Sunan Kalijaga dan Suluk Kidung Kawedar

Banyak cara dan ukuran untuk menilai peradaban suatu bangsa, antara lain dengan melihat perkembangan kebudayaannya, perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan, adat sopan santun pergaulan, dan organisasi kenegaraan. Namun, dari semua itu, yang paling mudah adalah dengan melihat sastra dan musik, termasuk alat musiknya.

Seperti alat musik gamelan Jawa yang memiliki sejarah panjang dalam penyempurnaan dan kelengkapannya. Hasil penyempurnaan ini tak bisa lepas dari peran para ulama penyebar agama Islam abad ke 15-16 yang dikenal dengan sebutan Walisanga, terutama dari Sunan Bonang, Sunan Kalijaga, dan Sunan Muria.

Lebih khas lagi adalah tembang-tembang macapat, yang memang diciptakan Walisanga sebagai media untuk berdakwah. Macapat sendiri memiliki makna berupa maca papat-papat (membaca empat-empat). Irama tembang-tembang macapat, dipakai untuk mengiringi sastra tutur yang berisi materi-materi dakwah agama Islam, khususnya tasawuf. Pada masa Kesultanan Demak irama tembang ini disebut sastra suluk. Suluk berarti jalan menuju Tuhan, yang kemudian dipakai untuk pengantar suatu babak dalam seni pewayangan.

Salah satu suluk yang dikenal masyarakat jawa adalah Kidung Kawedar atau Kidung Sarira Ayu atau Kidung Rumeksa Ing Wengi. Masyarakat Jawa penggemar seni gamelan sekarang ini, baik yang Islam maupun yang bukan, pada umumnya mengenal Suluk Kidung Kawedar, terutama bait pertama sampai ketiga. Sedangkan bagi penghayat kebatinan Jawa atau Kejawen, bait ke 17 dan 18 lebih disenangi. Suluk ini jika dikidungkan dengan irama dhandanggula yang diiringi lantunan lembut gamelan, sungguh akan membangun suasana meditatif-kontemplatif yang luar biasa.

Suluk Kidung Kawedar ini ditulis dalam bahasa Jawa Tengahan, sehingga agak sulit dipahami oleh kebanyak orang Jawa hari ini yang kebanyakan menggunakan bahasa Jawa baru, yang sudah bercampur dengan bahasa dari daerah dan asing lainnya. Suluk ini ditulis oleh Sunan Kalijaga yang merupakan salah satu dari anggota Walisanga.

Suluk Kidung Kawedar disusun dalam bentuk kidung, sebuah karya sastra Jawa yang digubah dalam bentuk puisi, menggunakan metrum Jawa Tengahan atau tembang tengahan (sekar madya). Kawedar adalah kidung pujian dalam bentuk puisi Jawa, yang dapat dilagukan dengan apa yang disebut macapat dhandanggula, yang setiap baitnya terdiri dari 10 baris, dengan guru lagu (jumlah suku kata) dan guru swara (bunyi akhir bait).

Kidung sama dengan tembang yaitu nyanyian atau lagu. Tapi, karena dengan kata suluk, maka lagu-lagu ini dimaksudkan sebagai tata laku mencapai makrifat, memahami hal-ihwal yang gaib-gaib, misterius dan bersifat spiritual. Kidung ini diyakini mengandung tuah atau daya yang membawa keselamatan bagi yang menyanyikan, mendengarkan dan bahkan bagi yang hanya menyimpannya. Kidung ini diyakini oleh penggubah dan pengikutnya sebagai mantera tolak bala.

Kata Kawedar berasal dari bahasa Jawa, yang artinya: tergelar atau digelar, terbuka atau dibuka, maksudnya agar sebuah ajaran mudah dipahami. Suluk Kidung Kawedar juga bisa dimaknai sebagai penjelasan tentang cara atau laku mendekatkan diri kepada Allah, Tuhan Yang Maha Kuasa, melalui kidung tembang. Dalam bahasa Jawa juga dikenal istilah pamedhar yaitu orang yang memberi penjelasan atau juru penerang. Dalam Suluk Kidung Kawedar, yang medhar (menjelaskan) kidung adalah Kanjeng Sunan Kalijaga.

Suluk Kidung Kawedar terdiri dari 56 pupuh (bait) yang merupakan rangkuman dari pengalaman batin (spiritual) Sunan Kalijaga. Pada pengalaman itu, ia mendapat pencerahan batin dan penglihatan batin. Ia dikarunia kemampuan melihat perkara yang gaib, tidak kasat mata, berkat kasih sayang Allah. Ia mengaku mengalami asarira tunggal (beberapa zat Tuhan menyatu dalam dirinya) atau Manunggaling Kawula-Gusti, bersatunya hamba dengan Sang Pencipta dalam rasa. Seperti digambarkan dalam bait “kidung angidung” (tembang yang menembang) atau “A singing song” (lagu yang menyanyikan dirinya sendiri).

Ajaran Suluk Kidung Kawedar berupa manunggaling kawula-Gusti merupakan ajaran yang membutuhkan perenungan mendalam. Ilmu ini menjelaskan tentang pengetahuan dan pemahaman hubungan antara manusia dengan Sang Pencipta. Penyatuan di sini bisa bermakna “penyatuan kehendak”, dan itu bisa dilakukan jika manusia mampu mengendalikan segala nafsu dan kemauan. Manusia yang menyatu dengan Tuhannya berarti manusia yang bisa mengendalikan segala macam nafsu dan kemauannya, sehingga menyatu dengan kehendak Allah.

Manusia yang bisa memahami, menaklukkan, dan mengendalikan hawa nafsunya juga akan memiliki arta daya, atau kebijakan, atau kekuatan batin yang luar biasa. Pendekatan yang bersifat sufistik ini mengajak kita untuk lebih banyak merenungkan makna kata dan realitas. Dalam situasi relatif tenang pun, cara ini memerlukan waktu dan ketenangan. Orang tidak bisa merenungkan realitas sambil bekerja atau beraktivitas. Oleh karena itu, perlu menetapkan waktu-waktu tertentu untuk merenungkan makna-makna dari realitas untuk memperoleh makna baru atau pembelajaran yang mencerahkan.

Di samping itu, ada pesan penting bahwa seseorang yang melakukan laku ini, harus memiliki pembimbing atau pendamping, seperti kedudukan seorang mursyid dalam dunia tarekat. Tanpa pendamping, atau kawan berdiskusi, orang bisa memiliki tafsir sendiri tentang apa yang dibaca, dan itu bisa berarti jauh dari apa yang dimaksudkan oleh guru atau penulis sebuah teks.

Kanjeng Sunan Kalijaga berdakwah dengan mempergunakan falsafah empan papan atau local setting, sebagaimana yang dilakukan oleh wali lainnya, seperti Sunan Drajat yang berdakwah di daerah Lamongan. Dalam nasehatnya, Sunan Drajat menyampaikan nasihat berikut:

“Menehana payung marang wong kang kudanan,

menehana teken marang wong kang kalunyon,

menehono pangan marang wong kang kaluwen,

lan menehana sandang marang wong kang kawudan.”

Suluk Kidung Kawedar dibuka dengan pembukaan yang dirasa tepat untuk keadaan semua orang di setiap zaman. Kidung itu dibuka dengan kata-kata yang bermakna magis untuk tujuan menolak atau menyingkirkan bala: penyakit, bencana, gangguan makhluk halus, guna-guna, tenung, teluh, santet, niat jahat, pencuri, binatang buas, senjata tajam, kayu, tanah wingit, dan hama penyakit.

Selain itu juga bisa digunakan sebagai wujud harapan untuk perawan tua agar lekas mendapat jodoh, orang gila lekas sembuh, musuh menjadi sayang, dan lain sebagainya. Oleh karena itu, Kidung Kawedar juga dikenal dengan nama Kidung Sarira Ayu, yang bermakna badan sehat, segar, bugar dan cantik.

Berikut teks pembukaan Suluk Kidung Kawedar itu:

Bait 1:

Ana kidung rumeksa ing wengi

Ada tembang pujian menjaga di kala malam,

teguh ayu luputa ing lara,

membuat kita selamat dan jauh dari segala penyakit,

luputa bilahi kabeh,

terbebas dari segala mara bahaya,

jim setan datan purun,

jin dan setan tidak berani,

peneluhan tan ana wani,

guna-guna/teluh tidak mempan,

miwah penggawi ala,

juga perbuatan buruk,

guna ning wong luput,

dari orang-orang jahat,

geni temahan tirta,

api menjadi dingin bagaikan air,

maling adoh tan wani ngarah ing mami,

pencuri menjauh tiada yang berani mengincar saya,

tuju duduk pan sirna.

segala mara bahaya sirna.

 

Bait 2:

Sakehing lara pan samya bali,

Segala jenis penyakit akan kembali,

sakeh ama pan samya mirunda,

semua jenis hama menyingkir,

welas asih pandulune,

matanya memancarkan kasih sayang,

sakehing braja luput,

semua senjata (atau ajian) tidak ada yang bisa mengenainya,

kadi kapuk tiba neng wesi,

bagai kapuk yang jatuh ke besi,

sakehing wisa tawa,

segenap racun menjadi tawar,

sato galak lulut,

binatang-binatang buas menjadi jinak,

kayu aeng lemah sangar,

pepohonan yang aneh (penuh daya magis) dan tanah angker,

songing landak guwaning wong lemah miring,

sarang landak gua tempat tinggal tanah miring,

myang pakiponing merak.

serta sarang tempat burung mereka mendekam.

 

Bait 3:

Pagupakaning warak sakalir,

Di tempat badak berkubang,

yen winaca ing segara asat,

maupun jika dibaca di lautan bisa membuat air laut surut,

temahhan rahayu kabeh,

membuat kita semua selamat sejahtera,

sarwo sarira ayu,

diri kita menjadi serba cantik/elok,

ingideran ing widodari,

dikelilingi para bidadari,

rineksa malaekat,

dijaga oleh para malaikat,

sakathahing rasul,

dan semua rasul,

pan dadyo sarira tunggal,

pada hakikatnya sudah menyatu dalam diri kita,

ati Adam utekke Baginda Esis,

di hati kita ada Nabi Adam, di otak kita ada Baginda Syits,

pangucapku ya Musa,

jika berucap bagaikan ucapan Nabi Musa.