Kampus yang Minim Sampah Plastik

Foto : Berkuliah.com

Problematika sampah plastik tak kunjung usai hingga saat ini. Berbagai upaya telah dilakukan baik dari pemerintah maupun organisasi dengan melakukan kampanye pengurangan plastik dalam kehidupan sehari-hari.

Faktanya, Indonesia berada di urutan nomor dua dunia sebagai penyumbang plastik terbesar di dunia setelah China. Permasalahan sampah di Indonesia sangatlah kompleks mulai dari persoalan overload, tempat pembuangan akhir sampah, sampai tidak adanya proses pemilahan sampah dari hulu, hingga kurangnya rasa kesadaran masyarakat Indonesia dalam pengelolaan sampah.

150 tahun silam, plastik diciptakan untuk mempermudah kehidupan manusia. Terobosan ini sangatlah membantu dalam kehidupan sehari-hari manusia yang semula memiliki ketergantungan terhadap kertas lalu beralih ke plastik.

Seiring berjalannya waktu, plastik yang semula muncul bak sosok pahlawan yang datang di saat dalam situasi terdesak, kini plastik menjadi monster yang harus segera dijinakkan sebelum memporakporandakan banyak hal dalam tatanan lingkungan,

Plastik memiliki umur yang lebih panjang dari kertas, sekitar 60-70 tahun. Kajian terbaru dari University of Ledds yang dipublikasikan pada jurnal Science, mengungkapkan jika terjadi peningkatan konsumsi atau tidak adanya pengelolaan daur ulang yang siginifikan, diperkirakan pada tahun 2020, bumi akan memiliki 1,3 ton sampah.

World Econimic Forum (WEF) juga mengatakan, ditahun 2050 jumlah plastik yang berada di laut akan lebih banyak daripada ikan. Menurut Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) sampah plastik dari 100 toko/gerai yang tergabung dalam APRINDO selama satu tahun menghasilkan 10,95 juta lembar kantong plastik yang menjadi sampah. Jika ditotal luasnya akan setara dengan 60 kali luas lapangan sepakbola.

Siapa Bertanggung Jawab ?

Permasalahan sampah plastik tidak menyalahkan siapapun di sini. Plastik yang awalnya diciptakan untuk menyelesaikan masalah kertas yang tidak terlalu kuat, lalu tiba-tiba menjadi suatu problematika.

Sebenarnya dari beberapa hal, plastik memiliki keunggulan seperti kuat, murah dan tahan lama sehingga dapat digunakan berulang-ulang. Namun, fakta di lapangan plastik tidak digunakan berulang-ulang tapi sekali pakai saja. Ini yang menjadi sumber masalah yang utama.

Pemerintah di tahun 2016 melalui Undang-undang Nomer 18 tahun 2008 tentang pengelolaan sampah. Sejak itu konsumen di retail modern dikenakan biaya kantong plastik dengan harga minimal Rp. 200,-. Program tersebut sebagai bentuk kampanye dari KLHK Gerakan Indonesia Bebas Sampah 2020.

Pertanyaannya adalah, siapa yang bertanggung jawab terhadap masalah ini? Jawabannya adalah seluruh elemen masyarakat memiliki tanggung jawab terhadap permasalahan lingkungan. Pemerintah bertanggung jawab terhadap kebijakan dalam pengelolaan, organisasi atau Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) sebagai pendamping dan elemen-elemen lain seperti instansi pendidikan khususnya Perguruan Tinggi atau Universitas. Perguruan Tinggi sebagai salah satu lembaga pendidikan memiliki peran penting dalam mengedukasi masyarakat serta memahamkan pentingnya menjaga lingkungan khususnya bijak terhadap plastik.

Dalam upaya meningkatkan peran Perguruan Tinggi, UI Green Metric melakukan pemeringkatan terhadap kampus-kampus baik di Indonesia maupun luar Indonesia. Pemeringkatan ini bertujuan untuk meningkatkan kepedulian kampus-kampus dalam menanggulangi permasalahan lingkungan yang kian hari semakin kritis.

Pada tahun ini Universitas Indonesia berada diperingkat pertama dan Universitas Diponegoro berada di peringkat kedua sebagai kampus berkelanjutan terbaik versi UI Green Matric. Diperingkat ketiga Universitas Gajah Mada, peringkta empat IPB dan peringkat kelima ditempati oleh ITS. Adapun penilaian pemeringkatan pada UI Green Matric ini meliputi keadaan infrastruktur kampus (15%), energi dan perubahan iklim (21%), pengelolaan sampah (18%), penggunaan air (10%), transportasi (18%), serta pendidikan dan riset (18%).

Universitas Muhammadiyah Surakarta sebagai salah satu bagian dari perguruan tinggi yang berperan menjadi bagian dari kampus berkelanjutan telah ikut andil dalam penjaan dan pelestarian lingkungan. Berbagai kegiatan yang dilaksanakan oleh mahasiswa baik melalui komunitas atau Unit-unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) sudah mengarah ke sana.

Ada yang memulai dari kegiatan penghijauan lahan, kampanye pengurangan konsumsi plastik dalam kehidupan sehari-hari, dan lain sebagainya. Namun kegiatan itu sayangnya kurang diseriusi lebih lanjut oleh berbagai pihak yang terlibat. Padahal jika konsisten, ada peluang untuk menciptakan masyarakat kampus yang peduli lingkungan.

Pada dasarnya, pembentukan lembaga, komunitas, dan gerakan yang diinisiasi oleh kampus sudah baik. Hanya saja diperlukan suatu ketetapan agar berlaku sebuah pembudayaan positif yang sifatnya top-down. Jika itu terjadi, mungkin saja kampus bisa lebih berseri, asri, dan cantik. Itu mimpi-mimpi ekologis. Mimpi yang semestinya diidamkan oleh kira semua. Makhluk yang hidup dengan lingkungan.

Adanya kegiatan seperti jagongan sampah kampus memiliki harapan agar kampus terdorong membuat regulasi dalam pengelolaan sampah, khususnya dalam upaya pengurangan sampah plastik di lingkungan kampus UMS. Apalagi jika melihat kini kampus-kampus lain sudah berani dengan terang-terangan mengkampanyekan pengurangan plastik di lingkungan kampus dengan gerakan membawa botol, gerakan membawa tas belanja sendiri dan gerakan-gerakan lainnya.

Berbagai upaya dari mahasiswa sudah dilakukan sebagai bentuk upaya pengurangan plastik di lingkungan kampus. Semoga dengan adanya gerakan-gerakan ini mampu menjadikan UMS sebagai kampus maju yang mengedepankan aspek ekologi berkelanjutan dan juga berkemajuan.

 

Add Comment