Rasionalisasi Kolektif Pertanian Podo Duwe Karanganyar

Foto: Vovworld.vn

Istilah petani dalam sistem ekonomi mempunyai pengertian: sekelompok produsen penghasil produk pertanian untuk kebutuhan masyarakat. Mesti diakui bahwa pertumbuhan bangsa ini tidak terlepas dari kontribusi petani desa sebagai penyuplai bahan pangan (1). Istilah petani memiliki pengertian luas dan beragam. Tidak hanya menyangkut profesi yang berkaitan dengan tanah, tetapi sering kali mempunyai kaitan dengan suatu sistem pertanian, ekonomi, sosial, budaya ideologi dan ketimpangan lainnya dalam ranah agraris.

Tidak hanya sektor pertanian yang tahun mengalami ketimpangan, pada kurun waktu satu tahun belakangan ini akan tercatat sebagai sebuah babak penting dalam sejarah negeri ini. Ketimpangan atas situasi dan kondisi saat ini berakibat pada pemberhentian terhadap sejumlah besar pekerja dari satu-satunya sumber penyambung hidupnya. Sebuah new normal yang diterapkan ke dalam aspek kehidupan manusia. Kondisi ini menurut saya adalah potongan histori yang suatu saat kita sebut sejarah. Begitupun dalam ingatan seorang anak petani di Kauman, Jumapolo, Karanganyar, Jawa Tengah, Fatimah. Salah satu dari sekian ribu tenaga industri yang memilih bertani setelah industri tempat ia bernaung mengalami resesi akibat situasi pandemi tahun ini.

Beberapa anak petani beranggapan bahwa aktivitas tani adalah salah satu bagian dari jalan dia merawat tanah atas titipan orang tuanya. Namun Fatimah yang merupakan salah satu bagian dari ribuan tenaga industri mengaku dilema atas kembalinya ke desa dan mengolah lahan pertanian. Latar belakang demikian membuatnya mencetuskan pengembangan pertanian berbasis kolektif dengan nama Kolektif Tani Podo Duwe. Ruang pembelajaran bagi petani-petani muda yang mempunyai etos belajar sistem pertanian yang mencakup sistem produksi dan sistem distribusi.

Kolektif Tani Podo Duwe menjadi lapangan pembelajaran baru bagi Fatimah. Pasalnya setelah lulus sekolah formal, Fatimah langsung terjun ke ranah industri. Walaupun dahulu dia sempat dibesarkan dari keluarga petani, tapi ada beberapa hal yang mengharuskannya membentuk Kolektif Tani Podo Duwe, sebuah ruang kolektif yang secara keikutsertaannya melalui mekanisme pendaftaran. Dia merintis ruang pembelajaran yang dibangun dengan harapan bisa menampung segala rupa dalam bentuk dan tidak berstandar pada kelas sosial masyarakat secara perekrutannya.

Fatimah yang awalnya mempunyai pengalaman dalam kegiatan organisasi gerakan, tidak habis akal ketika dia berhasil mengumpulkan lebih dari 50 orang yang berasal dari berbagai daerah untuk belajar budidaya pertanian berkelanjutan dengan sistem pertanian organik. Banyak para pendaftar yang notabene bukan dari keluarga petani ikut dalam kolektif tani ini, alasan mereka ikut dalam kolektif ini adalah mengapa petani di negeri ini yang mempunyai lahan sekalipun jauh dari kata sejahtera. Petani selama ini masih dipermainkan onkum-oknum yang tidak tanggungjawab ditambah regenerasi dari pemuda yang enggan belajar bertani, disisilain pemuda/i yang disekolahkan itu berasal dari petani yang menjual tanahnya untuk menyekolahkan anaknya menjadi sarjana.

Lain dengan Fatimah, baginya tanah atau sumber daya agraria dalam suatu masyarakat menurutnya tidak hanya menjadi salah satu faktor produksi dari kaum tani, lebih dari itu nilai luhur kita telah mengajarkan bahwa tanah juga menyangkut aspek sosial, spiritual dan politik. Oleh karena itu masalah tanah tidak semata-mata merupakan masalah hubungan antara manusia dan tanah.

Hal yang membedakan antara sistem yang satu dengan sistem lainnya hanyalah bagaimana fungsi, mekanisme pengaturan, dan cara pandang terhadap tanah itu sendiri. Dalam budaya masyarakat adat, pengelolaan atas tanah tidak dimiliki secara pribadi, tetapi secara kolektif. Tanah merupakan alat produksi dan hasilnya digunakan secara kolektif. Begitupula dalam pendekatan neopopulisme, tanah dianggap sebagai alat produksi yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat petani.

Scott (1989:62) melihat petani dari segi moral yang hidup dalam pola subsisten-subsisten (2). Hal ini sekaligus menjelaskan model normatif yang menggambarkan kehidupan ekonomi petani yang dekat dengan pola hubungan sosial yang pantas, wajar dan adil. Prinsip norm of reciprocity dan jaminan subsistensi minimal berada dalam pola hubungan itu. Redfield (1985:88) menggambarkan sebagai suatu “kehidupan yang baik” dari nilai-nilai petani yang berlaku. Menurut George Stuart, seperti dikutip Redfield (1985:90) salah satu pola hubungan itu adalah sikap intim dan hormat terhadap tanah yang menganggap pekerjaan pertanian sebagai pekerjaan yang santun dan kegiatan “komersial” bukan satu-satunya tujuan utama (3).

Dalam teori ekonomi dualismenya, Boeke (1953) yang melakukan pengamatan terhadap petani di Jawa, bahwa nilai dan sikap limited needs merupakan prinsip moral yang berlaku umum di kalangan petani Jawa. Menggarap sawah tidak diangap sebagai kegiatan ekonomi untuk mencari ‘keuntungan’ tetapi prioritas utama mencukupi keperluan hidup. Pendapat tersebut berpangkal pada pemikiran bahwa tata nilai sosial-budaya petani yang tidak rasional-ekonomis sangat menentukan perilaku petani yang lebih banyak bertentangan dengan sifat kegiatan yang diperlukan dalam sistem ekonomi kapitalis modern.

Keputusan-keputusan ekonomis petani, seperti prinsip mendahulukan selamat (safety first), merupakan indikator bahwa orientasi subsistensi sangat mendasari pola hidup petani. Merujuk pada pendapat Scott, petani beranggapan bahwa pertanian bukanlah suatu usaha ekonomis untuk memperoleh keuntungan besar, melainkan suatu pertanian subsistens yang bertujuan menghasilkan pangan. Pada hakekatnya, persoalan keuntungan yang diperoleh dari investasi di setiap lahan maupun produktivitas tenaga kerja, bagi petani, bukan merupakan prioritas karena kegiatan mencari keuntungan itu justru dianggap mengacaukan rutinitas subsistensi.

Hayami (1987:23) cenderung menganggap; walaupun petani desa mengutamakan nilai subsisten namun juga mengenal manifestasi dari istilah homo oekonomicos yang akan terus berusaha memaksimalkan sumberdaya dan kemakmuran tanpa memperdulikan moral pedesaan. Artinya, pada tatanan petani modern berlaku prinsip rasional ketika akan mencari keuntungan. Petani cenderung bergerak dalam ranah kapital untuk mencukupi segmentasi industri.

Kolektif Tani Podo Duwe yang dirintis Fatimah dan kawan-kawan berusaha menyadarkan kita ihwal pembelajaran menanam dan menuai. Sebuah proses pembelajaran yang mengutamakan prinsip subsiten dan moralitas. Bertani dengan prinsip mendahulukan kebutuhan domestic sebelum kemudian mencukupi kebutuhan pasar. Lebih dari itu ruang Kolektif Tani Podo Duwe menurut hemat saya sedikit banyak akan menyadarkan setelah kita mengetahui alur sistem produksi sampai distribusi komoditi membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Artinya, kita akan disadarkan bahwa hal yang menghambat kemajuan peradaban kita salah satunya adalah sikap kita menghargai pangan, khususnya penyadaran terhadap penduduk di negeri yang termasuk dalam dua negara penyumbang food waste skala internasional, dewasa ini (4).

PUSTAKA:

(1). 1998. Petani dan Konflik Agraria. Yayasan AKATIGA Bandung.

(2). 1989. Moral Ekonomi Petani. Pergolakan dan Subsistensi di Asia Tenggara. Jakarta : LP3ES

(3). 1985. Masyarakat Petani dan Kebudayaan. Jakarta : Rajawali

(4). Laporan “Fixing Food: Towards the More Sustainable Food System” : The Economist