Cagaksari: Cagak Saksi Peradaban Islam Klaten Cagaksari

Foto: Ika Nidaul Haq

Klaten– Sebuah dusun di Kelurahan Senden Kecamatan Ngawen Klaten Jawa Tengah. Desa ini bernama Cagaksari, tak lepas dari penemuan sebuah batu cagak atau tiang penyangga yang konon berasal dari masjid tiban yang dibangun hanya dalam waktu semalam.

Dipercaya, karena waktu keburu pagi (kadhisikan kamanungsan) dengan ditandai ayam berkokok dan warga sudah sibuk menggebukkan tempahnya (tempat nginteri beras) akhirnya pembangunan masjid tidak diteruskan. Cikal bakal penduduk bernama Hasan Besari.

Karenanya dusun ini kemudian dinamakan Cagaksari. Batu cagak ini ada empat buah dan ditemukan sudah tidak dalam keadaan utuh. Salah satunya tingginya hanya sekitar satu meter yang ditancapkan di pojok salah satu rumah warga. Ada yang berada di dalam Sendhang Lanang yang kemudian digunakan untuk tempat pijakan.

Yang lainnya ada di daerah tidak jauh dari situ, satu lagi masih terpendam bersama blandar kayu gelugu di Sendhang Wadon yang sudah mati. Menurut cerita seorang nara sumber masjid tiban ini dibangun pada 1400-an dalam waktu semalam di empat tempat, yaitu di desa Senden (tepatnya yang sekarang menjadi Dusun Cagaksari), di Desa Setran, Gading Santren dan Sekar Suli.

Proses pembagunan masjid ketiga desa berhasil, hanya satu yang gagal yaitu masjid tiban di Cagaksari tersebut, padahal sudah dibangun kerangka masjidnya yang disangga empat cagak atau tiang. Menurut cerita, masjid-masjid tiban ini dibangun bersamaan dengan masjid tiban Demak pada masa awal penyebaran agama Islam di Kerajaan Demak Bintoro oleh para wali pada tahun 1475.

Kerajaan Demak adalah kerajaan kecil. Tidak ada peninggalan sejarah kecuali beberapa masjid yang konon adalah masjid tiban (masjid yang dibangun dalam waktu semalam), Makam Sunan Kalijaga dan Raden Pattah. Artinya, menurut sejarah yang diceritakan nara sumber, Klaten merupakan salah satu pusat penyebaran agama Islam pada masa Kerajaan Demak Bintoro.

Hingga kini, potongan cagak ini dipercaya ada ‘isinya’ (kodamnya). Tak jarang orang yang memiliki hajat rela bertirakat di sekitar cagak tersebut, dri hajat real hingga mengundi nomor togel. Saat bulan As-Syura, di sekitar Sendang Lanang, tempat cagak kedua yang dijadikan pijakan, diadakan upacara tirakatan Malam Syuro. Sendang Lanang sendiri hingga kini masih dimanfaatkan warga untuk keperluan mencuci.

***

Tidak ditemukan pahatan tulisan di batu cagak yang menandai perkembangan peradaban di zamannya, sehingga semua cerita belum bisa dijadikan acuan kebenaran. Merunut pada perjalanan sejarah, peradaban batu ada pada zaman Mataram kuno (Hindu). Ditemukannya cagak batu ini diduga justru telah ada jauh sebelum Kerajaan Demak Bintoro, karena pilar masjid pada zaman awal penyebaran agama Islam telah menggunakan kayu. Merujuk sejarah pula, adanya sendang lazimnya merupakan patirtan (tempat pemandian) pakem Hindu yang sekitarnya biasanya terdapat tempat candi peribadatan.

Add Comment