Kauman dan Wacana Kampung Edukasi

Foto: Humas Pemkot Surakarta

Kauman sering menjadi nama daerah yang berdekatan dengan masjid. Konon daerah Kauman berasal dari “Kaum Imam” yang artinya adalah pengikut dan beberapa kelompok yang beragama Islam. Nama Kauman banyak sekali kita temukan di beberapa daerah.

Di Kota Surakarta, kita dapat menemukan daerah dengan nama Kauman yang berlokasi di Kecamatan Pasar Kliwon. Lokasi daerah Kauman ini berlokasi di barat keraton yang dimana disitu juga dibangun salah satu masjid yang bernama Masjid Agung Keraton Kota Surakarta.

Konon daerah kauman di Kota Surakarta ini dahulu dihuni oleh santri yang diberikan ruang oleh pihak keraton untuk memfasilitasi santri yang ada di Kota Bengawan dalam menyampaikan (tabligh) agama Islam.

Tanah Surakarta pada masanya pernah menjadi sebuah megapolitan. Karya tulis dan literasi yang sangatlah kuat dan besar, menjadi romantisme bahwasannya kota ini mempunyai kekuatan secara moril dan historis yang besar.

Kauman yang menjadi bagian dari kecamatan Kota Surakarta, yang dikenal sebagai produsen batik terbesar hingga hari ini. Pada masa lampau, sekitar 1912 disitu –Solo memiliki keunggulan komparatif, berupa komoditas batik.

Bila kita berkaca kembali secara historis mengenai sejarah Serikat Dagang Islam, kawasan ini memiliki kausalitas penting tentang batik dan bentuk perpolitikan yang dilakukan oleh H. Samanhudi untuk menyatukan pedagang di Kota Surakarta agar terhimpun dan bisa memperkuat dukungan tersendiri terhadap persaingan dagang bangsa lain atau etnis lain yang cukup hegemonik pada waktu itu.

Nampaknya semangat dan corak produksi batik di Kauman sampai sekarang tetap gemilang dan menjadi daya tarik tersendiri, karena ciri khas batik Kota Surakarta yang tidak bisa dianggap remeh kualitasnya.

Kondisi rumah yang berada di daerah Kauman ini memiliki kontruksi yang menarik. Kebanyakan rumah menghadap ke selatan dan ke utara dengan tembok besar yang membentengi beberapa rumah yang berada di kawasan Kauman. Beberapa pakar mengamati bahwa kontruksi bangunan di kawasan Kauman mempunyai kemungkinan daya tarik bagi sektor pariwisata.

Komoditas batik

Nampaknya komoditas batik mulai menyebar di beberapa daerah di Kota Surakarta. Salah satunya terdapat di daerah Kauman, Surakarta yang sudah berjalan hampir satu abad lebih. Batik telah melebur dan digerakkan oleh beberapa masyarakat Kota Surakarta sebagai penopang perkonomian mereka. Jalinan sistem perdagangan yang sudah cetho, dan permintaan batik yang lumayan tinggi, memantik masyarakat untuk memproduksi lebih banyak guna menyeimbangkan permintaan dari pasar.

Sebenarnya komoditas batik itu tidak hanya dimiliki oleh satu daerah saja –Surakarta misalnya, akan tetapi beberapa daerah mempunyai corak khas yang mengantarkan kepada produk batik. Keunikan dan corak batik di daerah lain dengan Surakarta-lah, yang membedakan tentang kualitas dan daya tarik konsumen.

Dikutip dari Fe Institute dan Sobat Budaya yang didukung oleh UNESCO menyampaikan bahwasannya corak batik yang ada di Indonesia dari Sabang sampai Merauke memiliki corak sebanyak 5.849 corak batik. Batik khas Kauman Solo juga masuk dalam survey ribuan corak batik di Indonesia. “Indonesia kaya akan budaya”, memang tak salah untuk dinobatkan bagi bangsa ini.

Yang menarik dari batik, lagi-lagi kita dibenturkan dengan sebuah entitas perubahan yang menjadi keharusan bagi individu atau kelompok untuk menyesuaikan dengan kondisi yang ada pada hari ini. Apakah batik harus disesuaikan dengan kondisi hari ini pula? Coraknya? Atauh bahkan strategi taktis ekonominya?

Mau bagaimana lagi, batik menjadi sebuah produk yang mempunyai nilai esetetis tinggi. Bahkan nilai jual dari batikpun kadang tidak terpengaruh atas kakunya mesin untuk memproduksi jumlah batik secara besar. Akan tetapi hasil pembuatan batik kadang terbilang lebih murah dibandingkan dengan batik asli lukis tangan.

Keprihatinan manusia abad ke-21 dengan ditemukannya Artificial Intelegence, yang di mana sangat elastis untuk diterapkan dibeberapa sektor yang kadang membuat bimbang karena takut kergusur oleh teknologi itu sendiri. Bukan berarti saya seorang luddite, akan tetapi ini tentang pembangunan prototipe untuk mengetahui sisi lemah dari teknologi yang bisa dimanfaatkan oleh manusia seperti nilai estetika murni dari tangan gemulai pembatik.

Peningkatan Minat untuk Kebudayaan

Membatik memiliki beberapa tahapan seperti; melukis atau cap, mewarna, mencelup,mengeringkat, dsb. Dibutuhkan beberapa penyampaian ataupun kesadaran bersama untuk mencoba dan melakukan praktik langsung pembuatan batik.

Mengutip dari David Landes, salah satu ekonomi dari Unversitas Harvard, bahwa tingkat perkembangan atau pertumbuhan dalam suatu wilayah ditentukan melalaui kondisi kebudayaan yang berupa etos kerja dalam suatu wilayah tertentu.

Ketika etos kerja atau kebudayaan yang hanya dimiliki oleh beberapa daerah tertentu, anasir ini memiliki sebuah keterkaitan tentang penghargaan masyarakat kepada hasil kebudayaan yaitu batik khas kauman ini. Mengapa demikian?

Hampir penerus yang memiliki talenta baik dalam melukis batik, sangatlah sedikit. Problem inilah yang menjadi sebuah mala petaka, ketika tingkat individu untuk berkontribusi dalam membuat batik sedikit.

Jika individu atau kelompok yang berada di Kauman acuh dan tidak mau melanjutkan tradisi batik, maka kemungkinan untuk mempertahankan dan menciptakan kemajuan seperti yang disampaikan Landes akan jauh dari kata sempurna.

Peranan pendidikan harus bisa dikolaborasikan dengan perihal aplikatif seni kebudayaan. Pendidikan bukan lagi tentang pencapaian untuk mendapatkan nilai sempurna dengan menyabet seluruh mata pelajaran mendapat nilai A atau 100. Harus ada sebuah pencerdasan kalau aspek keahlihan penting untuk dimiliki oleh siswa dan yang lebih khusus misal saja dengan penguatan keahlihan membatik.

Pendekatan praksis dapat memberikan dorongan bagi para siswa untuk mau menekuni bidang melukis batik. Etos kerja diartikan sebagai daya dobrak individu atau kelompok untuk progres dan menambah jam kerja untuk meningkatkan daya tawar dalam menciptakan sebuah produk tertentu.

Problem atas terhimpitnya produk kebudayaan murni pada suatu wilayah bukanlah pembahasan yang usang. Pasalnya hari ini kebudayaan terus dicecar dan ditekan dengan persaingan kebudayaan luar yang mempunyai pengaruh terhadap tersingkirnya budaya asli nusantara.

Etos untuk berbudaya sesuai dengan daerah tertentu lama-kelamaan akan mengalami kehilangan jati diri apabila tidak dibentengi dengan pencerdesan untuk melek berbudaya. Pendidikan, dengan melibatkan tenaga pengajar dan pelajar untuk bahu-membahu guna mencerdaskan dan menarik pionir-pionir baru untuk bisa melahirkan masyarakat yang melek akan budaya.

Kasus importir gelap batik dari negara lain, menjadi bukti konkrit tentang persaingan pasar yang hari ini sangat begitu kuat. Berdasarkan Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 64/M-DAG/PER/8/2017 mengenai Pengenai Perubahan Atas Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 85/M-DAG/PER/10/2015 membahas perihal ketentuan impor tekstil dan produk tekstil.

Kondisi global dengan menentukan sistem terbuka dan cenderung bebas, memaksa kita untuk belajar dan memperbaika karakter kita. Francis Fukuyama dengan karyanya yang berjudul “Trust; The Social Virtues of Prosperity”, memberikan gambaran menarik tentan pola dan strategi warga negara maju untuk memperkuat perekonomian mereka dengan penguatan kelompok.

Fukuyama memberikan contoh dan gambaran beberapa negara seperti; Tiongkok, Amerika dan Italia, dalam melakukan penguatan capital yang tidak hanya dinilai sebagai pengertian kuantitatif. Fukuyama menekankan pentingnya kepercayan sosial (Social Capital) sebagai turbin penggerak perekonomian dengan melahirkan jaringan-jaringan kuat untuk menguatkan perekonomian.

Untuk mendapatkan kepercayaan sosial dibutuhkan sebuah garis konsensus bersama dalam membangaun relasi sosial untuk kepercayaan. Penguatan lembaga bersama secara resmi atau hanya ikatan kekeluargaan semata menjadi sebuah pondasi dalam perekonomian.

Sudah bukan saatnya untuk pukul sana pukul sini demi kepentingan pribadi semata. Akan tetapi kini waktunya untuk masuk pada tataran lebih kolektif untuk membangun sebuah gerakan peningkatan perekonomian yang sinergi. Fukuyama menekankan peranan kebudayaan sangat dibutuhkan untuk membangun kepercayaan itu.

Menarik untuk kita kaji kembali ketika H.O.S. Cokroaminoto terlebih dahulu memberikan sebuah prototipe menarik untuk memperkuat kepercayaan sosial pada waktu itu sekitar tahun 1912. Serekat Dagang Islam (SDI) sebagai prototipe untuk mengembangkan perekonomian itu vis a vis dengan produk luar yang juga tak kalah kuat untuk bersaing.

Di tengah pandemi ini, sektor formal akan beralih pada sektor informal untuk menambah pemasukan atau karena faktor minimnya lowongan pekerjaan yang menciptakaan sisi gelap berupa pengangguran. Penguatan dengan kesadaran untuk memperkuat sektor pengelolaan dan pembuatan batik bisa menjadi sebuah solusi.

Arif Giyanto dalam karyanya Kelas Menengah Progresif, dengan sangat menarik dan empuk membabar perihal ekonomi informal, yang sekalian akan menutup artikel ini. Menurut Arif, sektor informal membutuhkan tangan-tangan agrsif, yang yakin bahwa potensi besar bahwa datang dari dari kalangan yang paham dengan menekankan jaringan untuk peningkatan perekonomian.

Sekiranya begitu, sekali lagi, kita perlu memberdayakan sektor-sektor informal di Kauman dengan tangan agresif. Tak terelakkan bahwa Kauman sangat membutuhkan tangan-tangan agresif untuk mengembangkan potensi di kawasan tersebut. Tapi agresif di sini, bukan yang merugikan, melainkan agresif yang memberdayakan. Kekuatan ekonomu Kauman akan lebih berdiri dengan kokoh, jika pelbagai sektor yang ada disentuh melalui pembaharuan yang relevan, terutama sektor informal yang ada di kawasan terkait.