Merawat Sungai ala Desa Glagah Jatinom

Foto : Dokumen Pribadi

Betapa pentingnya branding sebuah desa. Dengan menemukan potensi yang dimiliki, sebuah desa dapat berkomunikasi dengan publik luar. Dari sana, upaya saling melengkapi lalu terbina dan berujung pada kebaikan bersama sebagai sesama warga desa, juga sesama manusia.

Desa Glagah, contohnya. Berada di wilayah Kecamatan Jatinom, Kabupaten Klaten, desa dengan lusinan potensi terpendam ini masih berusaha mencari bentuk terbaik. Sekian waktu diikhtiari, Glagah kini siap bertumbuh kembang bersama zaman.

Salah satu hal menarik dari Glagah adalah situs Sendang Glagah. Selain sejarah yang tengah digali, sendang tersebut dianggap warga sebagai pemberian Tuhan yang layak dijaga, dirawat, dan terus dilestarikan. Bukan hal mudah sebenarnya. Tapi dengan kesungguhan, bukan mustahil mewujudkan Sendang Glagah sebagai ikon desa.

Secara geografis, sendang tentu saja terhubung dengan sungai. Kesadaran menjaga sungai bukan hanya sebuah kebutuhan, tapi jalan hidup. Apabila baik sungainya, baik pula sendangnya. Sungai yang baik, karena warga sekitar sungai yang memang menghormati sungai sebagai sumber kehidupan.

Selama ini, sungai diartikan sebagai sistem drainase dan sanitasi alamiah. Sungai dianggap tempat untuk mengalirkan kelebihan air, tempat mengalirkan limbah cair, dan tempat membuang limbah padat yang tidak terpakai. Karena anggapan ini, sungai identik dengan tempat bermuaranya air kotor maupun air hujan.

Padahal, sungai merupakan sebuah ekosistem yang hidup. Setiap kebijakan yang berhubungan dengan sungai haruslah mengikutsertakan semua komponen ekosistem sungai, termasuk masyarakat yang terkait langsung atau tidak langsung terhadap sungai. Mari memandang sungai sebagai suatu sistem yang menerus, dari hulu ke hilir.

Selanjutnya, sungai berkaitan erat dengan eksistensi sumber air. Sungai yang terawat dapat berimplikasi pada sumber air yang terawat, pun sebaliknya. Sendang, salah satu sumber air, kemudian menjadi prioritas penjagaan dan perawatan, selain umbul atau mata air lainnya. Kebajikan dan kebijakan dibutuhkan untuk mengawal hal itu, dan didukung segenap warga, bukan hanya keluarga yang tinggal tak jauh dari sungai.

Kenduri Bersih Sendang

Untuk merawat nilai-nilai penghormatan atas sungai, Desa Glagah memiliki tradisi Kenduri Bersih Sendang Glagah. Dilaksanakan setiap bulan Suro pada penanggalan Jawa, warga membawa sesaji, berupa nasi, lauk pauk, ingkung, serta pisang raja dan ubo rampe lain. Bukan hanya kenduri, pada malam harinya, diselenggarakan pagelaran wayang kulit.

Kegiatan yang selalu meriah tersebut merupakan tradisi sejak zaman dahulu. Warga Desa Glagah bergotong royong serta berbaur menjadi satu dalam kemajemukan. Momentum langka yang terus ditunggu warga sebagai ekspresi kebersamaan, karena air adalah kehidupan itu sendiri.

Beberapa tahun terakhir, setiap kali usai Kenduri, warga kemudian terjun bersama-sama membendung sungai. Tujuannya, agar air kembali muncul, setelah surut akibat penambangan di sekitar sungai dan Sendang Glagah. Air yang mengalir dari sungai dimanfaatkan warga untuk irigasi pertanian.

Kenduri Bersih Sendang merupakan potret komitmen warga Desa Glagah untuk melestarikan sumber air. Komitmen yang tentu saja tidak dapat berdiri sendiri, karena Desa Glagah juga terhubung dengan berbagai desa sekitar. Upaya merawat air yang belum maksimal ini semoga dapat menjadi semangat tak berkesudahan untuk terus hidup harmonis dengan alam.

Sendang Glagah, bagaimanapun keadaannya, adalah bagian dari sejarah serta kehidupan Desa Glagah, kini hingga kapan pun. Sendang yang dapat menjadi ikon branding desa, karena melestarikan penghormatan atas air, sumber air, dan kehidupan

One thought on “Merawat Sungai ala Desa Glagah Jatinom

  1. Jos pak lurah, semoga selalu di berkahi , sesuatu yg di niati baik pasti akan baik juga hasil nya…. Joko esek

Comments are closed.