Stres, Lambung, hingga Hadiah Nobel

scienceindia.in

Lambung merupakan salah satu tempat untuk proses dicernanya makanan yang masuk dalam tubuh kita. Bagian tubuh tersebut memiliki andil yang cukup besar dalam pengubahan nutrisi menjadi energi.

Apabila terdapat gangguan kinerja, maka tidak sedikit efek-efek tidak menyenangkan kita dapatkan. Dari rasa perih berkepanjangan hingga menghilangnya nafsu makan. Bahkan dalam rentang yang lama, tidak sedikit akhirnya mengarah ke kanker perut dan rasa sesak di ulu hati hingga merenggut nyawa.

Data menyebutkan bahwa terdapat kejadian gastritis (penyakit maag) di dunia menimpa sebanyak 1,8-2,1 juta orang setiap tahun. Indonesia merupakan negara yang memiliki penderita Gastritis cukup banyak dengan perolehan presentase sebesar 40,8 persen masyarakat.

Apabila menggunakan hitungan per 100 ribu orang, penderita gastritis di Indonesia memengaruhi kematian 4 dari 12 orang. Dalam hal ini perempuan memiliki presentase lebih besar dibandingkan laki-laki.

Banyak sekali hal-hal yang menyebabkan munculnya penyakit maag, dari genetik, abnormalitas imun, stres kronis, dan kurang tidur. Tidak hanya itu, seperti makanan pedas, konsumsi obat anti nyeri berkepanjangan (mis: ibuprofen dan aspirin), konsumsi alkohol, makan terlalu banyak, telat makan, makanan asam, hingga kopi juga memiliki andil dalam penyakit tersebut.

Kali ini pembahasan tema ini akan di fokuskan pada faktor stres yang membentuk gastritis (penyakit maag) hingga mengarah pada tukak lambung (luka di lambung). Stres sejak dahulu sering dikaitkan dengan gejala fisik tersebut. Namun sebenarnya sejauh mana stres berkaitan dengan kondisi itu?

Hadiah Nobel Bagi H. Pylori

Selama berdekade-dekade, banyak sekali penelitian yang mengungkap adanya hubungan kausal antara kondisi psikologis dan kesehatan lambung. Akan tetapi argumen-argumen penelitian tersebut selalu tidak memuaskan bagi kalangan medis. Bagi kalangan medis, infeksi dari sebuah bakteri dan konsumsi obat anti nyeri berkepanjangan lah yang bertanggung jawab atas kondisi kesehatan lambung.

Sebelumnya, stres lah yang dianggap sebagai faktor kuat yang menyebabkan penyakit lambung itu. Bahkan abnormalitas lambung dianggap sebagai salah satu fenomena psikosomatis.

Pergeseran anggapan ini mungkin terjadi ketika munculnya sebuah penemuan besar yang dilakukan oleh Barry J. Marshall dan J. Robbin Warren. Sebuah penelitian akbar yang akhirnya memecah kebuntuan untuk mencari penyebab abnormalitas pada lambung.

Pada tahun 1982, dua peneliti Australia tersebut menemukan bahwa infeksi bakteri Helicobacter Pylori (H. Pylori) sebagai penyebab utama ulkus peptik atau tukak lambung. Kedua peneliti tersebut mendapatkan Nobel Prize di bidang fisiologi atau kesehatan di tahun 2005 atas penemuannya.

Sayangnya, berkat penelitian tersebut pengobatan-pengobatan medis yang dilakukan untuk permasalahan lambung lebih fokus pada upaya meminimalisir bakteri tersebut. Alternatif pengobatan psikologis menjadi dikesampingkan bahkan menjadi hal tabu jika digunakan sebagai sebuah pengobatan tunggal.

Padahal tidak semua orang dengan bakteri H. Pylori memiliki riwayat penyakit maag. Lalu benarkah stres tidak memiliki peran akan kondisi lambung seseorang? Ataukah ada hubungan khusus antara stres dan bakteri H. Pylori?

Prosedur Asam Lambung

Lambung kita memiliki sebuah lapisan lendir yang berguna sebagai pelindung, lapisan ini bernama Mucous Barrier. Lambung yang sehat akan selalu memproduksi lapisan lendir sesuai dengan kapasitas untuk menjaga dinding lambung dari luka yang bisa disebabkan oleh asam di lambung.

Pada prinsipnya keduanya akan berjalan dengan seimbang. Asam lambung yang memiliki sifat merusak akan kesulitan merusak apabila lapisan lendir mampu menjaga dinding lambung. Terjadinya gastric ulcer ketika hubungan diantara keduanya tidak berjalan secara seimbang.

Terdapat tiga proses yang secara mudah bisa kita pahami mengenai terbentuknya penyakit maag dalam lambung.

Pertama, bahwa lendir Mucous Barrier tidak terproduksi secara maksimal. Hal ini menyebabkan dinding lambung tidak terlindungi secara baik dari zat yang mampu membuatnya tergesek atau luka. Akhirnya zat asam yang mampu merusak dinding lambung dapat membuat sebuah radang maupun tukak pada dinding lambung. Rasa perih dan mual muncul sebagai efek fisiologis dari hubungan di antara keduanya.

Kemungkinan kedua, bahwa Mucous Barrier sudah terproduksi secara baik dan optimal. Akan tetapi produksi dari asam lambung mengalami kenaikan drastis yang akhirnya membuat lapisan Mucous Barrier tidak mampu menghalanginya untuk membuat luka pada lambung. Alhasil penyakit maag mendera kita.

Sedangkan kemungkinan ketiga, bahwa bakteri H. Pylori merupakan bakteri yang muncul dari makanan-makanan yang terkontaminasi. Bakteri ini akan bertahan hidup dilingkungan yang sangat asam. Apabila terdapat faktor-faktor tertentu yang menguatkan, maka ia mampu merusak dinding Mucous Barrier dan membentuk luka pada lambung.

Lalu apa yang membuat produksi Mucous Barrier tidak maksimal, zat asam meningkat, dan bakteri H. Pylori semakin ganas? Stres kronis memiliki andil dalam ketiganya.

Respon Stres Otak Berkaitan Dengan Kondisi Lambung.

Ketika seseorang mengalami stres kronis maka otak akan merespons dengan mestimulasi sistem hypothalamic-pituitary-adrenal-cortex (HPA). Terstimulasinya sistem ini dapat merangsang sel-sel lambung dan usus untuk mengeluarkan histamin, meningkatkan asam, meningkatkan pergerakan lambung, meningkatkan aktivitas pengosongan lambung, dan merenggangkan lapisan Mucous Barrier. Oleh karena itu, apabila HPA aktif akibat stres, kemungkinan gesekan antara Mucous Barrier dan asam lambung semakin membesar untuk membentuk suatu luka pada lambung.

Selain itu, dalam keadaan tubuh normal Mucous Barrier bertugas menjaga lapisan dinding lambung dan juga bertugas untuk melakukan penetralan asam lambung dengan menyekresi bikarbonat. Sedangkan zat yang bertanggung jawab untuk menstimulasi bikarbonat adalah hormon Prostagladin. Sayangnya, apabila seseorang dalam kondisi stres kronis, hormon Prostagladin tidak mampu terproduksi secara efektif. Berkat itulah Mucous Barrier tidak mampu melaksanakan tugasnya untuk menetralisir asam lambung ketika sedang mengalami peningkatan.

Ketika hormon Prostagladin tidak terstimulasi secara efektif dan mengakibatkan Mucous Barrier tidak bekerja sebagai penetral asam, maka asam pada lambung akan memiliki kadar yang sangat tinggi. Hal inilah yang mendorong bakteri H. Pylori berkembang biak lebih banyak dan meningkatkan kemungkinan untuk infeksi.

Perlu diingat bahwa tidak semua orang dengan bakteri H.pylori memiliki penyakit maag, hanya orang dengan faktor-faktor pendukung tertentu yang akhirnya membuat bakteri itu menjadi ganas. Stres kronis salah satunya.

Penggunaan studi klinis dan pra-klinis menunjukkan bahwa apabila otak merespon stres dan mengaktifkan HPA maka dari koteks adrenal otak akan memicu pelepasan zat glukokortikoid. Zat inilah yang akhirnya memiliki andil dalam memfasilitasi bakteri H. Pylori untuk menginfeksi dan mengkolonisasi lambung.

Stres dan Gatric Ulcer

Ketika kondisi psikologis sedang terancam, kita merasakan perubahan dalam hal nafsu makan. Hal ini akhirnya mendorong kita menunda makan atau tidak lagi memedulikan diri yang membutuhkan asupan makanan. Akhirnya kebutuhan akan asupan nutrisi bagi pencernaan menjadi kita kesampingkan. Secara rasional hal ini bisa kita mengerti bahwa stres memang sering kali menghabiskan perhatian hanya untuk stresor yang menimpa kita.

Seperti yang sudah diutarakan bahwa tidak semua orang dengan bakteri H. Pylori mengalami tukak pada lambung. Lebih tepatnya delapan dari 10 orang yang terinfeksi H. Pylori tidak pernah mendapatkannya dan hanya 2 orang yang menderita luka pada lambung. Sebuah artikel dalam website Psychology Today menjelaskan bahwa orang yang menghadapi tekanan hidup serius lebih mungkin mengembangkan tukak lambung selama 15 tahun ke depan.

Penelitian lain dilaporkan dalam Archives of Internal Medicine dengan 4.500 subyek dan menemukan bahwa insiden penyakit maag pada mereka yang merasa stres hampir dua kali lebih besar daripada mereka yang bebas stres.

Selain itu, insiden tukak lambung tampaknya meningkat setelah bencana nasional. Seperti yang dilansir dari hasil rekam medis 61 rumah sakit, yang diterbitkan dalam American Journal of Gastroenterology, menemukan bahwa gempa bumi Hanshin-Awaji di Jepang diikuti oleh peningkatan yang nyata dalam perdarahan di lambung.

Dalam hal pengobatan pun juga sama, meskipun ada kebenaran ketika antibiotik memperbaiki kondisi seseorang yang di serang oleh bakteri H.Pylori, begitu juga dengan orang yang di tangani dengan penanganan psikologis, mereka juga memunculkan tanda-tanda pengurangan infeksi bakteri H.pylori. Alhasil jelas bahwa ada faktor lain yang meningkatkan kerentanan dinding lambung untuk rusak akibat H.Pylori, pikiran dan tubuh saling berkaitan.

Meregulasi Stres Salah Satu Kunci

Apabila kita berupaya melakukan sebuah refleksi diri pada momen merasakan perih pada lambung, ada suatu stresor yang sedang memberikan sebuah tekanan pada diri kita. Sekitar dua puluhan orang, meskipun tidak mewakili, menyatakan kepada penulis bahwa ada momen khusus entah itu berupa peristiwa atau hanya sebuah pikiran yang akhirnya membuat diri merasakan kondisi stres sebelum rasa perih pada lambung itu datang.

Ini selaras dengan sebuah laporan kasus tentang seorang wanita berusia 54 tahun yang terdeteksi menderita tukak pada lambung. Ia menderita penyakit itu selama bertahun-tahun, dan dokternya telah memberinya berbagai macam terapi antibiotik. Obat-obatan selalu membantu, tetapi hanya sementara, rasa sakit selalu kembali.

Tidak ada yang bertanya tentang tingkat kecemasannya, tetapi ketika mulai mempertanyakannya, dia mengakui bahwa dia baru saja keluar dari pernikahan yang panjang dan sulit serta sekarang menjadi ibu tunggal dengan masalah keuangan. Stres telah menjadi teman tetapnya selama bertahun-tahun.

Keterkaitan antara kesehatan pencernaan dan psikologi bukanlah hal tabu. Michael Gershon dalam bukunya menyatakan bahwa pencernaan merupakan otak kedua dari diri manusia. Didalam pencernaan terdapat 50-100 juta sel saraf layaknya tulang belakang sebagai sistem saraf tepi kita dan 95% pemasok hormon serotonin (hormon kebahagiaan) terdapat didalamnya.

Proses melakukan regulasi stres bisa dilakukan dengan berbagai cara. Bisa dimulai dengan kepekaan terhadap apa yang kita rasakan hingga melakukan Mindfulness atau Savoring untuk mempermudahnya. Keduanya adalah sebuah proses yang dilakukan secara berangsur-angsur dimanapun dan kapanpun asalkan paham dan tau alur pelaksanaanya. Akan lebih baik apabila proses regulasi diawali dengan membiasakan untuk peka dan meminta bantuan profesional seperti psikolog atau psikiater agar mendapatkan kejelasan dari metode maupun keabsahannya.

Proses yang perlu juga di perhatikan dalam meregulasi stres yang berkaitan dengan kesehatan lambung adalah pola tidur dan pola makan.

Tidur merupakan saat dimana tubuh beristirahat dan memperbaiki sel-sel yang rusak. Begitu juga dengan apa yang kita makan, jelas hal ini memiliki andil besar terhadap proses regenerasi sel dalam pencernaan kita. Memiliki tidur yang berkualitas dan mengurangi konsumsi junk food dapat mengurangi resiko bagi peradangan lambung.

Mengonsumsi rempah-rempah seperti kunyit, jahe, dan jinten juga dapat menyehatkan mikrobioma pencernaan. Bahkan kunyit memiliki kekuatan untuk mengatasi inflamasi di pencernaan dan sekaligus kandungan curcuminnya dapat mengurangi gejala depresi.

Semua paparan itu menjadi sebuah tolak ukur konektivitas antara pikiran dan tubuh. Sehingga proses meregulasi stres bukanlah hal sia-sia. Malah apabila dikesampingkan, hal itu sangatlah angkuh terhadap bukti yang telah dipaparkan.