Solidary dan Solitary

Keberanian sosial memang menuntut kapasitas diri untuk meresikokannya hingga mencapai intimitas yang bermakna. Intimitas inilah yang membentuk suatu daya tarik ulur antara diri dan di luar diri. Tarik ulur ini akan membentuk kerisauan batin yang berintensitas tinggi hingga mencapai taraf kecemasan akut. Kendati begitu, kita mengenal moralitas dari dialektika keduanya.

Kedua dialektika ini, antara diri dan orang lain, terjalin atas bentuk-bentuk yang selalu kita harapkan dari realitas kehidupan. Bagi orang yang serba praktis, ia lebih memilih untuk memberatkan pada salah satunya. Pada taraf tertentu keduanya memang berkarakter destruktif yang acapkali meneror. Apabila terfokus pada diri sendiri dikira antipati. Lalu jika terjun bebas dalam lingkup sosial, dianggap cari-cari perhatian.

Oleh karenanya, seseorang kadang memilih berhadapan pada salah satu teror daripada keduanya. Pastinya ini adalah upaya untuk melindungi ego atas resiko yang lebih besar. Namun upaya ini malah seringkali membentuk konflik sosial. Masyarakat menjadi terpolarisasi, pikiran penuh prasangka dan sikap acuh mendorong pertarungan antar ego yang tak berkesudahan.

Keberanian sosial juga sulit untuk mencapai wujud yang utuh dan nyata. Dewasa ini, kita seolah dibentuk hanya untuk berani telanjang secara fisik namun sulit untuk telanjang secara psikologis maupun spiritual. Dengan mudah kita menampilkan penerimaan dan ramah tamah, tetapi sulit untuk memperlihatkan harapan, ketakutan dan aspirasi yang memang terasa lebih personal.

Apalagi diskursus tentang diri dan upaya mencintainya marak terjadi akhir-akhir ini. Hal ini membuat hubungan dialektis keduanya menjadi lebih runyam. Bagi yang tidak sepenuhnya memahami, sering menjadikannya sebagai dalih untuk enggan terlibat. Walhasil, hubungan yang intim dan autentik seakan menjadi sesuatu yang asing. Mereka memilih untuk tidak bermain api dan segera pergi ke tempat tidur dalam kondisi gelap.

Sebenarnya kedua hal ini merupakan modal untuk mencapai kehidupan yang berdaya guna. Banyak di antara manusia mulia, yang kini kita anggap luar biasa, harus melewati kerumitan dalam menghadapi tarik ulur keduanya. Mereka seakan terdorong penuh gairah untuk terlibat penuh demi memenuhi hasrat yang menggelora. Di sisi lain, mereka juga harus melawan dan merasionalisasi pertanyaan seperti, “Untuk apa semua itu?”.

Salah seorang perintis ilmu psikologi, bernama Otto Rank, menyebut dialektika ini sebagai “kecemasan akan hidup” dan “kecemasan akan mati”. Kecemasan akan hidup adalah bentuk kecemasan atas kehidupan yang mandiri dan otonom. Bentuk ini menuntut untuk membenamkan diri dalam hubungan tanpa menyisakan dirinya sendiri.

Lalu, kecemasan akan mati merupakan bentuk kebalikannya. Ini adalah bentuk kecemasan akan hilangnya kemerdekaan dan sepenuhnya bergantung. Pada kecemasan ini, seseorang akan dihantui pikiran berupa terancamnya otonomi mereka. Mereka mencari berbagai cara untuk bisa merasakan kesendiriannya tanpa teror antipati.

Hubungan antara kedua kecemasan ini sebenarnya tak pernah bersifat antagonistis. “Kecemasan akan hidup” mendorong diri untuk terjun dalam kepekaan sosial dan “kecemasan akan mati” menyelamatkan diri dari jurang fanatisme. Keduanya membentuk kelenturan personal sebagai wujud realisasi diri menjadi makhluk sosial.

Seperti yang dituliskan Albert Camus dalam The Artist at Work sebagai gambaran dialektika keduanya. Kehidupan seseorang akan mencapai puncak tertingginya ketika melewati tahap kesendiriannya (solitary) dan keterkaitannya dengan massa (solidary). Ketegangan keduanya akan menentukan bagaimana eksistensi diri mampu berbicara kepada generasi yang akan datang.

Untuk itulah, keberanian sosial menuntut sebuah keseimbangan di antara keduanya. Keberanian sosial terwujud dalam kenikmatan untuk merasakan ketegangan antara debar kekhawatiran dan riangnya harapan. Tarik ulur keduanya benar-benar membuat manusia memanusiakan dirinya sendiri. Eksistensinya akan terpenuhi ketika terlibat dengan diri dan berbagai peristiwa sosial di sekitarnya.

Akhirnya, keberanian tak lagi diartikan sebagai lawan dari keputusasaan, yang memilih memberatkan pada salah satunya. Keberanian juga tak semestinya dikacaukan dengan kenekatan, yang berpusar pada pembuktian yang tak ada ujungnya. Keberanian juga bukan konformisme, yang hanya membeo kepada tuannya. Keberanian sejatinya ada dalam keseimbangan antara ketakutan dan butir-butir kepedulian.

Add Comment