Kesadaran Biografis

Dokumen Istimewa Detik.com

Masa lalu selalu aktual, begitu kata pepatah sejarah. Dalam kehidupan sosial, sejarah adalah lintasan kesadaran masyarakat di masa lalu. Pada sejarah bersemayam ide, perilaku, dan latar belakang yang semuanya berkelindan pada apa yang terjadi hari ini. Musykil akan ada hari ini jika tak ada masa lalu. Begitulah urgensi sejarah.

Dalam penulisan sejarah, ada sejarah perseorangan yang biasa disebut biografi. Pada biografi, kita melihat penggalan penting dari dimensi personal sejarah yang hanya tampak permukaan di tengah masyarakat. Di sisi lain biografi juga memberi kesadaran baru : apa yang mendorong sosok-sosok penting berkecimpung di dalam peristiwa terkait

Biografi juga memotret dokumentasi masyarakat. Sudut pandang dalam melihat peristiwa yang melibatkan seseorang, menjadi penting karena ia dapat digunakan sebagai pembelajaran bagi masa depan. Adanya biografi, juga menyuguhkan pemahaman, bahwa seseorang akan bertindak sesuai apa yang terjadi pada kesadarannya.

Psikologi seseorang adalah keniscayaan yang semestinya terekam pada sebuah biografi. Sebab, mencatat gerak-gerik seseorang secara historis membutuhkan keserasian logis. Ada detail-detail yang mesti ditulis. Ketika bersinggungan pada detail-detail perseorangan itulah pembaca dan penulis biografi akan bersentuhan dengan psikologis sang tokoh di biografi itu.

Ketika Daniel Dhakidae menerbitkan Menerjang Badai Kekuasaan, saya salah seorang yang membacanya dengan seksama. Di buku itu, Daniel menulis 14 tokoh dengan pendekatan yang lebih mendalam, dan tidak sekedar menuliskan riwayat hidup yang berpanjang lebar. Sepengamatan saya, tulisan Daniel Dhakidae dalam buku itu mencakup aspek historis, sosiologis, hingga psikologis.

Biografi, dalam tulisan Daniel justru berlaku sebagai elemen pembentuk tulisan. Tulisannya tidak hanya dibuat guna mengenang seorang tokoh besar. Agaknya ia bertujuan untuk mengajak para pembaca lebih dari sekedar mengenang, tapi juga memahami dan mendalami. Dan ia membuat sang tokoh seperti turun dari panggungnya lalu kembali berjalan di semestanya lagi.

Gaya penulisan Daniel memang tidak terpaku pada historiografi tertentu. Ia hanya mengulas dan menggerakkan tokoh yang menjadi objek sasarannya. Ia menggerakkannya dalam suatu bingkai imajinasi sosiologis. Tokoh yang ditulis oleh dirinya seolah-olah hidup dalam suatu latar belakang. Dan ia kerapkali berhasil melakukannya.

Sebagai contoh, ketika menulis tentang Soe Hok Gie, ia menghadapkan pergulatan Gie dengan realita yang kerapkali berbenturan pada ide-idenya. Kaki-kaki ide Gie, ia gambarkan dari kampung halamannya sampai di kampusnya di Universitas Indonesia. Tempat-tempat itu ia gambarkan sebagai medan perang ide Gie. Antara idealisme dan realisme, di sana saling bertarung dalam diri Gie.

Pada umumnya, tulisan Daniel Dhakidae tentang tokoh berpusar di pola seperti itu. Melalui cara demikian, ia, bagi saya pribadi, adalah salah satu maestro bagi penulisan tokoh. Darinya kita bisa memetik, bahwa biografi yang hidup, tidak melulu mengekalkan sejarah dalam sebuah elemen tunggal. Ia bisa dipasangkan dengan banyak modus berpikir lainnya.

Penulisan biografis dari Daniel Dhakidae, bukan hanya berguna bagi wawasan historis yang bersifat umum. Justru karya Daniel Dhakidae dapat menjadi sebuah jalan penafsiran ulang bagi mereka yang selama ini hanya dimitoskan dari lisan ke lisan. Metode seperti ini berupaya untuk membuka kembali apa yang selama ini disalahpahami atau yang kerap salah dimengerti dari seorang tokoh itu tadi.

Cara Belajar dari Masa Lalu

Menulis seseorang bukan praktik literasi yang bisa digerakkan tanpa data. Ada data arsip yang berupa wawancara, buku, kliping berita, dan lain-lain yang mesti diambil sebagai rujukan untuk membaca: pergeseran semacam apa yang terjadi pada dinamika hidup orang yang akan ditulis.

Dalam membaca data-data yang tersaring, diperlukan juga fungsi inderawi yang aktif. Karena, pembacaan juga membutuhkan pemahaman naluriah, sebagai faktor pembentuk kesadaran tokoh itu. Sepanjang hal itu dapat tercakup dengan baik, akan ada kehidupan di dalam sebuah karya. Lantas, ia menghidupkan imajinasi pembaca secara kritis. Itulah yang dibutuhkan dalam literasi biografis.

Alih-alih berhenti pada data, literasi biografis justru memerlukan perjalanan kritis. Literasi biografis, adalah semacam perjalanan mencari ide yang terus bergolak, yang gelisah mencari tempat terbaik bagi apa yang ada di benak sang tokoh. Oleh karena itu, ia terus bergerak, singgah lalu kembali berjalan. Dinamika itulah yang mestinya didokumentasikan.

Dalam fiksi, Tetralogi Buru karangan Pramoedya Ananta Toer, bisa menjadi versi fiksi dari penulisan biografis sebagaimana karya akademis Daniel Dhakidae. Minke, tokoh utama karangan Pram, melakukan perjalanan sosial dari suatu tempat ke tempat. Ia beralih dari seorang putra aristokrat Jawa menjadi seorang kosmopolit.

Penokohan Minke di Tetralogi Buru, disinyalir terinspirasi pada perjalanan Dr. Tirto Adhi Soerjo –seorang jurnalis yang terkenal di era kolonial Hindia Belanda. Keempat buku dari Tetralogi Buru juga menelanjangi latar belakang kolonialisme Belanda, yang mengubah semesta berfikir sang tokoh. Dalam karya itu, elemen historis, sosiologis, dan psikologis semuanya tercakup.

Perubahan perspektif yang dialami tokoh Minke adalah salah satu jalan untuk memahami modus berfikir yang dialami para tokoh kebangkitan bangsa di era pra-kemerdekaan. Pram, punya kemampuan teknis yang ciamik untuk menyuguhkan fase itu. Di tangannya sejarah dan fiksi melebur dengan dramatis. Itulah yang membedakannya dari pengarang yang seangkatan dengannya.

Kiwari, novel Tan karangan Henri suteja punya fondasi penulisan yang nyaris serupa dari Tetralogi Buru. Novel yang mengisahkan perjalanan Tan Malaka ini digubah dalam bentuk fiksi tapi diambil dari kisah tokoh nyata. Pada novel itu kita akan menjumpai banyaknya lanskap geografis dan juga sosial yang membangun fase perkembangan dari kepribadian Malaka.

Tan Malaka kita tahu, adalah salah satu tokoh nasional yang paling kerap disalahpahami. Buku-bukunya kerap digeneralisir oleh pihak yang kerap melakukan razia buku-buku bercorak komunisme. Padahal ia sudah resmi diakui sebagai tokoh nasional berkat upaya kader-kader Murba di era Orde Lama. Dan penulisan buku ini seperti berambisi untuk memberi kesadaran kritis-kronologis mengenai sosok Tan Malaka.

Seperti Tetralogi Buru Pramoedya Ananta Toer ataupun novel Tan karangan Henri Suteja, literasi biografis dalam bentuk fiksi, dapat menjadi sarana penggugah sekaligus penguatan bagi narasi seorang tokoh. Kekuatannya pada data, dan juga pembacaan dari perjalanan intelektual yang dilakukan, di masa mendatang akan berguna sebagai dokumentasi sosial suatu masyarakat.

Tokoh dan ketokohan adalah aset primordial dari suatu masyarakat. Tapi, jika ketokohan itu tidak ditopang dengan literasi yang memadai, nasibnya bisa berakhir sebagai alat romantisasi. Dengan begitu, penokohan bisa ditulis dengan banyak cara. Seperti yang dilakukan oleh Daniel Dhakidae ataupun Pramoedya Ananta Toer dan bahkan Henri Suteja. Namun ia mesti dibaca dalam aspek yang luas. Tidak dalam satu perspektif yang hitam-putih belaka.

Seorang tokoh dapat ditulis karena ketokohannya. Di balik ketokohannya selalu ada narasi yang belum terbaca karena minimnya literasi yang tersedia. Tatkala narasi seorang tokoh dibaca, ia punya potensi terikat pada suatu rasa kebersamaan di dalam sistem masyarakat. Karenanya, sebelum berakhir pada rasa kebersamaan itu, ia mesti dibaca berkali-kali, diteliti kembali, dan ditulis lagi. Tujuannya tak lain dan tak bukan demi sebuah kesadaran bersama yang lebih progresif.