Situs Cobakal dan Eyang Sawunggaling

Sudah sejak lama masyarakat Desa Bono dan Desa Kiringan mengakui tentang adanya kekuatan keramat dan nilai kesejarahan di situs Cobakal; baik mengenai tempat (atsar) tersebut ataupun juga tokoh yang dimakamkan di situs yang menurut cerita tutur bernama Eyang Sawunggaling.

Cerita-cerita mistis juga menjadi bagian dari situs makam Cobakal ini. Konon banyak yang melakukan sesirih (tirakat) untuk mendapat “Wahyu pulung pejabat”. Seseorang pernah melakukan sesirih selama 40 malam di tempat itu. Ia berdoa agar hajatnya menjadi kepala desa bisa terpenuhi. Di suatu malam, ia ditemui seekor harimau yang ternyata itu adalah tanda bahwa hajatnya akan dikabulkan. Benar saja, ia menjabat Kepala desa sampai 2 periode.

Situs makam Cobakal ini juga menjadi tempat berdoa para pedagang agar usahanya berhasil. Beberapa orang yang mengalami kesusahan dalam perekonomian, setelah melakukan sesirih di tempat keramat ini, perekonomiannya berhasil dan sukses.

Situs Cobakal juga menyimpan wewaler (pantangan) bagi para peziarahnya. Wewaler yang banyak di ceritakan adalah harta karun peninggalan Eyang Sawunggaling yang konon jumlahnya tidak ternilai. Masyarakat desa mempercayai tentang adanya seseorang yang berhasil mengambil harta karun itu. Nahas, kehidupan orang itu menjadi sial, keluarganya banyak yang mati.

Ritual Sedekah Bumi di Cobakal

Pada sekitar tahun 2016, masyarakat Dukuh Ngalian, Desa Bono, Kecamatan Tulung, Kabupaten Klaten, berniat mengadakan acara wayang kulit dan sedekah bumi (tasyakuran hasil panen). Acara ini dipelopori tokoh dan sesepuh dukuh, di antaranya Mbah Wiro, Pak Sudarno, dan Pak Ratman. Ritual adat ini diadakan karena masyarakat Ngalian merasa sebagian besar panen warganya kurang berhasil.

Penyelenggaraan acara ini diawali dengan berkonsultasi, meminta ijin, dan meminta dukungan ke beberapa pihak. Pihak tersebut adalah para Abdi Dalem Keraton Surakarta, Camat Tulung, Kapolsek, hingga Danramil. Dukungan tersebut, baik moral maupun materi, diharapkan oleh warga Ngalian agar pelaksanaan ritual adat bisa berjalan dengan lancar dan sukses.

Bentuk ritual saat itu adalah kirab gunungan yang berisi hasil panen bumi dan jajanan pasar. Iring-iringan kirab dikawal oleh para tokoh-tokoh adat dan pejabat desa. Rute yang dilewati antara lain jalan-jalan areal persawahan dari dukuh Ngalian menuju ke situs Cobakal atau makam Eyang Sawunggaling.

Sesampainya di situs Cobakal, para tokoh kasepuhan memimpin doa. Doa khusus di panjatkan untuk Eyang Sawunggaling agar warga diberi panen dari pertanian. Setelah ritual doa selesai, maka kirab di lanjutkan hingga melewati batas desa Bono dan kembali ke dukuh Ngalian. Pada malam harinya, ritual dilanjutkan dengan pentas wayang kulit dengan dalang Ki Joko Edan dari Bayat Klaten.

Kemukjizatan mulai dirasakan oleh masyarakat Bono tak lama setelah ritual adat itu. Sejak itu, warga merasakan hasil panenan dan perekonomian meningkat. “Inilah berkah dari ritual sedekah bumi, warga merasa dapat kewahyon (kemuliaan). Hasil panen meningkat yang berdagang juga laris.” tandas Pak Sudarno tokoh dukuh Ngalian.

Selain itu, keajaiban juga pernah terjadi saat menjelang acara ritual adat yang ke 3 di tahun 2019. Saat itu, Pak Sudarno selaku panitia acara, mengalami kesulitan pembiayaan untuk keperluan acara tersebut. Ia kemudian mengadakan ritual sesirih berupa melekan (tidak tidur) sebagai wujud prihatin. Sesirih ini dilakukan di rumah maupun di makam Eyang Sawunggaling.

Tak lama setelah melakukan sesirih, Pak Sudarno bermimpi didatangi sosok gaib berpakaian jubah putih. Sosok gaib itu menanyakan perihal kesedihan Pak Sudarno. Pak Sudarno pun mengutarakan hajatnya, supaya ritual adat bisa terlaksana lancar. Lalu sosok gaib itu menunjukkan uborampe yang sudah siap, dilengkapi gunungan berupa hasil bumi dan jajanan pasar.

Begitu pak Sudarno terbangun, ia merasa lega. Baginya mimpi itu adalah tanda dari Gusti Allah yang akan memberi kemudahan. Dan ternyata benar. Sejak mimpi itu, para donatur banyak yang memberi iuran. Akhirnya, acara ritual adat yang ke 3 terlaksana dengan lancar dan sukses.

Silsilah Eyang Sawunggaling

Penulis berusaha menggali info tentang situs Cobakal dan Eyang Sawunggaling. Info itu berasal dari cerita tutur masyarakat dan para tokoh yang dituakan. Menurut penuturan Pak Karep, warga dukuh Kiringan, situs Cobakal ini menunjukkan suatu tempat petilasan kuno yang konon masih berkerabat dengan pangeran dari Keraton Surakarta.

Seorang pangeran keraton diyakini pernah melakukan tapa brata di situs Cobakal untuk mendapatkan “Wahyu” (derajat kemuliaan). Tapa brata itu dilakukan karena di tempat ini terdapat makam Pangeran dari Majapahit yaitu Eyang Sawunggaling.

Tak jauh dari situs Cobakal, di daerah dukuh Kiringan, juga ada makam Kyai Ageng Wonosegoro yang merupakan trah dari Pengging, dan makam Nyai Ageng Serang yang merupakan seorang putri dari Keraton Mataram, yang juga secara gaib ada di Gedong Pusaka.

Mengenai sosok Eyang Sawunggaling, Pak Sudarno dan Pak Suratman, menuturkan bahwa sosok Sawunggaling ini memiliki kaitan dengan berdirinya Kasultanan Demak. Ketika para Walisongo banyak berdakwah menyebarkan syiar agama Islam di Jawa, terdapat seorang pangeran dari Jawa Timur yang mesanggrah (menetap) di Cobakal itu.

Cerita lain mengungkapkan bahwa Eyang Sawunggaling ini memiliki hobi mengadu ayam sewaktu muda. Selain itu, ketika mesanggarah di Cobakal, ia membawa harta kekayaan berupa emas dan berlian. Harta itu kemudian ikut dikubur di makam Eyang Sawunggaling.

Mbah Bejo Khayat, dari dukuh Karangduwet, menjelaskan bahwa Eyang Sawunggaling itu Pangeran Majapahit putra Prabu Brawijaya. Sawunggaling menetap di Cobakal karena sengaja menghindari perang saudara di Majapahit. Mbah Bejo juga menjelaskan bahwa putra Prabu Brawijaya antara lain Raden Joko Dolog (Kyai Ageng Gribik) Jatinom, Kyai Ageng Pengging, dan Kyai Ageng Giring.

Penulis mencoba untuk menelusuri dari data pustaka di buku Asal Silahipun Para Nata karya G.R.Ay Bratadiningrat dan buku Babad Kasultanan Demak Bintoro, Pajang, dan Mataram karya Suparman Al Fakir. Penulis mendapati bahwa Eyang Sawunggaling ini adalah seorang Pangeran Majapahit putra Brawijaya V yang mengikuti saudara saudaranya mesanggarah di daerah Klaten dan Boyolali. Hal ini disebabkan oleh terjadinya perang saudara di Kerajaan Majapahit.