Double Movement Pekerja Kreatif

Sumber foto: pixabay.com

Ini masa di mana perjumpaan sosial semakin sulit dilakukan. Orang-orang saling menjaga jarak, pusat kerumunan ditiadakan, publik nyaris lenyap dari peredaran. Namun, di tengah situasi demikian, semestinya kita tidak kehilangan imajinasi ataupun harapan.

Memang belakangan ini, kita terbentur pada pilihan yang serba salah. Mau bergerak, tetapi ruang bergerak mampat karena situasi, mau berdiam diri pun rasanya jeri. Semuanya menjadi serba dilematis. Suasananya mengingatkan saya pada salah satu lagu band rock asal Inggris The Clash, Should I Stay or Should I Go.

Bagi individu yang hidup dengan tulang punggung kreativitas, sebagaimana para pekerja kreatif misalnya, wabah menjadi batu sandungan bagi aktivitas profesi mereka. Ketika daya beli menurun, pola transaksi beralih, dan sebagian besar aktivitas nyaris berpindah ke jagad digital, maka di sana, mereka yang gagal menyiasati pola baru ini akan gigit jari.

Terlepas dari pelbagai masalah pekerja kreatif, mereka adalah salah satu kategori sosial yang punya kelenturan adaptasi. Mereka tidak terlalu bergantung pada modal besar. Mereka bekerja dengan akumulasi. Etos pekerja kreatif dilandasi pada semangat ekstrover, yaitu berjumpa dari kapital kecil ke kapital kecil lannya.

Namun apa jadinya daya tahan tanpa sebuah support system? Berjalan sendiri memang bisa. Akan tetapi itu membutuhkan tenaga ekstra. Keberadaan support system berfungsi untuk mengatasi hal itu. Sebab support system tidak cuman soal berbagi penderitaan. Lebih dari itu, support system lebih berjalan ke arah pembentukan jaring pengaman sosial.

Dengan support system, pekerja kreatif bisa bergerak bersama tanpa ketergantungan akut pada suatu modal besar atau modal kecil. Dengan kata lain, support system adalah modal alternatif. Di kala ujung dari wabah serba tidak pasti, support system adalah investasi paling realistis bagi pekerja kreatif.

Saya pernah menjumpai salah seorang kawan yang kini sibuk bergerak bersama kawan-kawannya untuk membentuk sebuah support system. Ia seorang desainer grafis. Sebelum wabah Coronavirus disease 2019 (Covid-19) menyerang, ia lebih banyak mengerjakan desain poster atau logo pesanan. Dalam mengerjakan pesanan, ia lebih sering bekerja seorang diri.

Seiring merebaknya Covid-19, pesanannya mulai berkurang. Ia jadi kesulitan membiayai kehidupannya di Kota Solo. Selama ini, ia menyandarkan pemasukan jasanya dari usaha rintisan temannya, atau poster bagi kegiatan mahasiswa. Pada akhirnya, ketika pendapatannya dari dua sumber itu mulai kering, ia kebingungan.

Akhirnya salah seorang kawan jauhnya datang. Ia menawari teman saya bergabung ke dalam suatu kelompok. Kelompok ini berisi desainer dari pelbagai kampus. Mereka mengerjakan banyak hal yang berkaitan dengan desain visual. Lewat sistem patungan dan bagi hasil bersama ia pun mulai mendapatkan pemasukan kembali. Memang, tak sebanyak dulu, tapi cukup untuk hidup seadanya.

Di luar rutinitas membuat desain, kelompok ini juga mengerjakan suatu konten bersama. Fokusnya untuk memberi pesan kepada generasi terkini mengenai banyak hal, terutama isu-isu aktual yang berkaitan dengan politik. Teman saya pun mulai nyaman di tempat itu. Ia belajar banyak hal, terutama soal analisis kritis yang belum pernah ia pelajari.

Meski wabah sempat merenggut pemasukan utama teman saya sebagai seorang desainer, ia mendapatkan kawan baru. Di lingkaran pertemanan ini, ia juga lebih peduli dengan isu-isu yang sering membelenggu kesejahteraan pekerja kreatif. Sebagai contoh, ketika ada salah seorang kawan yang mengalami pemutusan kontrak, ia dan kawan-kawannya di rumah project itu akan bertindak.

Mereka lantas membuat konten bebas tentang isu kesejahteraan pekerja kreatif. Salah satu penulis konten yang tergabung dalam kelompok itu mempertajam pesannya. Ia menyebarkan konten ini di media sosial seperti Twitter. Kemudian ia mendiskusikannya di kelompok mereka, sehingga terjadi pertukaran ide, dan bahkan lahir inovasi-inovasi baru untuk melindungi pekerjaan mereka.

Di kesempatan yang lain, mereka juga berkolaborasi dengan suatu Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) yang baru berdiri. UMKM ini didirikan oleh bekas karyawan suatu pabrik yang baru saja terkena pemutusan kerja. UMKM ini menjual makanan-makanan rumahan. Kemudian, kelompok kawan saya menawarkan jasa promosi. Setelah menjalin kesepakatan, kolaborasi ini berjalan sampai sekarang.

Inilah yang saya maksud dengan double movement, istilah yang saya kemukakan di judul tulisan. Artinya seorang pekerja kreatif mesti punya gerak ganda. Di gerak pertama, ia menghidupi dirinya sendiri dengan bakat maupun kemampuan yang ia gunakan. Pada gerak kedua, ia bergerak bersama kawan-kawannya untuk saling mendukung atau bergerak di tengah masyarakat.

Double movement bagi pekerja kreatif adalah cara merevolusi keadaannya sendiri. Sebab, untuk mengubah sesuatu yang berskala lebih besar, mestilah semuanya dilakukan dari dasar. Tanpa melakukan pengorbanan progresif dari diri sendiri, sukar melihat perubahan bisa digawangi para pekerja kreatif. Jika prinsip double movement ini benar-benar dilakukan, bukan tidak mungkin kita akan menemukan pola perubahan yang dapat memecah kebekuan situasi di tengah pandemi ini.

Di sisi lain, tidak bisa dipungkiri kalau wabah ini memang mengerikan. Korban-korban jatuh bergelimpangan. Kondisi perekonomian terkadang mengundang rasa cemas. Kendati demikian, tetap ada peluang bagi mereka yang mau memahami kebermaknaan hidup di balik ini semua. Bagi para pekerja kreatif, wabah ini bisa menjadi peluang. Peluang bagi mereka yang membutuhkan jaring pengaman sosial. Dan juga peluang untuk mereka yang ingin terus berkarya dalam ekosistem kerja serba kreatif.