Optimisme Petani Singkong di Klaten

Foto: Febriyanto Soleh

Jatinom– Petani singkong (ubi kayu) di Klaten berharap dapat memperoleh hasil dari panen lahan perkebunan. Namun, harapan itu pupus dikarenakan harga jual di masa panen ini cukup rendah. Bahkan jika dibandingkan dengan harga yang selama ini dialami petani adalah harga yang paling rendah.

“Harga Singkong pada Maret tahun 2020 sekitar Rp. 2.000 hingga Rp. 2.200 Per Kilonya, sekarang hanya Rp. 12.000 sampai Rp. 1400 Per Kilo” ungkap Tukiman salah satu Petani Singkong di Desa Temuireng.

Menurut informasi yang beredar di kalangan petani, pada musim 2019, harga masih cukup baik, di kisaran Rp. 2.400 hingga Rp. 2.500 Per kilonya. Namun menurun hingga saat ini.

Sujiyono, Kepala Desa Temuireng, Kecamatan Jatinom, juga menyampaikan hal serupa. Menurutnya, kondisi Pandemi memang membuat harga singkong semakin terpuruk. “Karena harga ditentukan pasar, hasil panen tidak bisa diharapkan lagi sejak ada pandemi Covid-19, padahal banyak yang menaruh harapan dari hasil panen tahun ini sebagai ganti lapangan pekerjaan yang berkurang” ungkap Sujiyono di temui ditengah kesibukannya.

Selain harga yang rendah, para petani juga dihadapkan pada persoalan kesulitan menjual hasil panennya, karena para pengepul sendiri kesulitan menjual kembali singkong dari petani. “Kalau sekedar murah petani sekitar sini sudah biasa merasakan, tapi parahnya lagi pengepul tidak lagi menerima singkong dalam jumlah banyak” tambahnya.

Bersama Perangkat Desa Temuireng, Sujiyono masih berfikir bagaimana Desa bersama BUMDes mampu menciptakan sistem pengelolaan maupun pemasaran untuk singkong lokal.

“Sementara ini kami masih mencoba konsep yang tepat untuk mewadahi hasil panen singkong warga masyarakat. Yang jelas saat ini masih belum ada produsen untuk pengolahan hasil singkong di Temuireng.” Pungkasnya. (Febriyanto Soleh)*

*Pegiat Sanggat Gedhek, Klaten