Merekatkan Paseduluran, Menggerakkan Ekonomi Laweyan

Foto: Batikbumi

Tak terhitung nilai sejarah yang terdapat di kawasan Laweyan. Tak terhitung pula beragam potensi daerah yang bisa diangkat lewat pemberdayaan. Semua itu semestinya menjadi titik tolak kesadaran masyarakat mengenai potensi yang dimiliki daerahnya. Jika itu dilakukan, bukan tidak mungkin timbul kemajuan bersama yang merata di segala kantung masyarakat.

Dahulu Laweyan adalah kekuatan ekonomi-politik Kota Solo. Beragam catatan sejarah telah mendokumentasikannya. Sayangnya, publikasi terkait hal itu masih belum maksimal, sehingga secara umum, kesadaran masyarakat mengenai potensi daerahnya belum menjangkau pemberdayaan bersama yang lebih jauh.

Saya sendiri mempercayai, sejarah dan warisan kawasan ini masih hidup. Beberapa pihak mungkin telah menyadarinya, tapi belum merata. Menggerakkan masyarakat untuk mau menyadari potensi tentu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Meski potensi dari nilai sejarah atau warisan yang ada masih hinggap di kawasan Laweyan, bukan berarti nilai tersebut akan berdiri begitu saja.

Sejarah dan warisannya membutuhkan polesan banyak pihak yang paham dan mengerti betul keunggulan daerahnya. Ketika ada kebersamaan yang terjalin dari berbagai pihak seperti stakeholder, kantung masyarakat, dan mungkin juga para pakar, saya membayangkan adanya peluang ekonomi yang bergerak dari situ. Mungkin saja itu berasal pada sektor pariwisata atau mungkin juga dari inisiasi pembukaan wadah praktik ekonomi bersama.

Di Laweyan, ada beragam macam tempat yang berpeluang menggerakkan praktik ekonomi masyarakat. Dari segi kuliner saja, sudah ada banyak sekali tempat yang berpeluang menyerap tenaga kerja dan juga jika diberi polesan yang tepat dapat menggerakkan ekonomi masyarakat di sekitarnya. Belum lagi ditambah tempat wisata yang telah lama berdiri atau juga kawasan yang potensinya jarang disentuh atau pun masih sekadar dilirik oleh beberapa pihak.

Jika mau mencari tempat wisata pun, kawasan Laweyan punya beragam macam destinasi. Namun, apabila hendak dieksplorasi lagi, tentu ada banyak yang dapat ditemukan. Meski begitu, pengerjaannya membutuhkan proses. Dalam proses, waktu lebih dibutuhkan. Waktu luang ini bakal sukar jika hanya dikerjakan satu pihak. Lagi-lagi saya perlu menekankan, kebersamaan dan kolaborasi menjadi kunci.

Menjaga Paseduluran

Di masa lampau, kawasan Laweyan begitu kuat dari segi ekonomi-politik karena kebersamaan saudagar batik yang ikut merepresentasikan Surakarta di kancah Asia. Bahkan, menurut penuturan beberapa pakar, Laweyan adalah salah satu pusat keramaian akivitas politik di era Kolonial Hindia Belanda. Di titik ini saja kita dapat memetik, bahwa paseduluran dan kebersamaan mengangkat nama Laweyan ke panggung yang lebih besar.

Belakangan, pola ekonomi-politik yang ada di Laweyan mungkin telah berganti. Zaman juga telah berubah. Sekarang, kemungkinan komoditas kawasan telah berubah. Meski begitu, itu bukan alasan untuk mendiamkan Laweyan. Sebelumnya sudah saya sampaikan bahwa potensi daerah ini masih sangat banyak yang belum disentuh. Kesanggupan masyarakat untuk bergerak bersama turut mempengaruhi faktor-faktor kemajuan kawasan.

Dalam Laweyan ada kawasan berikat yang terhubung antar satu kelurahan dengan kelurahan lainnya. Kawasan berikat ini di antaranya meliputi, Pajang, Sondakan, Laweyan, dan Bumi. Nama untuk kawasan berikat ini adalah Pasolami. Kawasan berikat ini eksis untuk merawat narasi kearifan lokal yang ada di sekitar Kampoeng Batik Laweyan. Beberapa kelurahan ini sampai sekarang masih terus menjaga kebersamaan dengan mengadakan FGD (Forum Group Discussion) atau kegiatan-kegiatan non-formal lainnya.

Dalam kelurahan tersebut masih terdapat pula Pokdarwis (Kelompok Sadar Wisata) yang terus menggemakan potensi daerah yang memuat narasi kearifan lokal setempat. Komunitas-komunitas ini merupakan representasi kesadaran bersama dan paseduluran yang saya sampaikan di atas. Kebersamaan dan kesadaran inilah yang sebenar-benarnya awal mula pembentukan fondasi kemandirian ekonomi.

Jaringan masyarakat dari banyak kelurahan jelas sebuah potensi tersendiri. Di sana ada banyak ide yang dapat ditampung dalam sebuah wadah. Wadah ini tak lain tak bukan adalah media. Konsistensi media dalam mendokumentasikan berbagai aspirasi atau ide, turut mengembangkan potensi kawasan. Kemudian, setelah dokumentasi itu disimpan dengan baik, kolaborasi jaringan masyarakat ini nantinya dapat memetakan atau mengeksekusi potensi bersama stakeholder.

Sederet point tadi baru sebentuk pendapat, meski sesungguhnya sudah ada yang bisa digarap bersama. Yang terpenting pada awalnya kebersamaan didahulukan. Baru kemudian berkumpul dan menjaring pendapat. Paseduluran menentukan kemajuan bersama. Kemajuan bersama akan memunculkan kemajuan ekonomi. Paseduluran juga menentukan pemerataan keunggulan daya saing ekonomi. Agar semua berdikari sesuai potensi. (Endang Sabar Widiasih)*

Penulis adalah Camat Kecamatan Laweyan.