Sains, Imanensi, dan Pandemi

Foto: Suara Jateng

Saya kira, kita sudah cukup bosan dijejali informasi perihal pandemi yang sedang terjadi berbulan-bulan ini. Mulai dari data, berita resmi, cerita orang terdampak, opini para intelektual hingga opini grup whatsapp keluarga yang setiap penghuninya seakan seperti seorang pakar serba bisa. Meski demikian, pada akhirnya kita akan berhadapan dengan sesuatu yang barangkali kita sendiri tidak tahu: pandemi.

Hari ini, wabah virus korona membuat kita berhadapan dengan pengetahuan yang tidak bisa kita sangkal. Beberapa hari yang lalu, penulis menangkap maksud dari tulisan salah satu sahabat yang dimuat oleh media cetak dengan tajuk Sains, Saintisme, dan Gerakan Anti-sains. Perkembangan sains yang cukup pesat pada abad ke-21 tidak menandakan bahwa sains kemudian menjadi satu-satunya kebenaran. Pada dasarnya ada suatu hal yang lebih penting dari sekadar perkembangan sains.

Sains, yang melahirkan inovasi teknologi hingga penemuan terbarukan, dalam pandangan kebanyakan sainstis merupakan bentuk cara berpikir. Cara berpikir dalam skala diri sendiri maupun institusi umum. Tidak hanya para saintis yang mengidam-idamkan masyarakat ilmiah, sejarawan asal Israel Yuval Noah Harari dalam tulisannya Akankah Virus Korona Mengubah Sikap Kita Terhadap Kematian? Justru Sebaliknya, juga mengungkapkan hal demikian.

Percaya pada sains sebenarnya bisa membentuk kita menjadi sosok yang tidak terlampau lugu. Akan tetapi, kepercayaan ini bukan seperti tunduk atas perintah sains pada kita, namun juga minimal memahami bagaimana cara sains bekerja. Pemahaman ini memungkinkan manusia memiliki respon yang ideal dalam menghadapi situasi krisis.

Respon ideal pada perilaku kita saat ini terlihat ketika kita menanggapi berbagai usulan sains tentang perkara memperlambat laju penyebaran virus. Hal ini seperti memakai masker, berjarak di keramaian, mencuci tangan dengan sabun atau memakai hand sanitizer apabila kita menyentuh permukaan benda yang telah disentuh orang lain. Menariknya, di saat bersamaan, penulis juga mendapati fenomena yang menarik; mereka yang ingin memerangi virus dengan agama, qunut, sholawat, dan dengan cara damai. Hal tersebut banyak ragamnya dan diikuti dengan konspirasi-konspirasi lainnya.

Pertanyaannya, salahkah cara tersebut? Atau, apakah hal tersebut bertentangan dengan logika sains?

Sebenarnya tidak ada yang salah dan memang tidak perlu dipertentangkan. Bukan bermaksud untuk memisahkan urusan agama dan urusan ilmiah, tetapi metodologi dalam sains mengajarkan kita untuk bersikap ilmiah dan empiris disertai dengan kebenarannya yang objektif. Hemat kami, ritual atau metode yang dilakukan dengan cara bacaan, sholawat atau dengan pujian-pujian lainnya belum pada tahap pembuktian yang objektif ini.

Hal yang demikian itu adalah suatu perkara Imanensi, yaitu hasil dari cara berpikir yang subjektif. Pada taraf tertentu, memang ini cukup untuk menguatkan pribadi bagi yang meyakininya. Mengingat, berbagai cara yang dilakukan manusia saat ini selalu bertujuan untuk survive. Manusia membutuhkan alternatif metode yang bisa mengurangi rasa khawatir dan membuatnya nyaman di tengah berbagai gempuran ketidakpastian.

Konspirasi memang mungkin memiliki sedikit kebenarannya. Akan tetapi, semua itu belum tentu membantu kita dalam menghadapi persoalan yang dampaknya hingga ke sektor perekonomian dan sosial-budaya kita. Agaknya kita perlu menambah referensi cara berpikir dari yang utopis ke arah yang lebih ilmiah. Terutama untuk perkara yang bersifat mu’amalah duniawiyah seperti halnya pandemi dan kesehatan masyarakat.

Pasalnya, cara berpikir sains sebenarnya tidak terlepas dari budaya kita yang senantiasa membaca (iqra’). Manifestasi dari iqra’, seperti membaca, menulis dan mengajarkan pengetahuan, merupakan bagian dari elemen penting yang mendasari pijakan perkembangan ilmuwan-ilmuwan muslim berabad-abad yang lalu. Pada titik inilah manifestasi membaca punya relevansi. Iqra’ hadir tidak sekadar menghimbau kita terkait perkara keimanan. Namun, juga meminta kita untuk berpikir secara objektif, empiris dan ilmiah.

Sampai sekarang penulis masih heran dengan sebaran informasi yang mengatakan bahwa virus korona mampu dicegah dengan cara berjemur di pagi hari selama 30 menit. Disusul kutipan teori atas informasi tersebut seperti pendekatan fisika kuantum melalui Hukum Vibrasi Bob Protoc dan Simetri-Anti simetri Erwin Schrodinger. Sampai saat ini penulis juga belum mampu memahami secara ilmiah dan detail bagaimana hukum fisika kuantum itu mampu melakukan pencegahan virus tersebut. (Khoiri Habib Anwari*)

 

*) Seorang mahasiswa Fakultas Pertanian, Universitas Sebelas Maret yang memiliki motto hidup berupa urip iku urup.

Add Comment