Di Sebuah Toko Buku

Sumber foto: Pixabay

Fiona, seorang penjaga rak buku sastra di sebuah toko buku, duduk di kursinya sembari mengibaskan sebuah kipas kertas yang tipis. Ia merasa kepanasan. Terik sinar matahari menambah kesumukan di dalam toko buku yang sempit. Bulir-bulir keringatnya menetes dari dahi menuju pipi hingga ke leher. Tangannya terus sibuk menggoyangkan kipas kertasnya. Kali ini ia melakukannya lebih cepat. Tapi percuma, ia tetap merasa kepanasan.

Sejenak kemudian, seorang lelaki datang dengan tas kecil yang talinya menyilang di dada. Fiona tersenyum melihat kedatangan lelaki itu. Ia hafal betul dengan tindak-tanduk lelaki itu. Setelah memasuki toko, Fiona menduga, tak lama ia pasti akan bergegas menuju ke rak buku-buku sastra. Di sana, jika ia tidak menemukan buku yang ia cari, ia akan menanyakan keberadaan buku itu ke dirinya. Hal seperti ini sudah terjadi puluhan kali semenjak ia bekerja di toko buku itu. Berkali-kali pula mereka bertemu, bertanya, menjawab, dan beradu mata. Tapi sekedar itu saja, tak ada yang lain.

Lelaki itu berpostur pendek, tak lebih tinggi dari Fiona. Mungkin ia hanya memiliki tinggi kurang dari 165 cm. Namun tubuhnya sedikit gempal, dan mungkin menyimpan beberapa kilogram otot yang keras di bahu dan tangannya. Wajahnya punya paras yang memperlihatkan kesungguhan hidup dan keseriusan. Matanya kecil, cekung, dan di bawah lingkaran matanya terdapat cekungan noda hitam yang nampaknya hasil dari begadang yang kerap ia lakukan. Ketika berjalan, dadanya tegap, dan langkah kakinya menyiratkan ketegasan.

Fiona mencoba menerka perasaannya sendiri. Ia menyadari tak ada dada yang berdebar kala melihat laki-laki itu. Tapi ada perasaan yang ganjil. Setiap kali laki-laki misterius ini datang, ia pasti menghampirinya lalu menanyai keberadaan buku yang ia cari. Fiona juga hafal betul apa yang akan ia lakukan, dan berapa jumlah pasti buku yang ia beli. Dengan segala pengetahuannya tentang lelaki itu, ia merasa bisa dekat lebih dari ini. Namun kenyataannya, mereka berdua tak memiliki hubungan khusus kecuali interaksi antara seorang pembeli buku dan seorang pegawai toko buku.

Fiona menyimpan rasa penasaran yang serba canggung pada laki-laki itu. Kedatangannya mencuri perhatiannya. Namun, ia berfikir bahwa ini bukan perhatian seperti seorang perempuan yang tengah terobsesi pada sesosok laki-laki. Ia merasa hanya penasaran dan sebenarnya ingin memperhatikan, apa yang ia lakukan setelah membeli buku-buku yang ditanyakan padanya? Apakah ia akan menandaskan semua buku yang dibelinya? Dan apakah pekerjaannya? Ia menduga laki-laki itu memiliki ribuan buku di kamarnya. Semakin sering ia bertemu dengan laki-laki itu, rasa penasarannya semakin mengurung pikirannya.

Di suatu kesempatan, ia memperhatikan lelaki itu membaca berjam-jam lamanya di depan rak buku sastra. Fiona menunggu. Entah menunggu pertanyaan yang akan laki-laki itu sodorkan ataupun menunggu kepulangannya setelah ini. Namun usai kurang lebih dua jam ia menghabiskan waktu membaca buku yang segel plastiknya telah terbuka, ternyata kali ini ia meninggalkan toko buku tanpa membawa satu buah buku pun. Fiona terhenyak, lalu menghampiri rak buku sastra dan mencoba mencari buku apa yang telah dibaca laki-laki tersebut.

Di rak buku sastra, ada buku tergeletak dan tak lagi tegak berjejer dengan barisan buku lainnya. Ia mengambil buku itu, sebuah buku kumpulan puisi Pablo Neruda, dan kemudian membawanya ke tempat di mana ia biasa menunggu pelanggan dan duduk beristirahat. Untuk dapat membacanya, ia mesti mencuri-curi waktu di sela pekerjaannya. Sebab, bisa jadi ketika ia membaca, seorang pelanggan akan datang menanyakan letak buku yang mereka cari, ataupun supervisinya memberi instruksi untuk menata buku yang baru saja datang. Itu semua pekerjaan insidentil. Dan bisa tiba tanpa ia duga. Maka, buku itu ia simpan, di meja dekat tempat duduknya, dan ia berniat untuk mencicil buku itu perlahan-lahan.

……

Tepat sebulan kemudian, Fiona mendapati kedatangan laki-laki itu lagi. Ia sudah bersiap-siap atas semua kemungkinan yang akan terjadi setelah ini. Selang beberapa menit, setelah ia menghampiri rak buku sastra, laki-laki yang selama ini ia amati, menghampirinya dengan ekspresi wajah yang bercampur antara kemurahan senyum dan kekecewaan. Lantas ia bertanya pada Fiona, ”Di mana saya bisa menemukan buku Kumpulan Puisi Pablo Neruda?” tanyanya.

”Beberapa waktu yang lalu saya kemari, dan buku itu masih ada satu.” tambahnya.

”Sepertinya sekitar sebulan yang lalu masih ada dua. Dan itu sudah cukup lama untuk sebuah buku yang hanya tinggal tersisa dua biji,” timpal perempuan itu.

”Apakah bukunya sudah di retur?”

”Tentu sisa stock sudah di retur, tapi sepertinya saya masih menyimpan satu,”

”Bisa saya lihat?”

”Bisa saja. Saya yang menyimpannya.”

Fiona lalu mengambil buku yang selama ini ia baca setelah kedatangan laki-laki itu sebulan yang lalu, dan menyerahkannya dalam keadaan segel plastik yang terbuka.

”Ini yang tersisa Mas. Terakhir juga sudah dalam keadaan terbuka.”

”Tidak apa-apa. Tapi mengapa buku ini ada di sini?”

”Saya membacanya Mas.”

”Jadi, kamu juga menyukai buku-buku puisi?”

”Tidak terlalu. Hanya sedang mencoba.”

”Baiklah. Terima kasih.”

”Sama-sama.”

Percakapan itu usai. Tiba-tiba perempuan itu merasa kecewa karena gagal mempertahankan obrolan. Ia hanya bisa memperhatikan punggung laki-laki itu yang pergi meninggalkan toko buku. Perasaannya mengatakan bahwa percakapan tadi bisa berjalan lebih panjang. Tapi apa daya, ia bukan siapa-siapa, dan jarak yang tak bisa ia utas, jadi terasa bertambah jauh. Kendati demikian, ia menyimpan secuil kegembiraan. Sekarang ada obrolan lebih panjang di luar perkara letak buku yang ia cari ataupun soal judul buku yang ia tanyai.

Kepulangan laki-laki itu menyisakan perasaan yang campur aduk di dadanya. Lalu Fiona mulai merasakan debar yang bergemuruh di dadanya. Ia gagal mengendalikannya. Di benaknya, terbayang-bayang gerak tubuh laki-laki tadi dengan pembawaannya yang serba tenang, dingin, namun tampak mematikan. Secara sadar ia menolak bahwa ini perasaan jatuh cinta. Ia merasa bisa memiliki kedekatan dengannya. Tapi ia merasa ada ketimpangan yang tak terdefinisikan. Itulah yang membuat ia membuang jauh-jauh imajinasi liar tentang laki-laki itu.

…….

Tepat sebulan setelah obrolan panjang pertama mereka, laki-laki penyuka sastra kembali datang ke toko buku. Kali ini ada perbedaan mencolok dari laki-laki itu, yang mencuri perhatian Fiona. Sekarang ia mengenakan kacamata dengan bingkai gagang berwarna hitam dan berbentuk persegi. Bagi Fiona, kacamata itu membuatnya terlihat lebih tampan. Garis lengkung hitam di bawah matanya jadi tersamarkan. Garis hitam itu, baginya adalah sebuah bukti gurat kerja keras yang nampaknya selama ini ia kerjakan. Dan tentunya menampakkan kesan serius dan sedikit memendar-mendarkan aura mengerikan. Berkat kacamata itu, ia terlihat lebih santai dan sedikit mempesona.

Tanpa diduga dan tanpa menghampiri rak buku sastra seperti biasanya, seketika ia menghampiri Fiona. Spontanitas ini membuat Fiona sempat terkejut. Ia seperti datang ke tempatnya tanpa memberi pertanda terlebih dahulu. Namun, lagi-lagi, ia membuka percakapan dengan dua tema yang sering ia usung, antara ketersediaan judul buku yang ia inginkan, ataupun letak buku yang sulit ia temukan.

Alunan lagu Biru dari Dian Permana Poetra mengalun lewat pengeras suara toko. Lagu itu tak sengaja diputar oleh operator toko. Minggu ini, operator toko memang berniat untuk memutar lagu klasik 80-an. Ketika laki-laki penyuka sastra datang dengan penampilan barunya, dan menghampiri Fiona, lagu lawas itu sudah mencapai reff pertamanya. Mungkin Fiona tak mengenal lagu itu. Bahkan laki-laki penyuka sastra juga tak terlalu peduli dengan apapun lagu yang selama ini diputar oleh operator toko. Namun sebuah kecanggungan dirasakan oleh Fiona. Meski postur tubuhnya lebih tinggi dari laki-laki penyuka sastra, ketika mereka saling berhadap-hadapan matanya berkedip lebih cepat dari biasanya, dan debar dadanya menciptakan irama yang tak harmonis.

”Kira-kira Buku kumpulan puisi Nizar Qabbani ada di mana?” tanya laki-laki itu tanpa mencoba berbasa-basi.

”Coba saya carikan dulu,” tukas Fiona.

”Setelah ini, saya harus pergi ke luar kota. Jadi saya mau membawa buku itu untuk bekal perjalanan,” tanpa disadari, laki-laki itu melebarkan percakapan.

”Ada acara di mana Mas?” tukas si penjaga rak buku sastra sembari mencarikan buku yang dimaksud oleh laki-laki itu sampai berjongkok-jongkok di depan rak yang berada di wilayah tugasnya.

”Semarang.”

”Ini Mas,” kata penjaga rak buku sastra menyodorkan buku yang dimaksudkan oleh laki-laki penyuka sastra.

”Oke. Terima kasih ya.”

”Sekarang pakai kacamata Mas?” pertanyaaan yang meluncur dari penjaga rak buku sastra, seperti menahan kepergian si laki-laki misterius.

”Ah. Ini karena keseringan membaca saja. Saya kena rabun jauh. Yah resiko terlalu sering membaca seperti ini.” Tukasnya.

”Sekarang lebih terlihat keren Mas.” Pernyataan itu meluncur tak terkendali dari mulut Fiona. Seketika air mukanya berubah jadi merah. Rupanya ia tak sengaja mengucapkannya. Ia tak pernah berencana memuji si laki-laki misterius itu. Hanya saja, karena sempat terbuai dengan penampilan baru laki-laki itu dan percakapannya kali ini mulai menemukan pola baru, ia tak punya waktu untuk menyesuaikan diri. Kecanggungan itu kembali muncul. Hasilnya adalah sebuah pujian sia-sia yang tak terlalu ditanggapi serius oleh laki-laki itu.

Setelah pujian itu terlontar, laki-laki penyuka sastra memberi senyum tipis ke Fiona. Ia pun menukas lembut, ”Terima kasih.” Fiona menerima senyum dan ucapan terima kasih tadi dengan mata berbinar-binar. Kedua tangannya saling meremas sendiri. Dan laki-laki itu, seperti biasanya, akan menuju ke kasir, membayar buku yang ia beli, dan meninggalkan toko buku dengan langkah tegap dan pasti.

…………

Sebulan kemudian, Fiona memutuskan berhenti dari pekerjaannya. Ia mesti kembali ke kota asalnya karena Ibunya sakit berkepanjangan dan ia dipanggil untuk merawatnya. Maka, seminggu sebelum berpamitan kepada seluruh rekan kerjanya di toko buku, ia mengirimkan surat pengunduran diri yang ditujukan ke kepala toko. Tak berselang lama, surat pengunduran dirinya diterima dan ia resmi berhenti dari pekerjaannya sebagai karyawan toko buku.

Sebelum berpamitan ke seluruh bekas rekan kerjanya, ia bernostalgia sebentar dengan rak buku sastra yang selama ini ia jaga berhari-hari, berbulan-bulan, dan setahun belakangan. Fiona juga teringat pada laki-laki yang saban sebulan sekali di minggu pertama, selalu mengunjungi rak nya, menanyakan letak buku yang ia cari, dan lambat laun ia kagumi.

Karena ia diberi kebebasan untuk memilih lima buku sebagai cinderamata dari kepala toko, ia memutuskan untuk mengambil buku-buku yang ada di rak sastra. Ia pun mencoba mengingat-ingat buku apa saja yang pernah ditanyakan laki-laki penyuka sastra padanya. Ia berpikir, barangkali buku-buku itu memang menarik untuk dibaca, dan bisa menjadi salah satu penggalan ingatan penting tentang pekerjaannya di toko buku ini.

Ia mencoba mengingat para penulis yang pernah ditanyakan laki-laki penyuka sastra kepadanya. Di tengah pencarian, Fiona menemukan buku karangan Balzac, Cormac McCarthy, Naguib Mahfouz, dan Harper Lee. Fiona mengambil buku mereka. Ia juga sempat membaca ikhtisar buku Thomas Mann, tapi belum merasakan ketertarikan. Keempat nama tadi sudah cukup memuaskan baginya. Tinggal satu buku lagi dan ia masih mencari. Akhirnya, John Steinbeck yang menjadi pamungkas.

Lepas menumpuk buku-buku tersebut, ia berpamitan ke semua bekas rekan kerjanya yang sedang berada di toko. Selepas berpamitan, ia melangkah dengan kaki yang layu keluar toko. Sambil berjalan, ceceran ingatannya melintas di kepala. Banyak kenangan tentang susah senang bekerja ia rasakan di toko buku itu. Lalu ingatan tentang laki-laki penyuka sastra ikut mengambang. Namun ia tepis jauh-jauh bayangan tentang laki-laki itu. Kemudian, tanpa penyebab fisik yang pasti, langkah kakinya terasa berat meninggalkan toko buku itu.

Tatkala ia berjalan ke luar menghampiri kendaraannya, ia melihat laki-laki penyuka sastra baru saja memarkir kendaraannya. Ia berjalan terus dan mereka saling berpapasan satu sama lain. Tapi si laki-laki itu tampak bergeming tak menggubris Fiona. Melihat itu, Fiona mendegut ludah berkali-kali. Ia merasakan debaran di dada yang tidak sama seperti sebelumnya. Dan laki-laki itu terus saja berjalan masuk ke dalam toko tanpa menoleh ke arah Fiona sama sekali.

Di luar toko buku, langit terlihat murung. Tampaknya sebentar lagi hujan akan turun. Sesaat, Fiona mendongakkan kepalanya ke atas, melihat langit dan memprediksi situasi. Ia ingin lekas pulang. Tidak ada alasan untuk berlama-lama di toko buku itu lagi. Kemurungan langit sepertinya menular ke suasana hati Fiona saat ini. (Dyah Purnomowati*)

 

*) Seorang penulis lepas dan ibu rumah tangga.