Perempuan yang Berdaya dengan Bank Sampah

News.unair.ac.id

Akibat gaya hidup sekali pakai, dewasa ini masyarakat perkotaan tengah menghadapi permasalahan sampah yang bejibun. Resikonya, agar tidak sekedar merugikan lingkungan harus ada cara ampuh supaya sampah bisa menjadi sebuah hal yang bermanfaat. Namun, karena terlanjur lekat dengan penilaian kotor, ide-ide pengolahan sampah menjadi sesuatu yang sangat sulit untuk dilakukan.

Ibarat kata pepatah, bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian. Mungkin itulah kata-kata yang tepat untuk menggambarkan perjuangan mengolah sampah. Kita tahu orang segan bersentuhan langsung dengan sampah karena anggapan buruk yang lebih dulu melekat. Padahal, sampah bisa jadi cerminan bagaimana gaya hidup kita selama ini berjalan. Sejauh ini, kebanyakan orang sering mengabaikan hal itu.

Dari masalah sampah itu, bank sampah mungkin adalah salah satu solusi yang cukup menjanjikan. Lewat bank sampah, penilaian buruk tentang sampah perlahan bisa dihapus. Di dalam bank sampah, sampah dipilah-pilah mulai dari yang organik dan non organik. Usai dipilah-pilah, sampah-sampah ini pun dikumpulkan. Hingga kemudian, pilihannya dapat diputuskan antara, didaur ulang atau ditingkatkan nilainya.

Prosesnya tidak berhenti sampai di situ. Di bank sampah ada yang namanya nasabah. Setiap nasabah datang dengan tiga kantong berbeda. Kantong 1 berisi plastik, kantong 2 sampah kertas, dan kantong 3 berupa kaleng dan botol. Ketika menimbang sampah, nasabah akan mendapat bukti setoran dari petugas pencatat. Bukti itu jadi pencatatan. Setelah sampah terkumpul cukup banyak, petugas menyalurkannya kepada tukang pikul. Dan kemudian tukang pikul membelinya dengan hitungan yang sudah disesuaikan.

Selain itu, bank sampah memiliki banyak manfaat yang lain. Bagi manusia dan lingkungan hidupnya, bank sampah dapat berguna untuk kebersihan lingkungan tempat tinggal. Manfaat lainnya, hasil dari peningkatan sampah yang sudah diolah ini dapat menjadi penghasilan tambahan bagi para pengolah-pengolah bank sampah yang ada di tempat tinggal masing-masing.

Bank sampah, bisa pula disebut tempat menabung sampah dalam arti yang sebenarnya. Lebih jelas lagi, nasabah menabung sampah di tempat bank sampah mereka. Bank sampah adalah Jaringan Lingkungan sekaligus sebuah gerakan mewujudkan Indonesia Go Green melalui pemanfaatan sampah menjadi material yang memiliki nilai ekonomis.

Akan tetapi, itu semua mungkin tak akan jadi apa-apa jika anggapan negatif dari masyarakat terus bercokol. Semua manfaat, iming-iming, ataupun hasil positif akan menjadi sia-sia selama masyarakat terus saja beranggapan negatif tentang sampah dan bank sampah. Intinya, bank sampah dapat bergerak jika kepekaan masyarakat atas lingkungannya itu tinggi dan dapat diterjemahkan dengan ambisi untuk melakukan perubahan sosial.

 

Kelompok Perempuan dan Bank Sampah

Kelompok Perempuan Menur 1 di Kelurahan Kestalan mungkin adalah salah satu pengecualian tersebut. Mereka dapat membuktikan mitos-mitos ”Sampah menjadi berkah” itu benar-benar nyata. Dari tangan ulet mereka, bukti bahwa sampah menjadi sebuah penghasilan tambahan itu betul-betul sebuah fakta. Itu semua tidak terjadi dalam sehari semalam. Mereka bisa mencapai titik yang sekarang ini dengan melalui proses yang tidak mudah.

Perempuan-perempuan di kelompok ini bukanlah kelompok perempuan yang semuanya berusia produktif menurut ilmu kependudukan. Namun, itu bukanlah halangan bagi mereka untuk berkarya. Dengan semangat untuk melakukan perubahan, kelompok ini berhasil menggalakkan program bank sampah. Walaupun di pertengahan jalan, sebagian anggota sudah mulai tidak aktif.

Pada awalnya, Kelompok Perempuan Menur 1 ini merupakan bagian dari kelompok binaan dari Yayasan Spek-HAM. Dengan pendampingan yang rutin dari Comitte Organizing divisi Suistanble Livelihood, kelompok ini berhasil mendirikan bank sampah mulai tahun 2016. Mula-mula kelompok ini terbentuk, ada sekitar 15 orang yang berpartisipasi. Sekarang, selama dua tahun berjalan, 15 orang ini masih menjadi anggota walau ada separuh yang kurang aktif.

Heny Paryani adalah koordinator Bank sampah Menur 1 ini. Heny berjualan jajanan kecil di teras rumahnya. Selain menjalani kesibukan sebagai ibu rumah tangga dan berdagang, keluarganya adalah motor di RT (Rukun Tangga) dan Dasawisma di lingkungan tempat tinggalnya. Heny sendiri pun mengakui karena karakteristik dirinya yang tegas itu, dia dapat mengontrol keberlangsungan bank sampah Menur 1 sampai sekarang, ”Lha mau gimana lagi Mas, saya sendiri orangnya tegas dan cerewet. Ya jadi memang harus saya yang menghadle ini,” Tuturnya.

Awal cerita pendirian bank sampah ini memang mendapat banyak tanggapan. Tentunya, kata Heny, ada penolakan dan pula dukungan. Akan tetapi, karena menurutnya ini dapat bermanfaat bagi perempuan di lingkungan sekitar, dia maju terus. Apalagi karena ada dukungan penuh dari Yayasan Spek-HAM dan kelurahan, ia jadi bersemangat menjalaninya ”Di sini itu kelurahannya sangat mendukung Mas, jadinya memang seneng melakukannya,” Ujar Heny.

Selama ini yang dilakukannya bersama dengan rekan-rekan perempuan memang tidak mudah. Tetapi berkat keyakinan dan ketekunan, semuanya membuahkan hasil. Dari bank sampah tersebut, ia sekarang memiliki Pra-koperasi simpan pinjam beserta usaha kecil-kecilan parcel ketika hari raya tiba, ”Ya itu semua dijalankan bersama dengan teman-teman yang tergabung dalam kelompok ini,” katanya.

Berkat itu semua, kata Heny, ada sebuah rasa percaya diri yang muncul dari dirinya dan rekan-rekan yang terlibat di bank sampah. Di luar tambahan penghasilan, entah mengapa menurut Heny, ada rasa optimisme dan kesenangan tersendiri meski hasilnya tidak seberapa, ”Mungkin karena kerja sama dan bagi hasil bareng itu, jadi ada rasa saling membantu-Nya”

Ada cerita menarik dari Heny, dulu sewaktu akan memulai bank sampah ini, keinginannya sempat diprotes oleh suaminya. Heny bercerita bahwa suaminya sempat tidak setuju melihat Heny mengurus sampah dan mengelola hal-hal seperti itu. Namun, dengan pengertian yang diberikan olehnya, lama-lama suaminya luluh. Suaminya pun mengizinkan, asalkan apa nan ia perbuat itu menghasilkan sesuatu yang positif.

Sekarang Heny berhasil memberi bukti bagi suaminya. Anggota-anggota bank sampah kelompok Menur 1 yang kebanyakan pedagang kecil itu lama kelamaan dapat meninggalkan kebiasaan berhutang. Selain bermanfaat bagi dirinya sendiri, ternyata meski banyak aral melintang, Heny bisa berbuat sesuatu di lingkungannya, ”Saya sendiri sudah bilang sama suami, kalau saya terlibat, mungkin bakal menambah lingkaran pertemanan, dan ini bakal memudahkan keluarga ketika menghadapi suatu permasalahan,” Ungkapnya.

Heny, suami dan lingkungannya adalah hal-hal yang saling menopang dalam komunitas. Sesuatu yang dilakukan oleh Heny mungkin tak langsung mendapat nilai yang baik dari lingkungan karena stereotipe yang terlanjur membudaya. Karena itu, hendaknya ada dukungan dari pasangan, terutama pihak laki-laki dalam keluarga. Keluarga adalah institusi politik terkecil dalam masyarakat. Lewat strategi budaya yang baik sedari level keluarga, harapannya ada sebuah dinamika positif dalam pemberdayaan kaum perempuan

Kini sudah saatnya perempuan lebih bisa berdaya lagi di masyarakat. Kelompok Menur 1 adalah sebuah contoh jitu. Jika perempuan saja berani berbuat positif dengan sampah yang biasa dianggap kotor, maka sudah selayaknya secara kultural dan struktural perempuan mendapatkan ruang-ruang pemberdayaan lebih dari sekedar itu. Dan semuanya lagi-lagi kembali pada sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat kita.