Bagaimana Cara Membaca Geguritan Secara Baik?

Foto: Blog Bahasa Indonesia

Geguritan adalah salah satu karya sastra Jawa yang terwujud dari endapan rasa dalam diri seseorang. Penyair akan menuturkan geguritan dengan irama, rima, matra, bait dan susunan lirik yang memiliki makna tersendiri. Makna ini diartikan sebagai nyawa yang ada pada setiap geguritan. Bukan hanya wujud dari perasaan penyair, geguritan juga mewakili pikiran-pikirannya.

Salah satu bagian penting saat membaca geguritan adalah kemampuannya dalam mengungkapkan suatu rasa. Rasa dapat diartikan sebagai sikap penyair terhadap pokok persoalan yang terdapat dalam geguritan itu. Rasa itu seakan mampu sepenuhnya dialami dan ditanggapi oleh penyair. Rasa ini juga erat kaitannya dengan sesuatu yang diindra oleh penyair hingga memberikan berbagai tanggapan perasaan: sedih, bimbang, terhina, kecewa, kagum, gembira, ataupun marah.

Upaya penyair dalam mengungkapkan perasaan memang bukanlah perkara yang mudah. Butuh intensitas perjumpaan yang rumit antara diri penyair dan segala kecemasan yang menyertainya. Keduanya membentuk diri penyair hingga mencapai taraf keberanian dan kesiapan untuk bisa melakukannya. Segala perasaan itu pada akhirnya juga akan selalu menuntut untuk disampaikan dengan cara-cara yang asli dari diri setiap penyair.

Untuk itu, membaca geguritan memang selayaknya dibaca apa adanya sebagaimana nyawa yang terkandung di dalamnya. Sebab, membaca geguritan bukanlah pentas teatrikal, deklamasi, bercerita ataupun pidato. Membacanya juga tidak menitik beratkan pada tampilan ekspresif tetapi lebih pada kesan mendalam yang impresif. Meskipun harus ditampilkan secara ekspresif, itu semata-mata hanya bentuk dari dorongan rasa yang bersifat alamiah.

Sikap atau nada saat membacanya memang seharusnya prasaja atau sederhana. Kendati begitu, membacanya juga harus sesuai prinsip bisa nuju prana (tepat dan akurat) sebagaimana tema yang termaktub dalam geguritan itu. Intinya, dalam membacanya tak perlu dengan cara yang norak: gulung-gulung saat membacanya, melempar kertas setelahnya, melompat-lompat, dan berjalan ke sana ke mari.

Kejujuran perasaan yang termaktub dalam geguritan memang seharusnya dibacakan secara jujur pula. Seperti beringas ketika harus galak, sendu ketika harus sedih, ceria di saat gembira, dan berwibawa apabila di saat yang serius. Setidaknya membaca geguritan ini adalah upaya untuk menampilkan perasaan secara apa adanya, jujur tanpa memanipulasi diri sendiri.

Inilah sisi menarik dari membaca geguritan. Membaca segala nyawa yang mewakili setiap rasa pembacanya. Untuk itu, saya mengajak semuanya untuk berani membaca geguritan dengan kaidah-kaidah tersebut. Terlebih, ketika membacanya mampu memunculkan rasa bangga, maka abadikan dalam bentuk video dan jangan ragu untuk mengunggahnya di sosial media.

Add Comment