Gibran dan Tantangan Ekosistem Ekonomi Kreatif di Surakarta

Musyawarah Perencanaan Pembangunan Kelurahan (Musrenbangkel), sedang berlangsung di Kota Surakarta. Sebanyak 54 kelurahan sedang menyiapkan perencanaan pembangunan yang akan didanai dari APBD Kota Surakarta di tahun anggaran berikutnya. Penyelenggaraan Musrenbangkel diharapkan tetap mengadopsi mekanisme dan tahapan seperti beberapa dekade terakhir yang berjalan rapi dan tertib.

Musyawarah pembangunan ini berlangsung sejak tahapan Musyawarah Lingkungan (Musling) di tingkat Rukun Warga (RW). Pada tahapan ini, sebagian besar warga berperan dalam perencanaan pembangunan. Nantinya, setiap usulan akan difinalisasi dalam forum dan dipertajam secara konseptual dalam Musrenbangkel.

Perencanaan ini mendorong masing-masing kelurahan untuk membentuk “Babon perencanaan pembangunan”, yakni berupa perencanaan pembangunan yang terwujud dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM). RPJM inilah yang nantinya akan tertuang dalam Rencana Strategis Masyarakat (Renstramas). Setiap Restramas pastinya akan melalui tahap peninjauan ulang agar kualitas dapat dipertanggungjawabkan.

Tema yang diusung Musrenbangkel tahun 2021 ini adalah Penguatan Perekonomian Daerah Melalui Sektor Pariwisata yang Terintegrasi dan Ekonomi Kreatif Berbasis Kearifan Lokal. Sebuah tema yang dirasa memiliki urgensi dan kelebihan di tengah gempuran pandemi. Hal ini juga menegaskan komitmen pemerintah Kota Surakarta untuk bangkit dan beranjak dari keterpurukan perekonomian selama pandemi. Akan tetapi, seberapa jauh peluang ekonomi kreatif di Indonesia?

Indonesia dan Ekonomi Kreatif

Perkembangan ekonomi kreatif, tak bisa lepas dari John Howkins, penulis buku Creative Economy, How People Make Money from Ideas. John Howkins adalah pria berkebangsaan Inggris yang aktif menyuarakan ekonomi kreatif kepada pemerintahan Inggris. Ia banyak terlibat dalam pelbagai diskusi pembentukan kebijakan ekonomi kreatif di kalangan pemerintahan negara-negara Eropa. Ia mendefinisikan ekonomi kreatif sebagai ekonomi yang menjadikan kreativitas, warisan budaya, dan lingkungan sebagai tumpuan masa depan.

Konsep ekonomi kreatif itu kemudian dikembangkan oleh ekonom asal Amerika Serikat bernama Richard Florida. Dalam bukunya, The Rise of Creative Class dan Cities and Creative Class, ia mengulas tentang industri kreatif di masyarakat. Menurutnya (dalam Moelyono, 2010) manusia pada dasarnya adalah kreatif, entah ia seorang pekerja di pabrik kacamata atau seorang remaja di gang senggol yang sedang membuat musik hip-hop. Individu-individu yang secara khusus bergelut di bidang kreatif akan mendapatkan kebermanfaatan ekonomi secara langsung dari aktivitas yang digeluti.

Kini, tiap negara, wilayah, maupun daerah saling berlomba untuk menjadi pemenang dalam persaingan ekonomi global. Mereka berlomba untuk menciptakan produk-produk baru yang inovatif. Tak terkecuali negara berkembang seperti Indonesia. Dengan komposisi jumlah penduduk usia muda sekitar 43 persen atau sekitar 103 juta orang, Indonesia memiliki sumber daya manusia yang cukup besar bagi keberhasilan pembangunan ekonomi kreatif.

Belum lagi potensi lainnya, seperti kepulauan Indonesia yang luas dengan keragaman flora dan fauna, kekayaan budaya bangsa, dan 665 bahasa daerah di seluruh Indonesia. Kekayaan ini adalah potensi besar dalam mendukung tumbuhnya industri kreatif di Indonesia. Mengingat ekonomi kreatif saat ini memberikan kontribusi kepada pendapatan domestik bruto (PDB) senilai Rp.104,6 triliun.

Data menyebutkan bahwa rata-rata kontribusi PDB industri kreatif di Indonesia sebesar 6,3 persen dari total PDB nasional. Nilai ekspor industri kreatif mencapai Rp. 81,4 triliun dan berkontribusi sebesar 9,13 persen terhadap total ekspor nasional dengan penyerapan tenaga kerja mencapai 5,4 juta orang. Industri kreatif menduduki peringkat ke 7 dari 10 lapangan usaha utama yang ada di Indonesia.

PDB industri kreatif didominasi oleh kelompok busana (fashion), kerajinan, periklanan, dan desain. Jika dikelola dengan baik, kontribusinya terhadap PDB akan terus naik secara signifikan. Kontribusi ekonomi yang sangat signifikan inilah yang menjadi alasan mengapa industri kreatif Indonesia perlu terus dikembangkan. Selain itu, industri kreatif juga menciptakan iklim bisnis yang positif dalam membangun kebanggaan dan identitas bangsa Indonesia.

Pemerintah telah mengidentifikasi lingkup industri kreatif yang setidaknya mencakup 14 subsektor antara lain, permainan interaktif, piranti lunak (software), periklanan, riset dan pengembangan, seni pertunjukan, televisi dan radio, film, video dan fotografi, kerajinan, arsitektur, busana (fashion), desain, musik, pasar dan barang seni, serta penerbitan dan percetakan.

Perombakan Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata menjadi Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif telah menjadi angin segar bagi para pelaku ekonomi kreatif. Terlebih ada dua kementerian lainnya yang terlibat langsung dengan pengembangan ekonomi kreatif ini, yakni Kementerian Perdagangan dan Kementerian Perindustrian. Hal ini menunjukkan kesungguhan pemerintah dalam mengembangkan ekonomi kreatif melalui industri kreatif yang sudah dan akan terus dikembangkan.

Berbasis Budaya Lokal

Penting untuk diingat bahwa perkembangan ekonomi kreatif tak bisa lepas dari budaya setempat. Budaya harus menjadi basis pengembangannya. Dalam kebudayaan terdapat istilah yang disebut dengan kearifan lokal (local genius): segala unsur lokal yang memiliki nilai-nilai penuh makna. Makna itu seringkali diterjemahkan ke dalam bentuk fisik berupa produk kreatif daerah setempat.

Revrisond Baswir, ekonom Universitas Gadjah Mada, mengatakan bahwa ekonomi kreatif tidak bisa dilihat dalam konteks ekonomi saja, tetapi juga dimensi budaya. Ide-ide kreatif yang muncul adalah produk budaya. Karenanya, strategi kebudayaan sangat menentukan arah perkembangan ekonomi kreatif.

Setiap daerah pada umumnya memiliki potensi produk yang bisa diangkat dan dikembangkan. Keunikan atau kekhasan produk lokal selalu memiliki daya tarik tersendiri. Apalagi jika ditambah dengan unsur kreativitas dengan sentuhan teknologi. Setiap daerah bisa saja memiliki produk yang sejenis, namun setiap daerah hendaknya mempertahankan ciri khas yang dimiliki.

Dalam konteks tertentu, penyeragaman antar daerah memang seharusnya dihindari. Nilai keunikan dan kekhasan tiap daerah adalah daya pikat yang tak tertandingi. Pemerintah memang selayaknya memberikan keleluasaan bagi tiap daerah untuk mengembangkan potensinya. Terlebih jika dipadukan dengan kemampuan manusia yang inovatif-kreatif, keunggulan komparatif bisa terjaga dan daya saing produk bisa dipertahankan.

Tema Musrenbangkel di Kota Surakarta memang layak dicermati kembali. Mengingat selama ini Kota Bengawan sangat sulit dalam mengintegrasikan sektor pariwisatanya. Modal utama Kota Surakarta berupa keberadaan keraton Kasunanan Surakarta seharusnya menjadi destinasi wisata yang elok. Sayangnya, pemerintah Kota Surakarta seakan sulit menggandeng keraton Kasunanan Surakarta untuk menegaskan ikon kebudayaan tersebut. Pada akhirnya, pemerintah harus menciptakan ikon-ikon baru untuk menarik kehadiran pendatang di Kota Bengawan.

Sudah sejak lama warga Kota Surakarta merindukan sebuah sinergi yang mesra antara pemerintah kota dengan keraton Kasunanan Surakarta. Kemesraan itu berpotensi untuk mempertegas kembali warna budaya yang kadung melekat pada masyarakatnya. Apalagi, kearifan lokal yang bertebaran di kelurahan-kelurahan Kota Surakarta terasa hambar ketika tidak mampu bersinergi dengan keraton Kasunanan Surakarta. Seolah-olah kearifan lokal tidak merepresentasikan jati dirinya.

Tema Musrenbangkel kali ini menjadi pekerjaan rumah yang sangat diharapkan dapat dimaksimalkan oleh Gibran Rakabumingraka, selaku Walikota terpilih. Gibran yang tergolong anak muda selayaknya memiliki visi kuat untuk membawa Kota Surakarta melompat menuju tatanan baru yang lebih smart, lebih kompetitif dan lebih produktif berbasis kekuatan riil yang dimiliki warga Kota Surakarta.

Apabila pergulatan di Musrenbangkel tersebut nantinya berkembang, maka tak hanya produk domestik bruto (PDB) yang meningkat, lapangan kerja juga kian terbuka sehingga pengangguran dan kemiskinan dapat diatasi secara bertahap.

Selamat bekerja, Mas Gibran.

Add Comment