Sejarah Desa Socokangsi

foto: JadwalTravel

Melanjutkan artikel tentang Desa Socokangsi sebelumnya, sebagai utusan keraton Yogyakarta sekaligus orang kepercayaan Diponegoro yang gugur dalam sebuah peperangan melawan penjajah, tentu Somodirjo dan para pengikutnya akan selalu dikenang jasa baik dan aksi kepahlawanannya.

Tidak heran jika sampai saat ini, makam ini masih sering diziarahi para peziarah dari berbagai daerah. Bahkan sejak penulis menjadi Kepala Desa Socokangsi, setiap malam Jumat Kliwon diadakan Tahlilan di arena pemakaman untuk mendoakan sekaligus mengenang jasa Kyahi Somodirjo serta para pengikutnya -terutama bagi desa Socokangsi dan sekitarnya.

Para peziarah yang datang selain dari para dzuriyah maupun masyarakat umum, tidak jarang utusan keraton Yogyakarta maupun Surakarta juga berziarah ke makam Kyai Somodirjo. Lahirnya desa Socokangsi juga tidak lepas dari kisah Kyai Somodirjo dan para peziarah dari utusan keraton tersebut.

Menurut cerita yang diyakini oleh masyarakat Socokangsi, bahwa pada suatu saat Keraton Yogyakarta dan Surakarta merencanakan untuk mengadakan ziarah secara bersama-sama. Lantas para utusan dari kedua keraton tersebut mengadakan janji bertemu di suatu tempat di sekitar makam Kyai Somodirjo. Ketika sampai pada waktu yang disepakati kedua rombongan pun bertemu di sebuah desa. Setelah berkumpul, mereka kemudian segera menuju ke lokasi makam Kyai Somodirjo.

Di tengah perjalanan menuju pemakaman, mereka bertemu dengan seorang anak kecil (versi lain menyebutkan rakyat kecil) dan bermaksud bertanya nama desa dan arah ke makam. Ketika salah seorang dari rombongan bertanya tentang nama desa tersebut, si anak kecil inipun menjawab “Desa Motamu”. Mungkin karena kurang jelas, prajurit lain kemudian bertanya lagi dan dijawab dengan jawaban yang sama “Desa Motamu”.

Jawaban si anak kecil ini justru berbeda dengan apa yang didengar sang prajurit. Menurut pendengaran sang prajurit, si anak tersebut menjawab dengan jawaban “Desa Matamu”. Jawaban ini dianggap sebagai sebuah umpatan, melecehkan prajurit kerajaan dan melanggar kesopanan sehingga sang prajurit marah. Maka terjadilah insiden berdarah yang berakibat si anak kecil meninggal dunia.

Ketika para utusan tersebut tahu bahwa desa tersebut bernama “Motamu” mereka pun menyesal dan kemudian diadakan perdamaian dengan pihak keluarga dan warga setempat. Pada kesempatan itu pula disepakati bahwa agar ke depan tidak lagi menimbulkan salah persepsi dari nama desa Motamu, mereka bersepakat untuk mengganti nama desa sekaligus untuk mengenang peristiwa tersebut.

Disepakatilah nama desa baru sebagai pengganti “Motamu” adalah Desa “Socokangsi”. Soco artinya mata bambu (mata yang terdapat pada setiap ruas bambu).Sedangkan Kangsi (atau kangsen) artinya tempat pertemuan. Socokangsi berarti tempat bertemunya prajurit Yogyakarta dan Surakarta, dimana disitu terdapat banyak pohon bambu. Sejak saat itu desa Motamu berganti menjadi desa Socokangsi.

Potensi Socokangsi

Melihat potensi sejarah dan kekayaan alam Socokangsi, Pemerintah Desa kedepan akan lebih serius dalam menggarap berbagai potensi yang dimiliki. Adapun bambu akan dijadikan ikon desa sesuai dengan kesejarahan serta manfaat maupun nilai filosofis dari bambu itu sendiri.

Potensi lain Socokangsi – selain adanya makam mbah Buto Ijo, desa ini juga memiliki kekayaan alam yang melimpah, diantaranya;

  1. Kali Gethuk

Kali/sungai ini memiliki karakteristik tebing yang sangat indah serta aliran air yang jernih dan tenang. Bahkan karena keindahannya sungai ini seringkali dijuluki Green Canyon Jatinom;

  1. Sisa bangunan pabrik coklat

Sebagai daerah subur, tidak heran jika di Socokangsi dan wilayah Jatinom pada umumnya banyak terdapat sisa-sisa bangunan pabrik yang didirikan oleh belanda.

Sementara di Socokangsi masih terdapat Cerobong, Gapura maupun rel kereta api sisa kejayaan pabrik coklat waktu itu.

  1. Goa

Goa yang berada diatas kali Gethuk ini, dilihat dari luar ukuran hanya sekitar 1 x 0,5m. Tapi ketika masuk kedalam, goa ini luasannya mencapai kurang lebih 2 sampai 3m.

Belum ada penelitian dan penjelasan detail terkait goa ini, sehingga masyarakatpun seringkali menyebut goa ini sebagai goa Jepang. Meskipun kemungkinan goa ini sudah ada sejak sebelum pendudukan Jepang.

  1. Sumur tua

Sumur tua yang berbentuk persegi ini diduga ada sejak jaman era mataram. Hal ini dibuktikan, pada bagian bawah sumur pernah dijumpai batu kotak semacam batu candi. Sumur ini juga memiliki 2 terowongan dibagian bawah, yang satu terowongan menuju goa diatas kali Gethuk (goa jepang) sedang satu terowongan lagi menuju sungai. Tapi karena dianggap berbahaya, saat ini tidak lagi diketahui bagaimana keadaan kedua terowongan tersebut.

Selain beberapa potensi diatas, tentu nilai gotong royong, keramahtamahan penduduk, berbagai tradisi serta kesenian khas masyarakat desa masih bisa ditemui di desa Socokangsi.(Wingsang Trenggono)*

*Penulis adalah Kepala Desa Socokangsi, Jatinom, Klaten.