Daya Tahan Taman Bacaan Masyarakat

Foto: Rumah Hijau Denassa

Sore menjelang malam. Di suatu Taman Bacaan Masyarakat (TBM) yang terletak di sebuah kampung padat penduduk di Kota Solo, anak-anak dari pelbagai usia memadati kompleks itu. Kebanyakan dari mereka masih mengenyam bangku sekolah dasar. Tak ada beban dalam gurat wajah mereka. Mereka saling melepas tawa dan bersendau gurau bersama. Di tempat itu yang ada hanya kesenangan belaka.

Di lain waktu, anak-anak di kompleks itu belajar menggambar bersama suatu kelompok mahasiswa dari salah satu kampus ternama di Kota Solo. Mereka juga diberi beberapa buku dan majalah bekas. Namun, nasib buku dan majalah-majalah itu tak bertahan lama. Usai kepergian kelompok mahasiswa itu, buku dan majalah tadi tak punya nilai guna lagi untuk mereka.

Sebenarnya TBM ini relatif ramai. Namun kegiatannya acak. Malah, mereka yang sering berkunjung ke sana jarang menyentuh buku. Anak-anak yang sering berada di sana lebih suka bermain sepakbola dan permainan di gawai mereka masing-masing. Tak ada program konkret yang dapat menerjemahkan konsep TBM yang sesungguhnya. Keberadaan mereka pun lebih diakui sebagai taman bermain daripada taman baca.

Nasib mengenaskan pernah saya temui di TBM yang lain. TBM ini digerakkan oleh dua orang saja. Tak lebih dari itu. Satu berperan sebagai otak, yang satunya menjadi eksekutor ide. Apabila salah satu dari penggerak TBM ini berhalangan, TBM tidak punya kegiatan lain. Bahkan bisa dibilang sepi. Organisasinya berantakan, dan tak punya daya hidup untuk meningkatkan antusiasme warga sekitar. Akhirnya TBM itu terbengkalai.

TBM itu sudah beberapa tahun belakangan berdiri. Warga sekitar menyetujuinya. Bahkan ada ekspektasi yang tergurat pada ekspresi warga sekitar. Namun TBM itu tak lekas menemukan ritmenya. TBM itu justru mengalami kemunduran akibat ditinggalkan separuh lebih pengurusnya. Orientasi para anggotanya yang beragam macam adalah salah satu penyebabnya.

Hal-ihwal seperti ini akan jamak ditemui dalam fenomena maraknya pendirian TBM. Terkadang ada sifat latah yang semata-mata diikuti demi gengsi dan rasa penasaran. Lantas, itu dilakukan tanpa memandang resiko dan tanggung jawab moral yang akan dipikul. Alhasil, daya tahan TBM menjadi taruhannya. Dan ia pun bubar tanpa ada pengganti sepadan bagi alternatif lainnya.

Agaknya, banyak individu yang mendirikan TBM semata-mata berbekal spontanitas. Ada jiwa yang menggelegak dan rasa peduli, tapi berlaku sementara saja. Padahal jika dikaji lebih dalam, TBM punya segudang peran dan manfaat. Alih-alih wadah seremoni bagi kegiatan literasi, TBM adalah bentuk pendidikan informal bagi masyarakat. Dan TBM bukan hanya tenang membaca, bermain lalu pergi.

Juru Pustaka

Bagi saya pribadi, TBM adalah sebuah wahana berbagi bagi setiap orang yang punya akses lebih pada literasi. Akses literasi di sini bukan hanya soal jaringan informasi dan kesanggupan membeli sebuah buku. Akses literasi bisa berupa jangkauan terhadap pengetahuan tematik yang didapat dari sebuah jenjang pendidikan. Dan akses literasilah yang membedakan kalangan terdidik dengan masyarakat awam yang jarang menyentuh pelbagai fasilitas literasi.

Akses literasi dalam sebuah taman baca itu niscaya. Ia bisa berupa kategorisasi bacaan, jenis-jenis buku yang disediakan, atau juga penataan buku dalam suatu tempat. Hal-hal seperti ini mencakup sebuah kerja yang disebut sebagai tata kelola. Ia dapat dilakukan dengan syarat minimum berupa kesadaran ataupun sensitivitas terhadap kebutuhan literasi bagi segmentasi taman baca.

Lain dari itu, pemanfaatan fasilitas literasi adalah salah satu elemen penting lainnya dalam membangun akses literasi di suatu TBM. Di sini kreativitas para penggerak TBM diuji di tengah masyarakat. Selain berguna sebagai pemantik minat baca, kreativitas berfungsi untuk pemanfaatan fasilitas literasi yang tersedia taman baca. Pada akhirnya, elemen inilah yang nantinya akan menentukan nasib taman baca secara keseluruhan di masa depan.

Maka, bagi sebuah TBM, organisasi dan kreativitas mesti diperhatikan sungguh-sungguh. Dua hal ini juga tidak bisa berhenti dalam suatu konsep. Dua elemen pada akses literasi ini mesti terus berkembang menyesuaikan zaman. Sebab, seiring mengalirnya produksi bacaan bermutu, dan masifnya informasi di arus media massa, itu berarti fasilitas literasi sebenarnya berserakan di mana-mana. Tugas para penggerak adalah mengumpulkan, memilah, dan menyediakannya di tengah publik. Tentunya itu dikerjakan dengan kreativitas pemanfaatan dan ketekunan dalam tata kelola.

Sebagai fondasi dari sebuah TBM, buku mesti jadi perhatian utama. Dengan tambahan modal sosial dari kreativitas bersama, setidaknya para penggerak TBM bisa mengadakan pengajaran yang bersumber dari buku-buku yang tersedia di sana. Mungkin dapat diterapkan penjadwalan dua hari dalam seminggu, atau dua minggu dalam sebulan. Itu bisa disambung lagi dengan konsistensi menambah katalog, merapihkan tata kelola, dan menyediakan tempat yang nyaman. Dengan strategi seperti itu, bukan tidak mungkin minat baca masyarakat di sekitar TBM akan tumbuh perlahan sesuai pada arusnya.

Akan tetapi, memperlakukan kreativitas juga membutuhkan koridor tersendiri. Kreativitas dalam mengelola TBM, bagi saya pribadi mesti tetap berjalan dalam koridor literasi dan pendidikan. Jika literasi dan pendidikan dipasangkan dengan format yang lainnya lagi, ia dapat menjadi sebuah magnitude yang lain. Yang mungkin bisa saja mengalihkan vitalitas literasi taman baca pada godaan-godaan kegiatan lainnya.

Di TBM, tantangan demi tantangan ada di depan mata. Bentuk tantangan ini membenturkan para penggerak TBM pada realita masyarakat yang sesungguhnya. Menghadapi segenap tantangan ini, berjalan sendiri bukanlah opsi terbaik. Kendati terpaksa dilakukan secara individual, nantinya para pengunjung akan mengalami dependensi pada sosok tertentu. Maka dari itu, organisasi, adalah mekanisme terbaik bagi berjalannya sebuah TBM.

Penggerak TBM serupa dengan seorang agen sosial. Di sini, ia punya peran ganda, sebagai pendidik, dan juga penggerak. Pada label pendidik, ia punya tanggung jawab menanamkan hasrat dan selera atas produk literasi atau produk kebudayaan yang kontekstual. Pada label penggerak, ia bertanggung jawab menggerakkan organisasi TBM sebagai ruang publik. Dan untuk mengemban tanggung jawab ini dibutuhkan suatu persistensi dan juga konsistensi tanpa meninggalkan basis literasi.

Saya pikir, inilah salah satu peran terpenting dalam TBM. Di samping ia berfungsi untuk menyediakan fasilitas pendidikan informal bagi publik, ia berguna bagi para kalangan terpelajar untuk mengasah daya intelektualitasnya. Bahkan mungkin, dengan segala tantangan, dan modal yang mesti dipenuhi, inilah salah satu wadah terbaik dan juga relevan bagi kalangan terdidik untuk menstimulus dosis emansipatorisnya.