Museum Miri: Museum Purba Pertama di Kabupaten Sragen

Foto: Jatengprov.go.id

Miri– Kabupaten Sragen memiliki museum lawas yang menampilkan fosil-fosil dari masa lampau. Museum ini adalah museum pertama yang dimiliki masyarakat Sragen. Keberadaannya pernah menyerap antusiasme wisata di sekitar Kabupaten Sragen. Museum itu dinamai Museum Purba Miri.

Terletak di lingkungan SD Negeri Girimargo I Kecamatan Miri, Museum Purba Miri adalah museum daerah pertama yang dimiliki oleh Kabupaten Sragen. Jejak pembentukan museum ini awalnya berasal dari hasil penelitian Prof. Dr Francois Semah, seorang Geolog dari Museum National D’Histoire Naturelle Perancis dan Dr Tony Djubiantono dari Balai Arkeologi Jawa Barat.

Di dalamnya, museum ini berisi fosil dan temuan arkeologis berupa fosil binatang, alat batu, sedimen dan formasi stratigrafi yang mereka teliti sejak tahun 1982. Warisan purba ini banyak ditemukan di situs Kedung Cumpleng, Ngebung dan Kedung Kancil Kecamatan Miri. Terkhusus temuan dari Situs Ngebung, 919 buah di antaranya disimpan di Museum Sangiran.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sragen Drs Suwardi, MM melalui Kasi Cagar Budaya dan Permuseuman Anjarwati Sri Sayekti mengatakan, Museum yang masih dalam tahap pengembangan ini memiliki koleksi lebih dari 819 fosil. Disamping itu, masih terdapat beberapa kotak berisi seribu koleksi yang masih dalam tahap pencatatan dokumentasi. Proses ini memerlukan konsentrasi, ketelitian dan ketekunan.

Direncakanan, sampai bulan November 2018, Museum Purba Miri masih dalam tahap konservasi fosil sebelum masuk tahap penataan display. Keberadaan Situs Miri sangat penting dalam mendukung keberadaan Situs Sangiran. Usaha pelestarian dan kelanjutan Situs Miri tetap dilakukan , guna mengangkat potensi kearifan lokal.

Pada tahun 1992, Dr. Tony Djubiantono menerbitkan disertasi doktoral yang berjudul “Les derniers depots marins de la depression de Solo (Java Central, Indonesie)”, menandai mulai dikenalnya kawasan Miri sebagai situs paleontologi dan arkeologi dalam lingkup internasional.

Hasil penelitian ini jelas telah melewati perjalanan panjang selama nyaris satu dekade lamanya. Dalam menelusuri aspek-aspek geologis wilayah Depresi Solo bersama dua orang sahabatnya, Francois Semah dan Anne-marei Semah. Kedua orang ini, menginisiasi penelitian eksploratif di kawasan Miri. Misi mereka adalah memberi jejak awal mula terbentuknya daratan di wilayah selatan Perbukitan Kendeng, dinamika lingkungan mulai dari masa awal Pleistosen dan awal penghunian wilayah ini.

Lokasi Miri masih menyimpan banyak pertanyaan. Seperti, Apakah wilayah ini juga dihuni oleh manusia purba? Berapa umur fosil yang cukup banyak ditemukan di wilayah ini? dan, dimana posisi Miri dalam konteks prasejarah regional Pulau Jawa?

Museum Miri memegang peranan penting bagi kesinambungan penelitian mengenai asal-usul manusia dan dinamika perubahan lingkungan pada masa kuarter. Potensi yang dimiliki wilayah ini mampu menyingkap Miri yang kini mungkin masih tersembunyi dibalik ketenaran situs-situs seperti Sangiran, Trinil, Kedungbrubus dan situs lainnya.

 

Add Comment