Pengrajin Pisau dari Karangmalang Sragen

Foto: PPID Sragen

Karangmalang– Potensi daerah bisa mencuat dari aktivitas warganya. Kabupaten Sragen memiliki banyak warga yang ulet dalam menghasilkan kerajinan tangan dari industri rumah tangga. Kerajinan tangan yang dihasilkan oleh salah satu warganya menjadi salah satu potensi pengembangan ekonomi lokal. . Kerajinan tangan yang dimaksud adalah karya pisau yang dikaryakan oleh Widodo warga Purwosar, Jurangrejo, Kecamatan Karangmalang Sragen.

Bertahun-tahun lamanya, Widodo, warga Rt 5 Purwosari, Jurangjero, Kec. Karangmalang Sragen menjadi pengrajin pisau. Dengan modal awal sekitar 3 juta rupiah, kini Widodo mampu memutar uang 1,5 juta rupiah perhari. Dibantu dengan 3 orang pekerja, produksi pisau mampu mencapai 4 kodi perhari. Jenis produk yang dihasilkan pun beragam, terdapat dua jenis kelompok besar, yaitu pisau jenis Cor dan pisau jenis Selendang.

Sebagai contoh, untuk pisau jenis Cor, produk yang dihasilkan antara lain Sabit, Kapak, Parang, sedang untuk jenis selendang, produk yang dihasilkan adalah bermacam-macam bentuk pisau dapur. Bahan baku untuk pisau-pisau tersebut didatangkan khusus dari luar daerah. Untuk bahan pisau Cor, Widodo mengambil dari Klaten, sedangkan pisau Selendang didatangkan dari Kudus.

Pisau Cor berasal dari bijih besi yang kemudian dicetak sesuai dengan bentuk yang diinginkan, sedangkan pisau selendang berasal dari gergaji bekas. Proses pembuatan pisau sendiri tidaklah mudah, untuk membuat pisau selendang jenis pisau dapur, langkah pertama yang dibuat adalah pembentukan dengan mengiris lempengan bahan, kemudian pemberian tangkai, biasanya tangkai dibuat dari kayu bekas usuk. Setelah itu dilakukan penggerindaan, kemudian penghalusan atau pengasahan untuk ketajaman pisau, dan terakhir pemberian minyak agar tidak mudah berkarat.

widodo mengakui musim sangat mempengaruhi tingkat permintaan barang, apabila musim panas permintaan dan penjualan pun bagus, dan bila musim penghujan, permintaan pun akan berkurang. Hal ini disebabkan pemasaran pisau-pisau ini banyak diemban oleh pedagang keliling, yang baru bisa maksimal berjualan di musim panas. Kendala inilah yang mesti dihadapi oleh Widodo, yakni pemasaran di musim penghujan yang sangat sulit. “Kami memproduksi dua jenis kualitas, meskipun kualitas pertama sangat bagus mutunya, namun karena harganya yang lebih mahal jadi pemasarannya sulit, pembeli kebanyakan memilih kualitas nomor dua, karena harga yang murah,” ungkap Widodo

 

Add Comment