menjadi raja Mataram ke-II. Ia bergelar Kanjeng Sinuhun Prabu Hanyokrowati. Pada masa kekuasaan Panembahan Hanyokrowati ini Kotagede yang merupakan ibu kota Mataram mengalami perkembangan fisik yang luar biasa.

Pada saat itu pula tercatat kedatangan orang-orang Belanda yang mendirikan Kongsi Dagang Hindia Timur atau dikenal dengan sebutan VOC. Panembahan Anyokrowati ini welcome dengan VOC karena dianggap dapat memberikan keuntungan bagi perluasan jaringan dagang Mataram. Raja ke-II Mataram ini wafat tahun 1613 M.

Mas Rangsang diangkat menggantikan ayahandanya setelah menyelesaikan tirakat selama setahun di Gunungkidul. Mas Rangsang kemudian bergelar Kanjeng Sultan Agung Senapati Ing Alaga Ngabdurachman Saidin Panatagama. Pada masa pemerintahannya, ibu kota Mataram yang semula di Kotagede dipindah ke Kerto. Mataram mampu menaklukkan kota-kota di seputar Surabaya dan Madura.

Di bagian barat, Kerajaan Cirebon dan Sunda Pakuan juga menyerah kepada Mataram. Hal ini menggambarkan kekuatan militer Mataram periode ini. Berbeda dengan ayahnya yang bekerjasama dengan VOC, Sultan Agung justru terlibat konflik dengan VOC. Raja Mataram yang mendapat gelar Sultan Abdullah Muhammad Maulana Matarani dari penguasa Makkah ini wafat tahun 1645 M.

Sepeninggal Sultan Agung, Mahkota Mataram diberikan kepada Kanjeng Susuhunan Amangkurat I yang merupakan putra Sultan Agung ke-10 dari permaisuri Kanjeng Ratu Kencono. Diawal kekuasaannya Amangkurat I mengeksekusi 3.000 orang bawahan ayahnya yang dianggap berpotensi melawan dirinya. Siapapun yang membangkan akan dihabisi.

Amangkurat I ini terkenal kejam. Atas sifatnya yang seringkali mementingkan kenikmatan duniawi dan sikap sewenang-wenang serta kerap mengorbankan rakyatnya ini menyebabkan banyak pihak yang tidak suka, termasuk adiknya sendiri yang bernama Pangeran Alit. Dengan dukungan para ulama Pangeran Alit melakukan pemberontakan, namun kemudian bisa ditangkap dan dibunuh.

Setelah itu, sekitar 6.000 ulama beserta keluarganya yang menjadi pendukung pangeran Alit pun kemudian dipenggal di alun-alun. Selain adiknya sendiri, pemberontakan juga dilakukan oleh Trunojoyo. Trunojoyo yang merupakan keturunan Madura inilah yang mampu mengusir Amangkurat I dari istananya. Dalam pelarian ke Batavia guna meminta perlindungan kepada VOC, Amangkurat I meninggal di Ajibarang. Jenazahnya dimakamkan di Tegalarum.

Sepeninggal Amangkurat I sempat terjadi dualisme kepemimpinan Mataram. Pangeran Adipati Anom yang saat itu berada di Banyumas dinobatkan menjadi raja Mataram dengan gelar Susuhunan Mangkurat II Amral. Dilain pihak, Pangeran Puger yang merupakan adik Pangeran Adipati Anom juga menobatkan dirinya menjadi raja Mataram dengan gelar Sunan Ngalogo di Jenar.

Kisah panjang pemberontakan Trunojoyo berakhir saat keris Kiai Balabat ditikamkan di dada Trunojoyo oleh Amangkurat II dihadapan para adipati yang sedang berkumpul di Balairung. Perutnya dibelah kemudian hatinya diambil dan lantas dicincang dan dibagikan kepada para adipati untuk ditelan mentah-mentah sebagai bukti loyalitas mereka kepada Amangkurat II.

Sampai disini ada dua raja di Mataram. Mangkurat II Amral membangun Keraton di Kartosuro sedangkan Sunan Ngalogo berkeraton di Plered. Kemelut Mataram berlanjut pada perang saudara antara kakak beradik ini. Dengan bantuan VOC, Amangkurat II bisa menduduki keraton Plered. Sunan Ngalogo akhirnya menyerah dan diturunkan dari tahta. Ia pun menyadari bahwa yang dilawannya tidak lain adalah kakak kandungnya sendiri. Setelah perdamaian itu pemerintahan Mataram berpusat di Kartosuro.

Pada masa kekuasaan Amangkurat II terjadi pemberontakan Untung Suropati, seorang budak belian dari Bali milik salah satu keluarga Belanda. Untung Suropati mendirikan kerajaan di Pasuruan dengan dukungan orang-orang Jawa Timur, Bali, Madura, Makassar, dan pelarian yang tidak puas dengan pemerintahan Amangkurat II.

Seiring menurunnya pamor Amangkurat II, konflik internal keraton Kartosuro pun semakin memanas. Perdamaian antara Amangkurat II dan pangeran Puger ternyata hanya di permukaan. Semakin hari hubungan mereka semakin memburuk. Pada tahun 1703 M Amangkurat II wafat.

Putra Amangkurat II kemudian naik tahta dan bergelar Kanjeng Sunan Mangkurat Mas atau Amangkurat III. Raja baru ini tidak disukai rakyat karena memiliki tabiat yang tidak baik. Suka main perempuan, pemarah, pendendam dan tinggi hati. Hal ini juga yang membuat sejumlah pangeran berkoalisi membentuk kekuatan tandingan untuk mengangkat Pangeran Puger menjadi raja. Pemberontakan dilancarkan di Banyumas, namun Pangeran Puger dapat ditangkap kemudian dipertontonkan di alun-alun Surakarta.

Atas perlakuan itu Pangeran Puger menyimpan dendam kepada keponakannya itu. Setelah berhasil meloloskan diri, Pangeran Puger lari ke Semarang untuk meminta bantuan Kompeni. Pada tahun 1704 M oleh Kompeni Pangeran Puger diakui sebagai Pakubuwono I dengan gelar Kanjeng Susuhunan Senopati Ing Ngalaga Ngabdurachman Sayidin Panatagama. Dengan situasi seperti ini Mataram memiliki dua raja yang berakibat timbulnya perpecahan internal kerajaan.

Setelah bertahta Pakubuwono I mengirim pasukan untuk menyerang Kartosuro. Akibat serangan ini Amangkurat III melarikan diri dan memilih bergabung dengan Untung Suropati di Jawa Timur. Pada tahun 1706 M VOC berhasil membunuh Untung Suropati dan menangkap Amangkurat III yang selanjutnya dibuang ke Ceylon Sri Langka. Amangkurat III meninggal tahun 1734 M di sana. Perang ini disebut sebagai Perang Suksesi Jawa I.

Pakubuwono I wafat pada tahun 1719 M setelah 15 tahun bertahta. Selanjutnya tahta Mataram diserahkan kepada Pangeran Adipati Anom Mangkubumi. Raja Mataram ini bergelar Amangkurat IV. Namun pengangkatan ini menimbulkan api perselihan baru karena beberapa putra Pakubuwono I dari istrinya yang lain juga merasa berhak atas tahta Mataram.

Akhirnya mereka berkomplot dengan putra Untung Suropati. Bahkan Putra Amangkurat IV sendiri yang bernama Pangeran Hamengkunegoro ikut dalam koalisi tersebut. Perang keluarga ini kemudian disebut sebagai Perang Suksesi Jawa II. Terjadi tahun 1719-1723. Dengan bantuan Kompeni Amangkurat IV berhasil menumpas para pemberontak. Pada tahun 1727 M Amangkurat IV wafat.

Sebagai pengganti Amangkurat IV, diangkatlah Raden Mas Gusti Prabu Suyasa menjadi Raja Mataram yang saat itu usianya baru 16 tahun. Ia bergelar Pakubuwono II. Usianya yang muda dan sikapnya yang kurang tegas dalam menyelesaikan masalah kemelut keluarga istana dimanfaatkan beberapa pihak untuk menguasainya.

Pada masa pemerintahannya inilah terjadi peristiwa yang dikenal dengan istilah ‘Geger Pecinan’ yakni pembantaian etnis warga Cina oleh masyarakat Eropa di Batavia yang kemudian merembet ke sepanjang pantai Utara termasuk di wilayah Jawa Timur. Awalnya Pakubuwono II membantu orang-orang Cina menyerbu VOC di Semarang dan Kartosuro. Kompeni yang terpojok memilih bekerjasama dengan Adipati Cokroningrat IV yang punya kepentingan memisahkan Madura dari kekuasaan Mataram.

Di lain pihak Kompeni mencurigai Pakubuwono II telah membantu orang-orang Cina, maka demi mencari aman Pakubuwono II berbalik menyatakan kesetiaan dan meminta dukungan kepada VOC. Sebagaimana dalam politik bahwa tidak ada kawan yang abadi, pada akhirnya Cakraningrat IV justru berbalik memerangi VOC karena sudah tidak sejalan untuk meraih impiannya.

Campur tangan VOC membuat kedaulatan Mataram tergadaikan dan memicu konflik internal kerajaan semakin memuncak. Atas bantuan VOC, Pakubuwono II dapat memadamkan pemberontakan. Namun sebagai bayarannya dia harus kehilangan daerah Pesisir Utara Jawa menjadi milik VOC.

Karena Keraton Kartosuro telah hancur akibat perang, maka ibu kota kerajaan dipindah ke desa Sala yang berada di tepian Bengawan Solo. Proyek ini selesai pada 17 Februari 1745 dan diberi nama Surakarta Hadiningrat dan Pakubuwono II kembali bertahta dengan gelar Panembahan Projoyadi. Pangeran Mangkubumi akhirnya berdamai dengan Pakubuwono II, namun saudara-saudara Sultan yang lain tetap memusuhi Pakubuwono II karena kecewa dengan kebijakannya.

Permusuhan juga dilancarkan oleh Raden Mas Said. Pangeran Mangkubumi ditugasi untuk meredam pemberontakan itu. Tanah Sukowati menjadi iming-imingnya. Meskipun awalnya Pangeran Mangkubumi berhasil mengusir Raden Mas Said dari daerah yang dikuasainya namun pada akhirnya justru keduanya membentuk sekutu karena janji Pakubuwono II diingkari. Bahkan Raden Mas Said dinikahkan dengan putri Mangkubumi. Berhimpunnya dua kekuatan ini merepotkan VOC.

Pakubuwono II jatuh sakit pada akhir tahun 1749 M. Dalam kondisi seperti itu dia dipaksa untuk menyerahkan seluruh kekuasaannya kepada VOC. Akhirnya Pakubuwono II wafat pada Rabu Legi, 7 Sura tahun Alip 1675 (1749 M) setelah berkuasa selama 24 tahun. Keadaan ini dimanfaatkan kaum pemberontak untuk mengangkat Mangkubumi sebagai raja Mataram di Ngayogyakarto.

Tetapi pemerintahan Mataram di Yogyakarta ini tidak diakui oleh Kompeni. Pangeran Adipati Anom yang bernama Raden Mas Suryadi yang tidak lain adalah putra Pakubuwono II kemudian diangkat oleh VOC sebagai raja dengan gelar Pakubuwono III.

Pakubuwono III saat memerintah Mataram harus menghadapi perlawanan Pangeran Mangkubumi yang saat itu sudah menobatkan diri sebagai raja di bekas Mataram lama dan Raden Mas Said sebagai Patihnya.

Mangkubumi menyatakan keinginan berdamai dengan VOC dan meminta VOC mengakui dirinya sebagai Raja Mataram. Hal ini membuat VOC terjepit karena sudah terlanjur mengangkat Pakubuwono III menjadi raja Mataram. Akhirnya pecah perang Suksesi Jawa III selama 3 tahun. Taktik perang gerilya dari Mangkubumi berhasil membuat VOC kewalahan.

Sementara Raden Mas Said memilih bergerilya di bagian timur wilayah Yogyakarta. Madiun hingga Ponorogo berhasil ditaklukkan, lalu ia mengangkat para bupati di daerah yang ditaklukkannya. Sayangnya langkah yang diambilnya membuat Mangkubumi merasa dilangkahi.

Segera Mangkubumi memecat para bupati yang diangkat Mas Said. Tindakan Mangkubumi ini pada akhirnya membuat Mas Said tersinggung dan memusuhi ayah mertuanya sendiri itu. Rasa sakit hatinya itu semakin membulatkan tekat Mas Said atau Pangeran Samber Nyawa untuk menjadi raja Mataram. Sampai di sini ada orang yang sama-sama berambisi menjadi raja Mataram, yaitu, Pakubuwono III, Mangkubumi dan Raden Mas Said.