Biografi, Psikologi, dan Prakondisi

Foto: Rafifamir.net

Belakangan saya menggunakan masa wabah untuk menjelajahi jenis-jenis buku yang belum pernah saya sentuh. Banyaknya waktu luang membuat saya menggali pengalaman literasi di masa sebelum wabah. Niat awalnya sekadar mengisi kebosanan di sela waktu yang ada. Namun siapa tahu ada hal menarik yang bisa dijumput ketika saya melintasi penjelajahan literasi ini.

Setelah menengok pengalaman yang lalu-lalu, saya menyadari jarang bersentuhan dengan buku biografi. Hanya ada satu-dua buku biografi di almari saya. Itu saja tersedia karena diberi oleh seseorang yang nampaknya peduli akan perbendaharaan literatur saya. Maka, saya pun memutuskan untuk berkenalan lagi dengan biografi. Terkhusus biografi sejarah seorang tokoh publik.

Saya lantas teringat pada suatu momen. Beberapa waktu lampau saya pernah menyentuh buku biografi karena tuntutan pekerjaan. Memang saya pernah mendapat pekerjaan menulis biografi seorang tokoh yang digarap dalam sebuah tim. Hanya saja, karena dipraktikkan secara pragmatis, pembacaan itu dilakukan setengah-setengah dengan harapan terakumulasi di kemudian hari.

Ingatan itu mendorong saya melunasi pragmatisme kerja literasi saya di waktu lampau. Saya lantas memacu sejauh mungkin pembacaan biografi dari banyak tokoh. Ketebalan buku biografi juga merasionalisasi cara saya menikmati waktu ketika melumatnya lembar demi lembar. Setelah menemukan kenikmatannya, saya mengalami pergeseran pada konsumsi bacaan. Buku-buku biografi sejarah jadi banyak saya lahap dan buku-buku lain dinomorduakan.

Memasuki fase pembacaan kritis saya, buku Sejarah Hidup Muhammad karya Muhammad Hussain Haikal sastrawan Mesir menjadi bahan eksperimen awal. Buku ini dahulu saya dapatkan dari peninggalan almarhum paman. Pada awalnya tak ada kesan pertama yang memikat dari buku ini. Namun, seorang teman yang turut ke rumah almarhum paman mengingatkan saya, ”jangan sampai melewatkannya.” Dan sebagai bentuk simpati perkawanan, saya mengiyakannya dan lekas mengemas pulang buku itu.

Sebenarnya saya sudah lama sekali tidak membuka buku itu sejak terakhir kali menggatmitnya dari rak buku almarhum paman. Ternyata setelah belakangan kembali mendaras buku itu, saya terpana. Saya seperti diajak melihat kehidupan Rasulullah SAW dari sisi manusia biasa yang hidup dalam sebuah konteks budaya tertentu.

Lintasan sejarah yang dibangun di buku ini juga memikat, lantaran detil-detil yang dipaparkan secara sastrawi menyoroti karakter peradaban Arab sebelum dan sesudah masa kenabian datang. Tak ayal kita bisa melihat tikungan-tikungan penting apa yang dialami Rasulullah SAW sampai dapat melalui banyak momen-momen sukar di masa kenabiannya.

Cukup dengan satu eksperimen itu, saya mengamini bahwa penulisan biografi itu penting. Tanpa membaca Sejarah Hidup Muhammad, rasionalisasi saya terhadap kehidupan nabi mungkin nyaris tak saya dapatkan. Selain karena referensi biografi saya terbatas, mungkin saja jika tidak bersua dengan buku itu, saya masih akan berkutat pada sirah-sirah klasik yang jadi rujukan arus utama para pembaca risalah-risalah nabi.

Lantas, ketika kembali mengingat Sejarah Hidup Muhammad, saya seperti kembali berpijak pada bumi. Saya juga mendapat pengertian, bahwa biografi bukan hanya tentang citra dan pembersihan dosa-dosa sosial seorang tokoh. Biografi juga merekam perubahan sosial masyarakat dari tuturan sang tokoh. Karenanya, ia menjadi penting untuk ditulis ataupun dibaca.

Dalam proses perubahan sosial di dalam biografi, proses pematangan intelektual sang tokoh tengah dibangun. Ketika kita membaca biografi, kita menyaksikan itu semua terjadi. Maka, membeli buku biografi, bagi saya pribadi adalah membeli cerita terbaik dari seseorang yang kita ketahui. Kendati kita juga paham, bagus tidaknya penulisan tersebut sangat bergantung pada penulis yang mengemban tanggung jawab itu.

Lantas, apabila kita menuntut sebuah potongan sejarah yang paling dekat, maka bagi saya biografi jawabannya. Biografi adalah tentang bagaimana kita membaca apa yang dilihat sang tokoh, bukan hanya narasi besar dari sang tokoh. Mulai dari sini kita berlatih menyelami psikologis seseorang, belajar memafhumi momen-momen sulit bagi sang tokoh, serta mengolah rasa dari apa yang dibaca.

Lebih jauh, kita mesti menyadari, subjektivitas itu perlu. Dalam biografi, sang tokoh tengah merayakannya. Pergulatan hidup yang pelik membuat masyarakat menuntut seseorang bersikap objektif dalam persoalan, seolah-olah tak ada tempat untuk subjektivitas. Sebab, kenyataannya, kita semua memerlukan subjektivitas, bahkan dalam sudut sempit di ruang yang bersifat publik sekalipun.

Di buku-buku biografi, kita diajak berempati pada ruang-ruang yang dijelajahi seseorang, mulai dari yang sifatnya privat sampai yang publik. Rentetan gagasan saling dilempar ke pembaca. Untaian perjalanan yang dilalui dalam kurun waktu tertentu disuguhkan kepada kita. Di sana apa yang kita baca sebenarnya adalah tantangan terbuka: apa yang kita dapat dari biografi dan apa yang kita olah dari informasi yang tersedia.

Asumsi awalnya, penulisan biografi dibuat agar para tokoh dibaca sebagai seseorang. Bukan hanya sebagai tokoh. Mereka ditulis dalam sebuah nasib, takdir, dan bahkan situasi yang tak terelakkan. Mereka seperti bermula dari awal, mempertahankan hidupnya, lalu terseret dalam situasi yang tidak terencanakan. Sebagian menjalani hidup menabung banyak penderitaan dan kekecewaan, sebagian lagi menjalaninya dengan gagah berani.

Kompleksitas narasi dari sebuah biografi itu lantas melahirkan banyak penafsiran, memunculkan pelbagai cerita baru dari sisi yang belum pernah terkuak, serta memproduksi gagasan bagi cerita baru di dunia nyata. Sebagaimana penulisan fiksi, biografi adalah wujud dari human conditiong seseorang, tapi ia berangkat dari fakta. Bagi saya pribadi, itulah keistimewaan biografi.