Literasi dan Visi Kolaborasi Pendidikan ala Aris Purwanto


 

Surakarta– Setiap orang memiliki potensi individual dari ketekunannya terhadap literasi. Selama literasi selalu dipegang teguh dalam menjalani profesi, akan selalu ada peluang mengakses modal sosial dan memberdayakannya demi kebaikan bersama.

Bagi Aris Purwanto (24), pendidik adalah salah satu profesi yang paling terhubung dengan literasi. Sebab, dasar dunia pendidikan adalah literasi. Baginya, pendidik dan literasi mendorong manusia bersentuhan langsung dengan modal sosialnya. Apa yang dilakukan seorang pendidik, nyaris serupa dengan seorang petani: mereka sama-sama menanam lalu memanennya di kemudian hari.

Aris Purwanto sudah mengalami langsung hal ini sejak ia masih berkuliah di Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS). Kampusnya ini menyediakan banyak lahan untuk melakukan eksperimen sosial. Selain itu, ia juga pernah aktif di salah satu organisasi pergerakan mahasiswa. Aris menjadikan dua tempat ini sebagai sarana memahami basis akademis-teoritis sekaligus realitas sosial di sekelilingnya.

Berkat sering mengalami persinggungan dialektis, dan banyak melahap teori psikologi, Aris percaya diri terlibat di banyak kegiatan sosial. Salah satu kegiatannya berkisar di Komunitas Panggon Sinau. Komunitas ini merupakan salah satu wahana bagi para mahasiswa Fakultas Psikologi UMS yang berminat dengan dunia pendidikan. Terlibat di komunitas ini membuat Aris memahami betapa pentingnya dunia pendidikan, apapun format yang ada.

Komunitas Panggon Sinau, sering berkegiatan di Dusun Jayan, Boyolali. Dusun Jayan juga menjadi tempat para pegiat komunitas ini mengenyam banyak pengalaman empiris melalui literasi. Para penggiat komunitas ini, membentuk taman baca di Dusun Jayan, sebagai sarana kegiatan mereka. Dengan kata lain, literasi mengantarkan para pegiat komunitas itu menemui aktualisasi positif mereka.

Karena hampir setengah masa perkuliahannya dibagi dengan kegiatan di Komunitas Panggon Sinau, Aris terdorong untuk mengangkat fenomena kegiatan taman baca di Dusun Jayan sebagai judul skripsi. Ia mengajukan judul Edukasi Literasi Anak di Dusun Jayan Melalui Taman Baca Masyarakat Panggon Sinau. Judul ini mengundang apresiasi dari dosen-dosennya. Skripsi ini pula yang menguatkan motivasinya menjadi seorang pengajar.

Visi tentang Kolaborasi

Dasar psikologi pendidikan yang ditekuninya selama kuliah membentuk visi sosialnya yang sarat muatan pedagogis. Aris kini menjadi seorang guru sekaligus menjabat sebagai Kepala Sekolah di Madrasah Ibtidaiyah An-Nuur Jatikuwung. Ia menjadi kepala sekolah di usia yang masih terhitung muda, 24 tahun. Bagi Aris, usia muda bukanlah halangan untuk menjabat posisi penting di suatu lembaga pendidikan. Justru usia muda adalah modal penting untuk banyak terlibat dalam proses perubahan sosial di bidang pendidikan.

Selain menjadi kepala sekolah, Aris sekarang masih menjabat Koordinator Komunitas Panggon Sinau, serta aktif di Pemuda Muhammadiyah. Aris juga sekarang tengah menempuh studi Pasca-Sarjana Psikologi di UMS. Berbekal aktivitas organisasi, akademis, dan pekerjaan, Aris berupaya menyeimbangkan semua kegiatan itu untuk mengimplementasikan visi psikologi pendidikannya, ”Ketiganya masih satu koridor. Dan itu kesempatan besar untuk menerapkan visi pendidikan saya,” katanya.

Sinergi ketiga aktivitasnya ini, tentu tak akan jauh-jauh dari aktivitas literasi. Selama ini ia memang tekun dengan literasi. Semasa kuliah, dosennya kerap memberi banyak referensi literatur psikologi. Ketika aktif di pergerakan mahasiswa, ia banyak menyerap literatur analisis sosial yang sering dibahas teman-temannya. Sering juga Aris menulis di beberapa media lokal. Dan di Komunitas Panggon Sinau, ia punya momentum untuk menggerakkan literasi di tengah masyarakat. ”Itu semua juga menguatkan diri saya menghadapi tantangan di tengah masyarakat,” ujarnya.

Ketika ditanyai perihal masa depan pendidikan di Indonesia, Aris berharap pendidikan formal, informal, dan non-formal, dapat saling berkolaborasi. Kolaborasi bagi Aris tidak mesti dilakukan secara kelembagaan. Kolaborasi yang dimaksud Aris adalah kolaborasi dari diri sendiri. Kala seseorang belajar, ia berharap sistem terkecil seperti keluarga, mau mendorong seorang anak terlibat dalam banyak format pendidikan. Itulah kolaborasi pendidikan yang dimaksud oleh Aris.

Karena itulah Aris mengamini akumulasi. Ketika kita terus menumpuk pengalaman, ia akan berguna pada suatu hari nanti. Hal itu pula yang menjadi alasan mengapa Aris banyak terlibat di pelbagai kegiatan sosial, terus mencari tahu perkembangan ilmu pengetahuan, serta tak kenal lelah mencoba banyak eksperimen bagi penerapan visi sosialnya, ”Ya karena semuanya itu, terbentur, terbentur, dan terbentuk,” tutupnya.