Pasar Buku Gladak di Antara Intelektualitas dan Pemberdayaan

Di tengah kemajuan teknologi ada hal menarik yang sering menjadi objek perburuan intelektual di Kota Solo. Objek itu bernama Pasar Buku Gladak. Di sana disajikan buku dari yang baru hingga bekas dengan kualitas yang tidak bisa dipandang remeh. Melihat itu akan timbul optimisme bahwa buku akan terus hidup, karena selalu ada reproduksi pengetahuan oleh para pembaca dan pemikinya.

Di bawah pohon nan rindang di situlah terdapat ruang dan sumber intelektual dan banyak pegiat ataupun pecinta literasi berburu pasokan pengetahuan. Pada segala penjuru kompleks itu disajikan banyak kategori buku yang bisa didapatkan mahasiswa ataupun masyarakat dalam memilah buku yang mereka minati.

Solo kini banyak didatangi mahasiswa dari luar kota, faktornya tak lain karena terdapat berbagai universitas yang dijadikan sebagai ruang tempat pembelajaran. Tak jarang, banyak mahasiswa yang mengunjungi tempat tersebut untuk memperkaya khazanah pengetahuan agar tak kecut ketika diuji masalah keilmuan.

“Nggladak” ataupun “Gladak” sering dijadikan julukan, dan terkenal dan tak asing didengar karena sering dijadikan target kunjungan bagi mahasiswa ataupun masyarakat yang haus untuk mencari buku.

Aroma buku lawas itu menjadi daya tarik beberapa pengunjung untuk berlama-lama membaca dan juga ada beberapa yang fokus untuk mencari substansi atau esensi dari mencari buku untuk keperluan yang lebih matang yaitu kepentingan reproduksi pengetahuan. Memang tak bisa diingkari bahwasanya Gladak menjelma salah satu mercusuar pasokan pengetahuan masyarakat Solo.

Pasar Gladak dan Reproduksi Pengetahuan

Berbicara tentang intelektual maka tak jauh untuk berbicara tentang buku. Intelektual terbentuk karena benturan nalar yang berlanjut untuk mendapatkan arti dan interpretasi dari setiap proses kehidupan yang dijalani. Susah untuk para intelektual itu hidup satu haripun tanpa satu paket buku.

Haus dan haus atas pengetahuan sebagai sebuah cerminan bagaimana penghargaan dan cintanya mereka kepada pengetahuan yang dijadikan sebagai pegangan untuk bisa mengasihi dan berbagi atas ilmu yang telah didapatkan.

Pasar Buku Gladak bukanlah toko buku satu-satunya yang berada di Kota Surakarta. Ada pula Pasar Buku Sriwedari yang berlokasi di belakang Taman Sriwedari Kota Surakarta. Sebenarnya banyak objek tempat yang mulai bermunculan untuk kepentingan penguatan intelektualitas melalui buku. Dan berjalannya waktu, banyak penerbit yang mulai menjejakan kaki untuk menjadi pemain baru provider literasi.

Hampir setiap bulan pemilik toko memperbarui pasokan buku untuk dipasarkan setiap harinya di toko tersebut. Kebanyakan buku yang dipasarkan adalah buku bekas yang mempunyai nilai nominal bervariatif. Ketelitian dan kesabaran perlu sekali untuk mendapatkan buku yang berkualitas.

Semua buku berkualitas, tapi ada beberpa pengelompokan atas kualitas berdasarkan pengarang dan mungkin penghargaan dari karya sastra yang membawa buku itu naik dahun. Sering terjadi Menyelinap hingga bagian terdalam nan lumayan sempit dibawah meja, beberapa orang sering melakukannya untuk mendapat buku yang mereka inginkan.

Kadang diletakkanlah berbandel buku pada depan toko, dan ada pula yang rela menyediakan rak rapi untuk katalog buku. Sekitar lima belas toko berada di kompleks toko tersebut. Kita bisa memilah dengan nyaman dan ditemani penjaga toko yang siap membantu apa opsi buku yang kita butuhkan.

Bilapun kita teliti dan sabar memilah berjam-jam, bisa juga kita mendapatkan karya sastra terkenal karangan Mochtar Lubis ataupun roman Burung-Burung Manyar milik Romo Mangun. Bila lebih teliti, kita pun bisa menemukan sebandel majalah Prisma yang terkenal dengan menyajikan opini dari para pakar yang tak usang-usangnya dan bosan kita baca walaupun hampir kusam kertasnya ditelan usia.

Pohon beringin yang berdiri nan rindang memayungi Pasar Buku gladak memayungi dari sengatan surya siang yang tak pernah dirasa selain di Pasar Buku Gladak ini. Keheningan toko nampak mulai terlihat baru-baru ini, karena pelanggannya yang kebanyakan mahasiswa dipaksa pulang ke kandang masing-masing karena pandemi.

Nampak juga ratapan dan lamunan dari penjual yang selalu mengharap kedatangan pelanggan untuk membeli buku yang ia miliki. Tak segan mereka menanyakan dengan sayu dan harap untuk pulang dari tempat itu tidak dengan tangan hampa.

Memang minat baca bangsa ini yang tak begitu masif dibandingkan dengan Eropa, memberikan gambaran konkrit mengapa pagelaran toko buku sering sepi dan segelintir pengunjunglah lah yang mendapat ilham melek literasi. Hal ini bukanlah hujatan, mungkin bangsa ini butuh proses untuk sadar.

Harapan datang ketika orang-orang yang tercerahkan ini bisa merekonstruksi atas ilmu yang telah didaptkan. Rekonstruksi ataupun dekonstruksi adalah reproduksi suatu ilmu pengetahuan. Gladak yang berkontribusi menyedikan buku-buku ini, menurut saya berjasa bagi mereka orang-orang yang sadar. Sadar literasi.

Toko Buku Gladak dan Kemajuan Teknologi

Nampak kecut dan lesu ketika minim pelanggan datang. Apakah karena faktor pandemi? Atau memang minat baca yang rendah? Nampak sepi di kompleks Pasar Buku Gladak, dan bervariasi faktor sepi pembeli toko ini.

Sering terdengar di telinga, sebuah celetukan : Indonesia minim minat baca, sindirian itu kerap disampaikan para pegiat media dan literasi untuk membangun kesadaran baca dan menulis. Bisa jadi sepi pembeli dan pelanggan itu diakibatkan dari minimnya membaca, atau bahkan pelanggan ataupun pembaca beralih ke sistem yang terbarukan?

Sekarang ini, dengan gawai kita bisa akses dan mendapatkan apapun. Tinggal kepiawaian kita dalam mengelola dan menyalurkannya. Begitu juga dengan buku. Banyak penjual yang beralih untuk menjual bukunya kedalam sistem online, karena dipaksa oleh sistem yang tengah berjalan pada fase peralihan ini.

Proses jual ataupun beli dengan langsung, sedikit demi sedikit akan berkurang. Maraknya penggunak teknologi e-money menambah kuat posisi jual beli online ini berlangsung. Salahkah demikian?

Berbicara salah atau tidak terdengar sangat begitu pragmatis, toh kemajuan itu adalah hasil tempa manusia atas kesadaran untuk lebih maju dan berkembang. Kita dituntut untuk cekat-ceket dan teliti agar tidak ketinggalan zaman.

Ilmu pengetahun dan teknologi sejatinya adalah satu kesatuan yang memiliki korelasi untuk menciptakan perkembangan dan perubahan. Talcott Person antara lain berkata: “Science terjalin intim (intimately intergrated) dengan suatu keseluruhan struktu sosial dan tradisi kebudayaan… hanya dalam suatu jenis masyarakat tertentu science berkembang.”

Walhasil pengetahuan tidak pernah netral, akan tetapi memiliki sebuah keberpihakan karena konteks penciptaan yang dimulai dari subyek untuk mendedah problematikan obyek. Proses sosial ini tidak datang dari ruang kosong semata, melainkan hasil konstruksi yang berkembang.

Perlu ada penyambung lidah untuk penjual buku di pasar Gladak ini. Kungkungan dan corak dari penjual yang “mohon maaf” kadang masih kuno, harus merubah sedikit demi bersaing dan survive dari gencaran pasar yang terkesan bebas ini.

Sudah mulai muncul penjual buku bekas, yang memasuki sektor jual melalui pasar digital. Sistem pendukung dan pengiriman yang kian menjamur, nambah memperbudah pembeli untuk mendapatkan barang tanpa harus sesak dan panas menerjang kepekikan jalan dan menghemat waktu.

Menjual buku, dan beberapa kerja-kerja intelektual memang membutuhkan kolaborasi kreatif atau bahkan support system seperti yang pernah disampaikan Taufik Nandito dalam opininya Double Movement Pekerja Kreatif. Dalam hal ini, strategi tag dalam media menjadi bagian dari Support, karena langkah ini mampu mengelompokan atas algoritma terbanyak dari subjek yang sering dijadikan opsi.

Ketika Romo Mangun mengklasifikasikan masyarakat Amerika dalam bukunya Di bawah Bayang-Bayang Adikuasa beliau mengklasifikan atas beberapa aspek. Ada beberap bagian yang bisa kita petik untuk pembelajaran. Salah satunya tentang The Crafman. Bagaimana relevansinya?

Kebebasan di sana memantik berpikir 500 kali, untuk bisa bertahan hidup, kemiskinan dan pengangguran di Amerika sebenarnya besar, akan tetapi sering tertutup oleh gaya glamour artist yang terkesan modist dan modern apabila dilihat oleh masyarakat kita.

The Craftman. Begitulah Romo Mangun menyebutnya. Mereka siap menerima bentuk perubahan dari yang berbahaya hingga yang lembut. Bahkan proyek nuklir ataupun senjata biologis akan dilahap untuk sebuah masterpiece perubahan. Tapi bukan sesempit itu kita akan meniru.

Kesejahteraan yang termaktub dalam Pancasila bisa dinobatkan telah mencapi status Quo Vadis. Kondisi hampir mengarah ke situasi pra-kondisi liberalisme atau bahkan mungkin kita sudah memasukinya, namun kita tidak menyadarinya. Untuk itu, karakter-karakter TheCraftman harus dibentuk agar bisa survive untuk menghadapi situasi pasar yang tidak menentu. Di Pasar Buku Gladak, kita perlu para Craftman dengan polesan kearifan lokal. Fungsinya, agar di masa depan hubungan timbal-balik antara kampus sebagai tempat berlangsungnya reproduksi pengetahuan secara resmi, dengan masyarakat, terutama ekosistem perbukuan Gladak, terus bergulir. Semoga itu bisa terwujud. Sekian.

Add Comment