Sains, Kegagalannya, dan Pascamodern

Foto: ITS

Dalam keberjalanan dan dinamika perkembangan ilmu pengetahuan, muncul perubahan mendasar yang ada dalam tatanan kehidupan merupakan hal yang wajar. Bak revolusi, yang terkadang menunjukkan penjungkirbalikkan, perubahan mendasar dalam tata nilai—yang usang tergantikan menjadi yang lebih progresif dan revolusioner.

Hal itu sebagaimana pernah digambarkan oleh Thomas Samuel Kuhn dengan konsep pergeseran paradigma (shifting paradigm)—bahwa tatkala ada sebuah guncangan dalam sebuah paradigma yang ada di masyarakat ilmiah, yang kemudian memnculkan adanya anomali dan krisis, di sana berpeluang munculnya paradigma baru yang menggantikan paradigma yang lama.

Paradigma itu sendiri dapat dipahami sebagai sebuah cara pandang dalam melihat dunia (worldview) serta menjadi panduan cara main kelompok ilmuwan terhadap apa yang dianggap penting dan relevan untuk diteliti kaitannya dengan ilmu pengetahuan. Dimana, di kelompok ilmuwan tak sebatas berbicara dalam menentukan maupun menetapkan aspek teoretis yang perlu dibangun, melainkan dari itu ia perlu memposisikan sebagai apa dalam sesuatu. Hal itu dalam peradaban ilmu pengetahuan saat ini, tentulah sangat relevan.

Terlebih dalam hal ini, cara pandang yang berkembang terhada kehidupan dunia berupa logosentris, ilmu pengetahuan sebagai pusatnya. Pada konteks ini, keberadaan ilmu-ilmu alam (sains) menunjukkan sebagai sebuah kerangka teori, ia terus mencoba untuk menghadirkan analisis secara mendalam akan pertanyaan-pertanyaan terhadap fenomena yang ada di alam semesta berupa jawaban baik itu: hipotesis, kerangka teoretis, dan eksemplar formula. Situasi tersebut yang terkadang kemudian melahirkan persepsi bahwa hanya sains lah yang relevan dalam mencari jawaban atas kuldesak yang dihadapi manusia.

Akan tetapi, anggapan itu sejatinya keliru. Keyakinan yang terlalu berlebihan hanya berbuah munculnya ancaman terhadap perkembangan ilmu pengetahuan itu sendiri. Narasi seperti itu setidaknya pernah menjadi catatan dari seorang yang pernah menjadi Guru Besar Ilmu Geofisika di Institut Teknologi Bandung, M. T. Zen. Ia menuliskan analisis bahwa perkembangan ilmu-ilmu alam yang sedemikian revolusioner—utamanya sejak abad ke-20 kerap hanya dimaknai sempit, tidak lain sebagai obat pelipur lara atau dengan istilah “panacea”.

Lewat bunga rampai yang berjudul Sains, Teknologi dan Hari Depan Manusia (Gramedia, 1981) tersebut, Zen mengutarakan beberapa latar belakang kenapa kemudian sains hanya dipersepsikan sebagai pelipur lara. Masing-masing meliputi: dilampauinya batas daya tampung bumi, kompleksitas dan spesialisasi dalam sains dan teknologi yang terlalu jauh, timbulnya masyarakat konsumen, dan ancaman bahaya nuklir besar-besaran. Realitas tersebut setidaknya memberikan sedikit gambaran akan situasi burruk yang dihadapi oleh keberadaan dan keberjalanan sains.

Pascamodern sebagai Kritik

Kita kemudian diingatkan akan keberadaan pascamodern, yang tidak lain adalah sebagai kritik atas kejumawaan dalam cara pandang sains yang dianggap satu lokus keilmuan yang identik dengan modernitas. Pascamodern hadir dengan melakukan penelitian multidisipliner dengan pendekatan kritis baik berupa: fenomenologi, hermeneutika, analisis bahasa, vitalisme, dan lain sebagainya.

Terlebih dalam hal ini, modernitas dimaknai dengan sempit—kehidupan dengan diwarnai berbagai kemajuan dan inovasi dan alat canggih. Memang, sah-sah saja ketika kemudian sains diidentikkan dengan keberadaan modernitas, sebab sains bekerja penuh dalam wilayah tersebut. Hanya saja, di lain itu muncul sebuah ketimpangan yang menunjukkan kegagalan sains dalam mengelola dinamika perubahan secara menyeluruh. Itu terbukti saat kemajuan sains dengan inovasi teknologinya dalam realitas sosial dianggap sebagai dewa penolong yang menyebabkan ketergantungan.

Pada akhirnya pendambaan terhadap sains yang berlebihan itu memperlihatkan hal-hal yang sebenarnya tidak diinginkan, katakanlah mengenai keterasingan diri (alienasi) akan kemajuan sains, peningkatan budaya konsumen dan berketergantungan, serta hilangnya cara pandang bahwa sains sejatinya adalah ilmu yang berperan bagi peningkatan martabat umat manusia.

Celakanya kemudian, sains yang berkembang berupa sains modern dengan watak yang netral—tak berprasangka, tidak memberikan penilaian baik dan buruk, serta bebas dari kepentingan manusiawi melahirkan keberadaan saintisme, yang tidak lain merupakan pemutlakan akan keberadaan sains yang melahirkan dikotomi ilmu. Saling mendikotomikan yang lain.

Dalam sejarah kritik atas kehadiran sains ditandai dengan keberadaan perang ilmu yang berlangsung pada tahun 1995 saat beberapa cendekiawan menerbitkan jurnal Social Text dengan edisi khusus yang bertajuk Science Wars. Yang mana, tujuan penerbitan jurnal tersebut untuk menjawab berbagai serangan yang hadir dari para pengkritik ilmu terhadap feminisme, multikulturalisme, dan diskursus perihal sosial. Ada sebuah tulisan yang dituliskan oleh fisikawan, Alan Sokal dengan menggabungkan teroi mekanika kuantum dan relativitas umum yang pada akhirnya hanyalah bualan yang dikenal dengan Paradoks Sokal—teorinya tak saling sesuai untuk menghasilkan ilmu posmodern dan ilmu yang membebaskan.

Gejala tersebut setidaknya penggambaran atas pengaruh keberadaan filsafat positivisme logis yang lahir di Wina pada waktu 1927. Positivisme dalam telaah F. B. Hardiman lewat esai Penelitian dan Praksis (1992) menekankan akan persoalan besar yang menjadikan keberjalanan sains sebatas mempertahankan status quo mengenai konfigurasi masyarakat yang ada. Penelitian yang dihadirkan mengharuskan pengetahuan tentang das Sein (apa yang ada), bukan tentang das Sollen (apa yang seharusnya ada). Pengetahuan pada akhirnya mudah dimanipulasi saat berhadapan dengan realitas sosial.

Saat dunia ilmu dan pengetahuan terus berkembang, kita masuk dalam zaman tafsir dengan situasi tak mungkin mengelak keberadaan tafsir. Sains yang disinyalir oleh sebagian kalangan diakui sebagai ilmu pengetahuan untuk memberikan jawaban atas berbagai persoalan yang dihadapi oleh umat manusia, baik itu dalam wabah, kelaparan, farmasi, hingga teknologi termajukan. Pertanyaaannya adalah apakah sains dapat berdiri sendiri? Tentu tidak. Ia membutuhkan koneksi lain dalam disiplin ilmu-ilmu pengetahuan dalam memberikan pertimbangan akan ilmu pengetahuan, tanggung jawab sosial dan etika, hingga menjadikannya sebagai ilmu pengetahuan yang syarat dengan upaya membebaskan.(Joko Priyono)*

*Penulis sering bergiat di Lingkar Diskusi Eksakta