Relasi Positif di Antara Mahasiswa dan Pedagang Sektor Informal

Foto : Choirul Istiyanto

Selalu ada potensi di balik sebuah eksistensi. Pada kampus Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), potensi itu ada dalam transaksi sehari-hari yang dilakukan oleh pedagang sekitar kampus. Mereka, para pedagang sekitar kampus ini, adalah pekerja sektor informal yang kerapkali dipandang sebelah mata. Keberadaan mereka hanya dilihat sebagai referensi konsumsi, tapi jarang dilihat dari segi sosial dan interaksi.

Pedagang sektor informal di sekitar kampus memiliki ciri khas tersendiri. Mereka tidak terpaku dalam suatu manajemen bisnis yang kaku. Upaya mereka bertahan hidup seringkali dilandasi dengan pengalaman pribadi serta keuletan menjaga transaksi. Karena manajemen bisnis mereka lebih cenderung bersifat pribadi, perkembangan usaha mereka akan sejalur dengan daya tahan mereka.

Pedagang sektor informal di sekitar kampus, umumnya banyak menjajakan kuliner dan souvenir-souvenir. Mereka berjualan sendiri, meski terkadang ada satu dua mitra yang menemani. Skala usaha mereka juga tidak megah. Modal yang diputar pun tidak terlalu banyak. Namun, besar-kecilnya modal atau omset yang mereka putar, sanggup untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka sehari-hari. Itulah contoh daya tahan yang mereka perjuangkan selama ini.

Sasaran utama para pedagang sektor informal kampus masih berada di lingkup mahasiswa, kendati sering juga warga sekitar menjadi langganan mereka. Para pedagang sektor informal ini juga bertebaran dengan tempat berdagang yang berbeda-beda. Ada yang sekedar berjualan di depan ruko, ada yang mendirikan tenda di antara ruko-ruko besar, bahkan ada pula yang hanya sekedar berhenti sebentar di sepanjang jalan itu, lalu kembali berjalan atau mengayuh sepedanya untuk mencari pembeli.

Pemandangan seperti ini akan mudah ditemui jika kita berkunjung ke wilayah sekitar UMS. Seolah-olah mahasiswa tak bakal kehabisan referensi konsumsi. Akan tetapi di balik hiruk pikuk aktivitas jual beli, ada persoalan mendasar yang tampaknya kurang disadari. Persoalan itu adalah ketidaksadaran mahasiswa pada modal sosial pedagang sektor informal yang kasat mata, tapi menjamin daya tahan bersama antara mahasiswa dan para pedagang sektor informal.

Mushodiq, salah seorang penjual makanan ringan di dekat kampus mengatakan, bahwa selama pandemi ini sektor informal di sekitar kampus menghadapi banyak tantangan. Kampus sekarang jadi sepi, tak seperti dulu semasa sebelum pandemi. Mahasiswa masih ada yang berada di kampung halaman karena perkuliahan digelar secara daring. Tak ayal jika pedagang sekitar kampus mengalami penurunan penjualan.

Berdaya Bersama Mahasiswa

”Pekerjaan besarnya ya kuat-kuat ke depan Mas. Kalo ga kuat ya bangkrut, kukut Kalau kuat ya masih jalan terus. Kebetulan sekarang saya masih kuat. Masih ada semangat ngumpulin uang hari per hari. Ya jadi masih bertahan sampai sekarang,” ujarnya.

Permasalahan Mushodiq masih berpangkal pada penurunan transaksi yang terjadi selama pandemi. Sebab, sasaran utama mereka adalah para mahasiswa. Kalau mahasiswa tak lagi berada di kampus, terang mereka mengalami penurunan penjualan. Akibatnya pemenuhan kebutuhan hidup mereka sehari-hari jadi tersendat. Perputaran uang tak semulus biasanya. Beberapa pedagang mengatur rencana dengan berhutang. Tapi itu seperti lingkaran yang tak berkesudahan. Apabila tak ada pemutus rantai yang radikal, bunga hutang seperti terus mencengkram para penghutangnya.

Sementara itu, Yusuf Anwar, selaku aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Komisariat Pabelan mengatakan, bahwa sektor informal itu bisa berdaya bersama mahasiswa. Berdaya bersama-sama akan membuka peluang pertemanan baru atau jaring pengaman sosial baru. Pedagang jadi memiliki sebuah sandaran baru. Dan mahasiswa punya wadah untuk mencari solusi dari lingkungan sekitar mereka.

”ini seperti laboraturium sosial dan kewirausahaan buat para mahasiswa. Bisa jadi kegiatan yang menarik. Lagipula daripada para aktivis mahasiswa diskusi terus, ada kalanya langsung mencari solusi untuk persoalan ekonomi di sekitar kita,” ujarnya.

Pernyataan ini senada dengan apa yang diungkap oleh Aji, mahasiswa UMS. Ia mengatakan, mahasiswa terutama para aktivis, perlu turun tangan langsung di sini. Sebab menurut Aji, aktivis mahasiswa memiliki koneksi dan jaring pertemanan yang luas. Ia membayangkan nantinya para pedagang di sekitar kampus ini bisa diberi penyuluhan kewirausahaan yang diadakan oleh para aktivis mahasiswa yang nantinya dapat berujung menjadi nilai tambah bagi semua pihak.

Di sisi lain, sebenarnya daya tahan pedagang sektor informal kampus tak hanya berbicara tentang kapital. Daya tahan pedagang sektor informal di sekitar kampus juga ditentukan dari tingkat adaptasi yang mereka miliki. Tingkat adaptasi mereka berpengaruh besar pada kinerja mereka sehari-hari. Itu berlaku karena usaha mereka identik dengan diri mereka sendiri. Maka, interaksi saban hari dengan para pembeli dapat menjadi suatu dorongan positif bagi produktivitas para pedagang sektor informal di sekitar kampus.

Kembali Mushosiq juga menyatakan pendapatnya. Baginya komunikasi antara penjual dan pembeli ini nanti akan mempengaruhi antusiasmenya ketika berjualan. Tatkala bertemu dengan pembeli yang ramah dan membuka diri pada bahan oborolan seadanya, ia seakan mendapat suatu energi tambahan. Apalagi jika pembeli itu mau berlama-lama untuk sekedar mengobrol bersamanya, siapa tahu Mushodiq mengatakan, ada insipirasi yang bisa dipetik dari situ.

Menanggapi pernyataan Mushodiq tersebut, Yusuf Anwar mengiyakan tambahan semangat dari interaksi. Interaksi, menurut Yusuf, tidak dapat dihitung dengan angka secara kuantitatif. Interaksi adalah denyut nadi kehidupan masyarakat. Dengan kata lain, interaksi seperti gejala masyarakat di suatu tempat. Jika ada interaksi positif di antara penjual dan pembeli, ada suatu transaksi sosial di dalamnya. Nantinya hal ini mengikat para penjual dan pembeli ke dalam jaring pengaman sosial.

”Kalau ada interaksi, nanti jadi tahu apa masalahnya, gimana enakanya nyelesein masalahnya. Nah di sini ini aktivis masuk. Kalau sudah begini, malah jadi asyik mengerjakannya.”

Yusuf menambahkan, bahwa sudah semestinya mahasiswa mulai bergerak mendampingi sektor informal kampus. Karena selama ini pedagang sektor informal kampus seperti dibiarkan begitu saja. Padahal jika didampingi pemasaran, dinamika, dan keberadaannya, mereka berpeluang memberi representasi baik bagi kampus beserta para penghuni di sekitarnya. Kini sudah waktunya kampus dan para penduduk sekitar kampus, seperti mahasiswa, mulai peduli dengan pedagang sektor informal. Kecil tapi bernilai, sebagaimana sebuah interaksi dan apresiasi.