Makarya: Sebuah Solusi Penguatan Industri Agribisnis

Sumber foto: pixabay.com

Tahun 2020 menjadi tahun terberat bagi siapapun. Hantaman pandemi menggoyahkan berbagai sektor mulai dari ekonomi, pendidikan, hingga pemerintahan. Setahun umat manusia menghadapinya, semua seakan saling berjuang keras agar mampu bertahan.

Di bidang ekonomi, Pandemi menyebabkan seluruh aktivitas, dari produksi hingga distribusi, mengalami gangguan. Badan Pusat Statistik (BPS) merilis pada kuartal kedua bahwa pertumbuhan domestik bruto hanya berkisar -5,32. Hal ini mendorong sektor formal maupun informal merubah pola perekonomiannya.

Sektor formal melakukan pembatasan kerja untuk mencegah penyebaran virus yang lebih luas. Pembatasan itu mulai dari pengurangan jam kerja, bekerja di rumah, hingga merumahkan karyawan. Walhasil, jalur distribusi mulai dari pasokan stok produksi impor maupun ekspor mengalami instabilitas.

Di sisi lain, para pekerja sektor informal lebih memilih pulang ke kampung halamannya. Pada bulan Maret hingga Mei 2020, pekerja sektor informal yang berada dikota besar, seperti pedagang asongan dan buruh serabutan, memilih untuk mengungsi ke kampung halamannya. Padahal sektor informal ini menjadi penyerap tenaga kerja terbesar di Indonesia.

Kepulangan para pekerja sektor informal dari kota, menjadikan suatu desa menampung beban belasan ribu pekerja yang membutuhkan pekerjaan. Dalam hal ini, desa menjadi katup pengaman sementara atas hilangnya pekerjaan para pekerja sektor informal di kota.

Prof. Solahudin, dalam buku Pembangunan Pertanian Era Reformasi, menyebutkan bahwa sektor pertanian di desa, sejak masa krisis ekonomi pada pertengahan tahun 1997, memiliki peran dalam hal penyediaan kesempatan kerja bagi pengangguran baru dari kota. Pertanian dianggap mampu untuk menjadi katup pengaman dengan menampung tambahan tenaga yang cukup besar.

Kemampuan desa dan agrikulturnya, terkhusus pertanian, memang tak bisa lagi dianggap sebelah mata hanya karena zaman industrialisasi menggusur bebas lahan mereka. Kendati begitu, di balik kemampuan desa dalam menggerakkan roda perekonomian bidang pertanian, terdapat permasalahan yang muncul selama pandemi.

Dr. Ade Candradijaya Direktur Urusan Koperasi Internasional, dalam Covid-19 Impact on Food Security in Indonesia, menyebutkan terdapat 4 masalah dalam sektor pertanian di kala pandemi. Pertama, penurunan jumlah penawaran dan stok makanan. Kedua, penurunan akses makanan dan keuntungan dari agribisnis. Ketiga, peningkatan kemiskinan. Keempat, penurunan pengeluaran masyarakat terhadap makanan karena pembelian alat kesehatan dan sanitasi.

Terlebih dalam sebuah jurnal pertanian yang ditulis oleh Tajjudin Bantacut (2014) menyebutkan bahwa, sejak awal, pembangunan pertanian dihadapkan pada persoalan skala ekonomis dan teknis; lahan kering, irigasi terbatas, jalan pertanian belum memadai, penerapan teknologi belum memadai, dan sumberdaya modal yang masih jarang.

Hal ini juga didukung capaian pembangunan yang dilakukan oleh pemerintah bersifat pasif terhadap masalah petanian dan isu-isu sesaat. Tajjudin menyebut permasalahan itu seperti kekeringan, bencana alam, dan kelangkaan bahan baku. Penyelesaian masalah yang bersifat proaktif dan antisipatif semestinya dilakukan.

Peran Teknologi Informasi dalam Agribisnis

BPS tahun lalu merilis bahwa pertanian masih menjadi salah satu sektor ekonomi yang mampu bertahan selama pandemi. Untuk itu, permasalahan pertanian tak seharusnya diabaikan. Selayaknya industri non pertanian, agribisnis memerlukan teknologi dan informasi dalam menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang ada saat ini.

Menghadapi permasahan yang muncul dalam sektor agribisnis, terutama dalam hal permodalan dan jaringan distribusi, Eko Wahyu Saputro bersama rekan-rekannya merilis sebuah start up pada September yang lalu. Start up ini dikenal dengan nama Makarya.

Start up ini hampir mirip dengan start up fintech Igrow dan Crowde, dalam hal penghubung dan penyalur modal kepada industri agribisnis. Bedanya, Makarya juga menyediakan marketplace bagi para pemain di industri agribisnis agar lebih mudah memasarkan hasil produk mereka.

Secara konsep, marketplace yang mereka sediakan akan sangat membantu hasil-hasil agribisnis dalam memotong rantai penjualan. Hal ini pastinya akan meninggikan harga produk sampai ke hilir konsumen dan menguras keuntungan bagi petani.

Selain menyediakan tempat investasi, Makarya juga menyediakan tempat untuk berkolaborasi menjadi mitra. Kolaborasi ini diperuntukkan bagi industri agribisnis untuk mendapatkan akses permodalan dari investor. Nantinya, Makarya akan menganalisis dan menyortir industri agribisnis yang layak mendapatkan bantuan investasi, sehingga investor tetap merasa aman saat berinvestasi.

Belum genap empat bulan rilis, start up yang memiliki basecamp di kota sragen ini, telah menghubungan puluhan investor kepada beberapa jenis industri agribisnis. Seperti industri agribisnis jeruk, ayam pedaging, ayam petelur, buah pepaya, dan industri agribisnis lainnya.

Menggunakan Return of Investmen (ROI) 3-5 persen dalam jangka 14 hingga 40 hari, banyak investor yang tergiur menyalurkan dana mampatnya untuk diinvestasikan. Sejauh ini terdapat proyek pendanaan terhadap 32 industri dan belasan yang melakukan repeat funding. Tak hanya itu, Investor juga bisa memantau perkembangan industri yang didanai.

Masyarakat tak perlu khawatir mengenai penguasaan atau monopoli modal yang ada di Makarya. Makarya memberikan solusi dengan membatasi jumlah investasi yang diberikan oleh investor, sehingga masyarakat lain mendapat porsi untuk menginvestasikan sebagian dana mereka. Siapapun yang ingin mengenal Makarya lebih dalam, bisa dengan mengunjungi website resminya di Makarya.in.

Tim Makarya memang memiliki kemampuan dalam mengimajineri bagaimana gerak bisnis di masa depan. Sebagaimana cerita Rhenald Kasali dalam The Great Shifting, bahwa industri keuangan dan perbankan saat ini tidak lagi seramai di masa lalu. Produk-produk jasa keuangan berbasiskan teknologi semakin menjadi bagian dari masyarakat, seperti crowd funding hingga peer to peer lending.

Jika zaman industrialisasi abad ke 18 hingga 20 penuh dengan sentralisasi permodalan dan aset produksi, maka pada abad ini akan identik dengan desentralisasi modal, aset produksi, dan kolaborasi sebagai cara gerak sebuah industri. Kesempatan kolaborasi yang terbuka didepan mata, menjadi pilihan bagi kita untuk menjadi penonton, terseret binasa oleh arus zaman, atau menjadi salah seorang yang sadar dan ikut andil dalam gerakan perubahan.