Perempuan yang Menulis

Foto : Dotadengankomputerkitaberbicara.com

Perempuan menulis kini sebuah keniscayaan. Perempuan yang tidak terbiasa menulis akan kehilangan cara menunjukkan jejak kiprahnya untuk para generasinya. Generasi butuh referensi gerakan para pendahulunya untuk mempelajari tingkat keberhasilan dan menghasilkan terobosan baru dan temuan baru dalam pergerakan. Gerakan sosial perempuan akan menguap jika tidak terekam dalam jejak digital. Itulah sebabnya media memegang peran penting dalam mendokumentasikan segala bentuk manuver pergerakan perempuan.

Selama ini media menempatkan posisi perempuan sebagai objek pasif dan asing di tengah meriahnya gebyar teknologi. Perempuan juga kerap menjadi pemuas kepentingan konsumerisme yang bersifat patriarki, akumulasi modal, serta sebagai model visualisasi objek hasrat. Sesekali sebagai objek reportase politik, tapi lagi-lagi dampak yang muncul tidak berpihak pada perempuan itu sendiri. Analisis Michel Foucault, sosiolog berkebangsaan Prancis dalam hal ini telah menerangkan bahwa tubuh merupakan pusat kenikmatan dan sensasi. Artinya tubuh menjadi politis akibat menjadi arena kekuasaan.

Dalam konteks kekuasaan kapitalisme melalui industri medianya, tubuh perempuan dikategorisasi dan diidealisasi menjadi bukan sekadar balutan ragawi belaka, melainkan melibatkan penilaian atas dasar seksualitas dan erotisme di dalamnya.

Untuk itulah mengapa harus mulai berpikir bagaimana ia menjadi subjek aktif. Mengemas diri sebagai pelopor pergerakan dan perubahan setidaknya dalam ranah kecil keluarga. Perempuan harus menulis. Perempuan penulis akan mempunyai daya tawar khusus di kehidupan sosialnya.

Kartini adalah sosok perempuan menulis. Karyanya Habis Gelap Terbitlah Terang adalah contoh karya seorang perempuan tangguh yang menceritakan kehidupan dan kesulitan-kesulitan pada zamannya. Dari karya itu kita bisa melihat bagaimana cara berpikir Kartini, bentuk keaktifannya di kehidupan sosialnya, karakter pergerakannya dan cita-cita serta keresahannya. Sehingga pada zamannya, saat perempuan harus tunduk pada bendera patriarki, seorang Kartini begitu memiliki nama yang disegani meskipun banyak pertentangan.

Perempuan menulis artinya perempuan melibatkan dirinya di dalam ranah media massa. Menulis di sini adalah aktivitas literasi dimana perempuan sebagai subjek menuangkan ide-ide dan gagasannya pada sebuah tempat yang tepat bernama media. Ia bisa menjadi penulis lepas ataupun menjadi jurnalis. Namun sayang, perbandingan jumlah jurnalis dan jurnalis laki-lki masih sangat jauh. Menurut riset Aliansi Jurnalis Independen (AJI) di antara 10 orang 2-3 diantaranya adalah jurnalis perempuan. Di negara maju, Finlandia, jumlah jurnalis perempuan mencapai 49%. Artinya apa? Di Indonesia, keterlibatan perempuan di dalam media massa masih sangat jauh. Ini terjadi karena banyak faktor. Pertama, rendahnya minat literasi perempuan, kedua, kurangnya akses perempuan ke media massa, ketiga, lingkungan yang membentuk perempuan itu sendiri.

Selama ini kita tahu faktor yang pertama adalah faktor penyebab utama. Indonesia menempati peringkat terbawah kedua setelah Botswana untuk rendahnya minat berliterasi. Rendahnya pula kesadaran perempuan untuk eksis menunjukkan potensi dirinya sendiri. Proyek modernisasi menggeser nilai-nilai baik yang terkandung dalam sebuah upaya pendidikan masiv. Munculnya produk-produk terobosan teknologi komunikasi seperti gawai menggeser komunikasi verbal, kontak mata, dan sentuhan fisik. Semua terganti secara virtual digitalis.

Produk-produk visual mendominasi telak untuk sebuah industri komunikasi. Tak bisa dipungkiri ini jauh lebih menarik dan diminati terlebih kaum milenial dan progresif. Akhirnya secara perlahan dan pasti kebiasaan dan karakter hobi membaca jadi tergeser menjadi hobi penikmat konten video. Menulis itu hasil review apa yang kita baca, kita lihat lihat dan kita rasakan. Jika minat membaca telah bergeser kecenderungan untuk menulis pun juga tipis. Padahal perempuan harus menulis, tak bisa ditawar.

Media massa berfungsi menyampaikan fakta. Karena itu, gambaran perempuan dalam media massa merupakan cermin realitas yang ada dalam masyarakatnya. Mengharapkan setara dalam segala sesuatu adalah sebuah utopia. Meskipun, kaum wanita bisa saja berdalih itu adalah cita-cita dan perjuangan. Ketimbang mempersoalkan terus-menerus mengenai kesetaraan gender, feminis – maskulin, alangkah lebih baiknya jika perempuan lebih menunjukkan prestasi, karya, kecakapan dan peran dalam masyarakat yang tidak kalah dengan kaum laki-laki. Sehingga, gambaran ideal tentang perempuan pun akan tampil dalam media massa. Dan perwujudan nyata prestasi perempuan yang bisa langsung terekspos media adalah karya tulisnya.

Bergeser sedikit tentang kiprah perempuan di media. Dalam media di Indonesia stereotipe tentang perempuan melekat dalam berbagai tayangan; dari sinetron, infotainment, telewicara, hingga berita. Gambaran tentang perempuan pemarah, pencemburu, pendendam ada dalam tayangan sinetron. Tayangan infotainment memprogandakan pasangan sebagai hal yang paling penting dalam kehidupan perempuan. Jika seorang artis perempuan tidak berpasangan, maka ia akan terus dikejar-kejar pertanyaan pekerja infotainment. Status lajang menjadi status buruk bagi perempuan yang dilekatkan oleh infotainment di televisi kita. Hal lainnya adalah status cantik yang melekat dalam industri media televisi. Siapa saja yang tampil menjadi selebritas di televisi harus selalu cantik. Jika tak cantik, maka seorang perempuan akan mendapatkan ejekan: tak seksi, kurang putih, mukanya kurang menjual, kalah pamor dari perempuan cantik lainnya(Asrini, 2013).

Ibu, perempuan-perempuan yang siap sakit dan perempuan-perempuan yang pandai meracik sendiri obatnya. Pergerakanmu tak akan dibaca generasimu tanpa kau tulis. Ayo menulis! (Ika Nidaul Haq)*

Jurnalis asal Boyolali. Kini berdomisili di Klaten.

Add Comment