Demi Antisipasi, Daerah Perbatasan Persiapkan Mitigasi

Foto: Pemkab Wonogiri

Slogohimo- Menurut pemantauan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) aktivitas kegempaan di sejumlah wilayah Indonesia disebut akan mengalami peningkatan. Beberapa daerah yangterpantau di antaranya Aceh, Nias, Bengkulu, Lampung, Banten, selatan Jawa Barat dan Jawa Tengah, termasuk di sekitar perbatasan Wonogiri dengan Pacitan.

Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, di Pendapa Rumah Dinas Bupati Wonogiri, Kamis (18/2) pekan ini menyampaikan bahwa di selatan Samudera Hindia, tercatat adanya peningkatan gempa kekuatannya sampai di atas lima magnitudo.

Perempuan yang akrab disapa Rita itu mengatakan sekitar tahun 1840 pernah terjadi gempa bumi di sebagian di zona yang terjadi peningkatan kegempaan saat ini.

“Saat itu kekuatan gempa mencapai 8,7 magnitudo dan ini sudah 200 tahun. Smoga tidak terjadi lagi. Namun jika berulang kembali, kami ingin mengetahui seberapa siapkah wilayah yang berada di kawasan karst ini bisa melakukan mitigasi,” katanya.

Kedatangannya ke Wonogiri sekaligus untuk menguatkan mitigasi bencana gempa bumi dan tsunami.

“Dengan mitigasi yang kuat diharapkan tidak timbul kerugian ekonomi dan korban jiwa signifikan saat terjadi bencana,” ujarnya lagi.

Rita juga menambahkan bahwa gempa besar tidak seketika terjadi, tapi dimulai dengan gempa-gempa kecil. Rita menganggap perlunya kedatangannya ke Wonogiri karena di kawasan karst ada infrastruktur vital atau aset nasional serta banyak masyarakat yang menghuni.

“Upaya mitigasi ini dilakukan untuk menjaga agar tidak menimbulkan kerugian ekonomi dan korban jiwa signifikan, dan untuk mengetahui hal tersebut maka kami pun terjun langsung ke lapangan untuk mengetahui potensi atau resiko di Wonogiri itu apa saja, sehingga bisa membahas bersama langkah kesiapannya dalam menghadapi bencana,” terangnya.

Lebih jauh Rita menekankan pentingnya penguatan mitigasi ini didasarkan banyaknya aset atau infrastruktur nasional di Jawa bagian selatan, antara lain Jalan Lintas Selatan dan kawasan Museum Karst.

“Yang paling penting yakni menyelamatkan masyarakat yang tinggal di daerah sekitar,” tandasnya.

Rita didampingi Kepala Pelaksana BPBD Wonogiri, Bambang Haryanto bersama tim BMKG maupun BPBD Wonogiri, Jumat (19/2) melakukan pengecekan dan kesiapsiagaan Wonogiri dalam menghadapi tsunami ke kawasan Pantai Nampu, Kecamatan Paranggupito. Tim gabungan itu menyusuri area di sekitar pantai hingga titik kumpul sementara saat terjadi tsunami.

Rita mengatakan kalau upaya simulasi mitigasi yang dilakukan di Pantai Nampu sudah baik, sebab simulasi mitigasi tidak hanya dilakukan oleh masyarakat umum, namun juga melibatkan pemilik warung yang ada di sekitar pantai dan wisatawan.

Persiapan mitigasi bencana tsunami di Desa Gunturharjo juga tak lepas dari apresiasi lantaran sudah terbentuk desa tangguh bencana Tsunami dan memiliki anggaran khusus dari dana desa. Karena itu, ini menunjukkan bahwa sudah ada komitmen terhadap kesiapsiagaan tsunami di daerah perbatasan Wonogiri.