Dekorasi, Pandemi, dan Terapi Psikologi

Sumber foto: pixabay.com

Sampai hari ini, ketidaksiapan terhadap pandemi masih wajar untuk dirasakan tiap orang. Perasaan cemas hingga takut menjadi hal yang biasa setiap harinya. Meski tahun telah berganti, kehidupan normal masih terasa jauh untuk benar-benar diharapkan. Kendati begitu, tak seharusnya mendera diri dengan perasaan itu. Saatnya untuk mengeluarkan jurus pamungkas sebagai manusia, yaitu adaptasi.

Adaptasi seolah menjadi satu-satunya pilihan untuk tetap bertahan di masa sulit ini. Tanpa adaptasi, tak sedikit yang akhirnya memantik berbagai krisis. Salah satunya adalah krisis kesehatan mental. Devora Kestel yang menjabat sebagai Direktur Departemen Kesehatan Mental World Health Organization (WHO) pernah mengatakan bahwa, selain keterancaman secara fisik, pandemi mengancam kesehatan mental masyarakat.

Akan tetapi, manusia memang selalu pandai beradaptasi di luar angan-angannya. Kreativitas tak begitu saja mati hanya dengan diterapkannya karantina di rumah masing-masing. Terobosan demi terobosan dilakukan terus menerus untuk menjaga eksistensi setiap diri. Salah satunya adalah fenomena tren dekorasi estetis yang dilakukan oleh sebagian orang, dari menggunakan sarung bekas, hingga koran bekas.

Mengubah tata letak kamar maupun rumah, sepertinya memang tren yang cukup menarik. Sekian lama berada dirumah mengharuskan setiap orang melawan kejenuhan dengan aktivitas unik. Pelarian kejenuhan dengan cara ini, dianggap mampu menangani rasa cemas dan mengubahnya menjadi kenyamanan hingga kepuasan.

Kajian lintas studi antara psikologi dan arsitektur mengenal ini sebagai upaya Healing Environtment. Healing Environtment adalah sebuah upaya memanipulasi lingkungan untuk meningkatkan kesejahteraan orang di dalamnya. Konsep ini biasanya diterapkan dalam arsitektur rumah sakit untuk mereduksi stres pasien dan mempercepat proses recovery. Namun sejauh mana tren ini mampu mereduksi stres selama pandemi?

Dekorasi Ruangan dan Kesehatan Mental

Kecemasan, dalam bentuk paranoid, sepertinya menjadi kondisi yang paling banyak dirasakan selama pandemi. Mengetahui orang-orang terdekat menjadi penyintas virus, memang suatu kondisi keterancaman yang nyata. Seolah virus semakin mendekat dan siap menerkam kapan saja.

Sebenarnya memang tak ada faktor tunggal bagaimana kecemasan bisa muncul selama pandemi. Rasa khawatir yang dirasakan setiap orang dikondisi ini adalah hal lumrah. Hanya saja, kekhawatiran itu sering berubah wujud dalam bentuk yang tidak diinginkan: insomnia hingga menurunnya produktivitas. Berkat kedua hal itu, kesehatan mental menjadi lebih rawan.

Apabila stresor adalah hal di luar kontrol, layaknya pandemi ini, maka rekayasa konteks sosial menjadi alternatifnya. Salah satu konteks yang berkaitan erat selama karantina di rumah adalah rumah itu sendiri. Kondisi rumah yang tidak mumpuni secara psikologis mampu mempengaruhi kehidupan selama berkarantina. Seperti yang dilansir oleh Better Homes and Garden bahwa rumah dengan krisis kerapian dan terkesan berantakan sangat mudah memicu stres dalam diri seseorang.

Stres yang dipicu oleh krisis kerapian suatu ruangan, pastinya akan mengganggu pola seseorang dalam beristirahat. Istirahat merupakan saat-saat penting ketika mental dan fisik melakukan pengisian daya. Buku yang berjudul Sleeping Your Way to The Top menyampaikan bahwa kualitas hidup seseorang bergantung pada kualitasnya dalam beristirahat. Barangkali, insomnia terjadi ketika kondisi ruangan tidur tidak mumpuni untuk istirahat yang berkualitas.

Sebenarnya kegiatan dekorasi ruangan juga berperan memantik perasaan positif selama berkarantina. Adanya kegiatan ini, setidaknya dapat dijadikan sebagai alternatif untuk penawar kejenuhan. Bahkan tak hanya itu, kegiatan ini juga mampu mengubah kejenuhan menjadi sebuah kepuasan. Marie Kondo menyebut bahwa kegiatan ini dapat memberikan rasa puas yang mampu memancing pikiran jernih dan mengurangi stres, setara dengan meditasi.

Namun perlu diingat, tren dekorasi ini seharusnya tidak hanya mengedepankan sifat estetisnya saja. Selama pandemi, kegiatan daring menuntut pelajar hingga pekerja untuk produktif dari rumah. Hal ini tidak selalu berjalan secara mulus. Salah satu penyebabnya adalah rumah yang terasosiasi sebagai tempat istirahat. Jika sudah begitu, otak kita memang akan kesulitan menerima sesuatu di tempat yang tidak semestinya.

James Clear, dalam bukunya Atomic Habits, menjelaskan bahwa mencampuradukkan konteks, seperti rumah adalah tempat istirahat menjadi tempat bekerja, dapat mengganggu perilaku dan pemaksimalan potensi. Perubahan konteks diperlukan guna memanipulasi otak atas asosiasi yang sudah ada. Konteks yang dimaksud adalah penataan ulang sesuai dengan kebutuhan produktivitas. Hal ini pernah dibuktikan oleh pabrik elektronik Jepang tahun 1970-an. Fenomena ini diabadikan dalam artikel James Surowiecki sebagai Lean Production.

Lean Production dikenal sebagai upaya pabrik elektronik Jepang untuk menciptakan efisiensi. Perancangan ulang tempat kerja dibentuk agar pekerja tak harus membuang waktu untuk berbalik atau menengok ketika mengambil suatu alat. Efeknya cukup besar. Pada tahun 1979, buruh Jepang mampu merakit sebuah pesawat televisi tiga kali lebih cepat dibanding buruh Amerika. Singkatnya, perancangan atau menata ulang tempat kerja dapat meningkatkan produktivitas yang cukup besar.

Tren dekorasi estetis ini layak dianggap sebagai antidot atas krisis kita selama pandemi. Krisis akan kebutuhan untuk merasa nyaman berada di rumah, menghindari insomnia, hingga mempertahankan produktivitas. Pengaruhnya yang besar untuk keberlangsungan hidup selama pandemi, dapat menjadi rambu-rambu positif yang perlu dipertimbangkan. Dengan begitu, kita setidaknya dapat memperkecil kerugian mental, materil, serta mempermudah dalam beradaptasi.