Pasar Gedhang Temuireng, Lahan Perekonomian dan Identitas Desa

 

Aktivitas pasar pisang. AGUNG IMAJI

Pada tahun 1970-an, beberapa warga menggelar dagangan berbagai hasil pertanian. Tempat menggelar tersebut persis di pinggir jalan poros desa sekaligus menghubungkan antar desa di kanan kirinya. Awal mula penggelar hanya hitungan jari. Lalu seiring berjalannya waktu, kian bertambah para penjaja dan pengunjung hingga akhirnya menarik banyak orang untuk bertransaksi di tempat ini. Menurut informasi para sesepuh desa, proses tersebut membentuk sebuah pasar tradisional yang kini populer dikenal dengan nama “Pasar Gedhang Temuireng”.

Berada di wilayah Desa Temuireng, Kecamatan Jatinom, Kabupaten Klaten Pasar Gedhang hadir setiap pasaran Jawa Wage dan Legi. Di sana puluhan hingga ratusan pisang berbagai jenis berjajar di sepanjang jalan Temuireng. Lokasi pasar persis di Jalan Poros Desa, tepatnya di jalan kabupaten. Jika dilihat statusnya, posisi pasar ini terbilang cukup strategis.

Tidak ada yang persis bisa mengingat, bagaimana pasar tersebut menjadi pasar dengan komoditas utama barang dagang adalah pisang, yang pasti pasar ini terus berjalan hingga sekarang dan tumbuh membaik.

Berbeda dengan awal mula pasar terbentuk, penjaja pisang saat ini bukan hanya warga lokal desa saja, namun ada yang datang dari luar daerah. Menurut informasi para pedagang, ada pedagang dari Grobogan, Jawa Tengah yang setiap pasaran datang dengan kendaraan pick up yang dipenuhi Pisang.

Seperti tempat lainnya, pasar tradisional selalu mempunyai keunikan tersendiri. Di Pasar Gedhang Temuireng, memiliki kesepakatan tidak tertulis dalam menjual pisangnya. Jika setandan pisang masih diberdirikan oleh pemiliknya, berarti pisang tersebut belum laku terjual. Sebaliknya, kalau sudah berada pada tumpukan, berarti pisang tersebut sudah laku terjual.

Dampak Ekonomi

Pasar memiliki peran besar dalam perputaran uang. Di Pasar Gedhang Temuireng sendiri perputaran uang pada setiap pasarannya cukup besar. Berdasar estimasi pengelola mencapai angka 30 juta Rupiah pada tahun 2019.

Keberadaan pasar gedhang Temuireng telah membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat Temuireng. Belasan warga menjadi pedagang dipasar ini sejak lama. Sebagian lagi menjadi tengkulak, dengan cara kulakan dari wilayah timur klaten hingga Yogyakarta, untuk kemudian dijual lagi di pasar ini.

Pekerjaan ini menjadi alternatif baru bagi sebagian warga Desa Temuireng, sebagian besar mereka sebelumnya berprofesi sebagai tukang atau pekerja di proyek bangunan. Opsi ini dipilih karena mainset berubah seiring perkembangan jaman. Dilihat dari sisi hasil mungkin tidak berbanding jauh, namun pada efek kemandirian pekerjaan, berdagang pisang bisa menjadi alternatif.

Identitas Desa

Di beberapa tempat terdapat pasar sapi, pasar kambing, pasar burung dan sebagainya. Namun tidak banyak di tempat lain pasar berkarakter homogen yang menyajikan komoditas pisang di dalamnya. Keunikan ini milik warga masyarakat Desa Temuireng.

Pola dan struktur beredarnya pisang memiliki nilai keunikan pula. Pisang yang awalnya ditanam ditanah jauh dari Temuireng, diangkut oleh pedagang, dibeli oleh pedagang lain untuk kemudian dipasarkan lagi di daerah pisang ini ditanam. Kesimpulan sederhananya, pisang dari pasar gedhang Temuireng punya daya tarik tersendiri. Sistem pasar yang sederhana, namun tidak mudah dicerna dengan logika.

Pasar Gedhang beserta keunikannya merupakan hadiah sekaligus hasil jerih payah para pendahulu Desa yang berhasil menyesuaikan pasar dengan lingkungan.

Jika orang Jatinom menyebut pasar gedhang, sudah pasti yang dimaksud adalah Temuireng. Maka pekerjaan rumah saat ini adalah Jika orang menyebut Temuireng, dia adalah Pasar Gedhang Temuireng. Pekerjaan rumah tersebut menjadi milik semua elemen masyarakat desa, yang harus mendapat dukungan penuh dari Pemdes (Pemerintah Desa) melalui semua potensi yang mampu dikerahkan.

Dari pekerjaan rumah tersebut ada dua hal yang akan dicapai. Pertama, sebagai upaya mempertahankan pasar tradisional ditengah pasar modern yang berkembang pesat. Pasar gedhang Temuireng terawat, otomatis belasan warga Temuireng yang mencari rejeki disana akan mampu mempertahankan perekonomiannya. Kedua, pasar ini dapat mejadi identitas Desa Temuireng. Identitas bermakna sebagai nilai historis Desa membangun dari masa ke masa. Makna identitas pada sisi yang lain terletak pada nilai kebudayaan yang muncul dari bangunan ini terdapat pada pasar tradisional dan keunikan pasar gedhang.