Menelusuri Jejak Nyai Ageng Serang di Klaten

Foto: Muhammad Anshori

Klaten, sebagaimana banyak ditulis dalam berbagai literasi sejarah, merupakan kabupaten yang kaya akan legenda, hikayat, situs sejarah dan cagar budaya, yang sudah ada sejak peradaban Mataram Kuno. Akan tetapi penggalian dan penarasian sejarah belum terlihat serius dilakukan oleh emerintah atau pihak terkait. Justru hanya para sejarawan juga pecinta sejarah yang banyak melakukan penggalian dan penelusuran melalui gerakan maupun penyampaian narasi secara sederhana. Sehingga ketika generasi sekarang ditanya tentang Klaten dari berbagai sudut sejarahnya, mungkin mereka hanya sedikit yang paham. Sebagai wilayah yang sudah ribuan tahun memiliki peradaban, Klaten memiliki bukti-bukti sejarah yang tersebar di hampir seluruh wilayahnya, bahkan sampai ke pelosok-pelosok. Di antara sebaran tersebut yaitu terdapat di Kiringan, Tulung.

Nyai Ageng Serang sendiri memiliki nama asli Raden Ajeng Kustiyah Wulaningsih Retno Edi, merupakan putri bungsu Panembahan Natapraja atau Bupati Serang (saat ini menjadi bagian wilayah Sragen) lahir pada tahun 1762. Nyai Ageng dikenal sebagai perempuan yang gigih dalam melawan penjajahan Belanda dan sulit ditaklukkan melalui berbagai strategi muslihat. Dia juga dikenal sebagai seorang Adipati yang sengit dalam menolak Perjanjian Giyanti (1755 M) bersama Pangeran Diponegoro, dimana diceritakan bahwa isi perjanjian teraebut adalah untuk membagi wilayah Mataram saat itu menjadi 3 wilayah yaitu; Surakarta, Mangkunegara dan Yogyakarta. Meskipun pada akhirnya perlawanan itu belum berhasil dan Mataram benar-benar berhasil dipecah oleh strategi Devide Et Impera seperti yang ada saat ini.

Jejak Nyai Ageng Serang di Tulung Klaten

Hampir di setiap era sejak Mataram Kuno, Mataram Islam hingga era penjajahan, Klaten memiliki kekayaan sejarah yang luar biasa. Salah satunya adalah adanya sebuah makam yang merupakan jejak sejarah yang terdapat di Kiringan, Tulung, Klaten. Makam ini oleh masyaraksat setempat diyakini sebagai makam Nyai Ageng Serang yang dikenal sebagai pejuang kemerdekaan Indonesia.

Dari penggalian yang dilakukan melalui tutur dari masyarakat – terutama para sesepuh setempat, diriwayat bahwa sosok yang di makamkan di makam cikal bakal (makam tua yang dianggap sebagai penduduk awal sebuah wikayah) di desa ini merupakan sosok Nyai Ageng Serang. Selain Nyai Ageng Serang ada juga makam lain yang salah satunya diduga makam patih “Ki Wonosegoro” serta delalan prajurit lainnya. Hal ini sebagaimana disampaikan oleh Juremi (76th) salah satu sesepuh setempat.

Pak Ju (sapaan Juremi) menuturkan bahwa yang makam diyakini masyarakat setempat sebagai mbah cikal bakal itu adalah makam Nyai Ageng. Nyai Ageng Serang ini merupakan senopati perang Mataram yang telah banyak berjuang bertempur melawan penjajah Belanda. Ketika terjadi peperangan melawan Belanda, Pasukan Nyai Ageng yang secara jumlah pasukan maupun persenjataan tidak berimbang, kemudian “keseser” (terdesak) oleh pasukan Belanda. Dalam keadaan terdesak, Nyai Ageng Serang dan pasukannya tersebut terpencar ke beberapa tempat. Sedangkan Nyai Ageng Serang, Ki Wonosegoro dan beberapa pasukannya kemudian bersembunyi di suatu daerah (yang saat ini dikenal sebagai desa Kiringan, Tulung), dan di daerah ini pula mereka “mengasingkan diri” dan menetap beberapa waktu sampai tersebut sampai mereka meninggal dan dimakamkan di daerah ini.

Keberadaan makam-makam tua di tandai nisan dari Batu persegi dan bata- bata merah tersebut sudah cukup lama, oleh masyarakat Kiringan semula hanya di yakini sebagai leluhur (cikal bakal). Saat itu (1960an), kesaksian Juremi.

Baru kemudian pada tahun 1968, seorang pelaku spiritual bernama Mbah Gito dari Boyolali mendapat petunjuk batin ketika melakukan kegiatan spiritual (laku tirakat) di Makam Syeikh Maulana Maghrobi. Petunjuk batin ketika tirakat di makam yang terdapat di pantaran Merbabu inilah Mbah Gito mendapat isyarat sekaligus perintah agar mencari dan merawat makam Nyai Ageng Serang di Desa Kiringan, Tulung, Klaten.

Semenjak datang petunjuk bathin tersebut, Mbah Gito kemudian melakukan perjalanan dengan berjalan kaki menuju ke desa Kiringan. Dikisahkan, dalam perjalanan tersebut mabh Gito sempat bertemu dengan mbah Pairo (Ayah mbah Juremi) di pasar Ngangkruk, Tulung. Setelah sekian waktu saling berbagi cerita, keduanya segera menuju makam cikal bakal Kiringan yang diduga sebagai makam Nyai Ageng Serang untuk melakukan bersih2 Makam dengan mengajak beberapa warga yang sempat ditemui ketika perjalanan menuju makam tua Kiringan. Diantara warga yang ikut terlibat sekaligus menjadi saksi proses bersih-bersih saat itu adalah mbah Pairo. Sejak inilah dugaan bahwa makam cikal bakal di desa kiringan ini adalah makam Nyai Ageng Serang dan para prajuritnha. Semenjak peristiwa itu juga makam-makam tersebut mulai terawat bahkan saat ini banyak di ziarahi masyarakat sekitar bahkan kadang dari berbagai luar kota. Kini makam tersebut bukan hanya lebih terawat tapi pada 1969 telah dibangun beberapa cungkup (rumah kecil diatas makam) melalui jasa dan sumbangan dari Darminto – seorang pensiunan TNI AD asal Jatinom

Menurut kesaksian Darminto yang dibenarkan oleh Juremi, bahwa tahun 1970 mbah Rejo (juru kunci makam) pernah kedatangan peziarah utusan sekaligus kerabat dalem Keraton Yogyakarta dan menguatkan dugaan bahwa yang dimakamkan di dukuh Kiringan teraebut) benar-benar makam Nyai Ageng Serang berdasarkan petunjuk-petunjuk maupun cerita yang didapat dari Keraton. Selain itu, utusan Keraton tersebut juga mohon titip warga Desa Kiringan untuk menjaga dan merawat makam tersebut.

Masjid Tiban Kiringan

Ada cerita menarik terkait keberadaan makam Nyai Ageng Serang, yaitu bahwa di dekat makam tersebut dulunya pernah berdiri sebuah langgar (masjid kecil) tetapi saat ini sudah tidak ada jejaknya. Hal ini seperti dituturkan oleh mbah Kismo dan mbah Noto selaku sesepuh setempat bahwa dulu didekat makam Nyai Ageng terdapat masjid yang keberadaannya sejak era Mataram Islam dan dibangun oleh para Wali. Artinya masnid ini ada jauh sebelum Nyai Ageng singgah di Desa Kiringan. Masyarakat dulu sering menyebut “Masjid Tiban” (masjid yang tiba-tiba ada tanpa diketahui proses dan asal usulnya).

Menurut ingatan dan kesaksian mbah Kismo, bahwa kisaran tahun 50an masih ada dengan salah satu tokoh agama yang berpengaruh saat itu bernama Kyai Hasan. Namun anehnya, masjid tersebut pernah tiba-tiba raib begitu saja dan saat ini sudah tidak ditemukan jejaknya lagi. (Agus Triyanto)*

*Pegiat Suluk Mataraman Klaten