Pesona Kampoeng Batik Laweyan Tak Lekang oleh Waktu

Foto: Pegipegi.com

Laweyan– Kampoeng Batik Laweyan merupakan kampung batik tertua di Indonesia. Industri batik tulis sudah berkembang di Laweyan sejak abad ke 14, semasa pemerintahan Keraton Pajang.Pada tahun 1900an ditemukan teknik batik cap, sehingga muncullah juragan-juragan batik yang melegenda. Artefak kejayaan industri batik dengan mudah ditemukan di sini yang menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan, akademisi maupun kru media domestik dan internasional.

Kampoeng Batik Laweyan juga erat dengan keberadaan cagar budaya peninggalan Keraton Pajang hingga masa kejayaan industri batik Laweyan sekitar tahun 1900-1960an. Masa kejayaan industri batik di Laweyan tersebut sangat erat dengan legenda Mbok Mase dan Mas Nganten, yaitu sebutan bagi para juragan batik yang sangat disegani karena kesuksesannya dalam bisnis batik. Mereka juga dikenal dengan rumah-rumahnya yang mewah bak istana, rumah-rumah itu kini berubah fungsi menjadi showroom untuk menjual batik.

Di Kampoeng Batik Laweyan ini, khususnya di sepanjang Jalan Sidoluhur dan gang-gang di sebelahnya terdapat puluhan industri batik serta showroom yang siap memanjakan para pengunjung dengan pilihan variasi batiknya yang indah, baik nuansa moderen maupun tradisional. Salah satu daya tarik batik di sini adalah selain memiliki kualitas dan mutu tinggi, harganya pun sangat terjangkau.

Sentra Batik Laweyan tercatat sebagai pelopor industri batik moderen yang “ramah lingkungan” sejak tahun 2006 dengan mengaplikasikan Instalasi Pengolah Air Limbah secara komunal. IPAL komunal pertama di Indonesia ini dibangun atas bantuan GTZ dari Jerman dan BLH Surakarta. Sejak saat itu banyak akademisi, siswa sekolah, pemda dan komunitas UKM yang mengadakan studi banding terkait pengelolaan IPAL komunal. Keberadaan IPAL ini memberi inspirasi dan motivasi daerah lain untuk segera berbenah menuju terbentuknya kawasan industri ramah lingkungan.

 

Diolah dari berbagai sumber.