Mbah Buto Ijo dan Sejarah Desa Socokangsi

Foto: Muhammad Ansori

Jatinom– Perjalanan sejarah bangsa Indonesia dalam melawan penjajah Belanda banyak meninggalkan saksi dan jejak di hampir setiap jengkal wilayah Nusantara. Klaten merupakan salah satu kota yang tersebut menjadi saksi sejarah, karena merupakan wilayah basis perlawanan terhadap penjajah. Hal ini di antaranya karena letak Klaten sangat strategis, yaitu berada tengah-tengah wilayah Mataram (Surakarta-Klaten-Yogyakarta) sekaligus berbatasan langsung dengan Boyolali.

Selain itu, di wilayah Klaten, kebanyakan terdiri dari area hutan rimbun sehingga sangat mendukung untuk melakukan perlawanan dengan sistem gerilya. Di antara wilayah Klaten yang dijadikan simpul perjuangan adalah wilayah Gedaren Kecamatan Jatinom. Wilayah ini dipilih sebagai markas perjuangan oleh Pangeran Diponegoro serta para santrinya.

Selain tempat yang dirasa tepat untuk menyusun strategi gerilya, Jatinom dan sekitarnya juga banyak aset kekayaan Nusantara yang dalam penguasaan Belanda dan harus direbut kembali. Sedangkan santri Pangeran Diponegoro yang diberikan kepercayaan untuk memimpin dan memperkuat pasukan di wilayah Jatinom kala itu adalah Kyai Somodirjo dengan senopatinya bernama Ki Manikmoyo.

Diceritakan bahwa pada suatu waktu, Pangeran Diponegoro bermarkas di Gedaren, Jatinom untuk menemui para santri dan sekaligus untuk mengatur strategi gerilya. Ternyata keberadaan sang pangeran di Gedaren ini diketahui oleh pihak Belanda, sehingga pihak Belanda langsung berencana mengadakan penyerangan dan penangkapan terhadap Diponegoro beserta para pengikutnya.

Sebaliknya, kabar akan adanya penyerangan dari pihak Belanda ini juga didengar oleh pasukan Diponegoro melalui punggawa telik sandi. Kala itu diinformasikan oleh telik sandi bahwa Belanda akan menyerbu mereka melalui Boyolali.

Atas komando sang pangeran, seluruh pasukan diperintahkan dan bersiap untuk menyambut kedatangan mereka. Pasukan pun kemudian menuju Boyolali melalui Jalur Ngemplak, Jeruk Gulung, Motamu dan seterusnya yang dipimpin oleh Kyai Somodirjo dengan senopatinya bernama Kyai Manikmoyo.

Sesampai dukuh Jeruk Gulung (saat ini bernama Jeruk Manis), Desa Glagah Kecamatan Jatinom kedua pasukan bertemu dan terjadi perang dahsyat, sehingga banyak korban dari kedua belah pihak yang gugur dalam pertarungan tersebut. Di antara yang gugur dalam peperangan tersebut adalah kedua santri kinasih Pangeran Diponegoro yaitu Kyai Somodirjo dan Ki Manikmoyo.

Jenazah Kyai Somodirjo dan Manikmoyo dengan beberapa pasukan Mujahid lainnya kemudian di makamkan di Desa Socokangsi. Sampai saat ini, Kompleks makam tersebut masih sering diziarahi para peziarah dari berbagai daerah terutama para dzuriyah (keturunan) Pangeran Diponegoro maupun dzuriyah Somodirjo dan juga para dzuriah santri-santri lainnya.

Makam Mbah Buto Ijo

Seperti diceritakan di atas, ketika berada di komplek pemakaman Dukuh Socokangsi, Desa Socokangsi tersebut bisa kita lihat bahwa makam Kyai Somodirjo dan pasukannya berada satu kompleks tersendiri dari makam di sekelilingnya, dengan bentuk nisan yang berbeda dari nisan pada umumnya (khas nisan pada makam-makam kerajaan).

Makam Kyai Somodirjo dan pasukannya diberikan pagar serta Cungkup (semacam rumah kecil untuk melindungi makam) pembatas oleh Pemerintah Desa setempat serta peran aktif warga masyarakat setempat untuk menandai sekaligus untuk mempermudah akses bagi para peziarah. Sementara di luar pagar (masih dalam satu kompleks) juga digunakan sebagai tempat pemakaman umum warga.

Di antara deretan makam umum warga, ada satu makam yang berbeda dari makam lainya, dan justru lebih mirip dengan makam yang berada di dalam pagar dengan bentuk nisan khas kerajaan. Hal ini seringkali mengundang pertanyaan dari para peziarah. Adapun makam yang dimaksud adalah makam Kyai Manikmoyo. Terkait mengapa makam Manikmoyo justru berada di luar pagar dan terpisah dari kompleks makam Kyai Somodirjo dan pengikutnya, hal ini sesuai amanah yang disampaikan Ki Manikmoyo beberapa waktu sebelum wafat.

Ki Manikmoyo memberikan wasiat kepada santri lain yang intinya adalah, “Suk yen tumeko wancine aku bali menyang pangeran, sarekno aku ono ing sakpojoke Kyai Sumodirjo supayane aku tetep bisa ngamping ampingi kyai, (jika pada suatu saat saya meninggal, makamkan saya di sekitar Kyai Somodirjo agar saya masih bisa menjaga beliau – sebagai senopati)”.

Dalam perjalanan waktu, Makam Kyai Somodirjo ini justru lebih dikenal sebagai makam mbah Buto Ijo. Terkait hal ini memang belum ada sumber cerita yang kuat, kenapa dan sejak kapan istilah tersebut muncul. Akan tetapi pernah diceritakan bahwa semasa hidupnya (terutama ketika maju ke medan perang), Kyai Somodirjo sering mengenakan surban berwarna hijau.

Kegemarannya memakai surban hijau ini pula yang kemudian oleh para pengikutnya beliau dijuluki “Kyai surban hijau”. Sedangkan sebutan “Mbah Buto Ijo”, ada salah satu versi cerita yang menyebutkan ketika Kyai Somodirjo mengenakan surban hijau di medan perang, beliau nampak sebagai panglima yang gagah berani serta menakutkan bagi para musuh, sehingga beliau dijuluki (oleh musuh) dengan Ki Buto Ijo, Wallahualam. (Wingsang Trenggono)*

Penulis adalah Kepala Desa Socokangsi, Jatinom, Klaten