Jalan Desa dan Perawatan

Rupanya sekarang ini masih ada beberapa jalan desa yang belum mendapatkan penanganan memadai. Hal itu dikarenakan terkendala berbagai hal seperti; terbatasnya dana desa, kesulitan medan, maupun permasalahan teknis lainnya. Namun, mayoritas jalan desa saat ini boleh dikatakan cukup memadai.

Sejak digelontorkan Dana Desa tahun 2015 yang lalu maupun dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten/Provinsi, jalan-jalan desa kondisinya semakin baik: dirabat beton hingga aspal hot mix. Akan tetapi pembangunan ini tidak selalu diiringi perawatan setelahnya.

Warga desa dalam berjuang untuk mendapatkan kesempatan agar jalan desanya dibangun, biasanya menggebu bahkan tidak jarang dengan cara pemaksaan: asu gedhé menang kerahé. Ada juga yang menagih janji kampanye ketika calon Kades akhirnya menduduki jabatan itu.

Jalan pun dibangun walau kadangkala menafikan sisi prioritas pembangunan desa. Warga berasumsi bahwa jalan adalah wujud nyata pembangunan desa.

Sayangnya, setelah dibangun, jalan desa biasanya dibiarkan tanpa dilakukan perawatan. Kiri kanan jalan tumbuh semak belukar, drainase atau saluran air tidak diperhatikan, tanpa dilakukan perawatan berkala. Kemudian yang tampak adalah wajah jalan kumuh dan cepat rusak.

Sangat jarang warga desa yang memperhatikan kondisi kiri kanan jalan. Walau sebenarnya lokasi itu dapat dijadikan media untuk penghijauan dan menampilkan keasrian manakala warga desa berkenan gugur gunung menata daerahnya.

Apakah semuanya harus dilakukan oleh pemerintah desa? Tentu tidak mungkin. Warga desa harus turut merawat kondisi jalan desanya. Peran pemerintah desa tentu hanya memobilisir warga agar sadar lingkungan sekaligus memperpanjang usia jalan manakala dilakukan perawatan secara berkala.

Kadang juga ironis ketika sebuah desa sudah menyandang label “Desa Wisata” : urusan perawatan jalan, notabene wajah awal desa, ternyata belum juga dapat memikirkannya. Semestinya, ketika sudah menyandang label sebagai “Desa Wisata”, kondisi desa tersebut harus benar-benar menampilkan pesona keindahan dan kerapian di setiap sisi lingkungannya.

Membangun memang lebih mudah dari pada merawat. Begitu juga, mendapatkan memang lebih mudah daripada mempertahankan. Demikianlah penyakit masyarakat kita ketika mengapresiasi pembangunan. Sebenarnya sepele, tapi kadangkala timbul sebuah rasa yang tidak nyaman. Perihal kecil yang masih lepas dari pengamatan.