Anang Kusuma : TBM Fondasi Akses Literasi ke Masyarakat

Keprabon– Minat baca masyarakat tampaknya masih akan menjadi persoalan bagi dunia pendidikan. Jamak orang beranggapan bahwa ukuran minat baca hanya ditentukan dari faktor internal seseorang. Padahal, tinggi rendahnya minat baca juga punya banyak faktor pendukung. Maka dari itu, mereka yang peduli pada literasi, mesti mencari akar permasalahannya. Lebih-lebih, juga memberi solusi dalam wujud tindakan nyata.

Anang Kusuma Wardhana, pendiri sekaligus penggerak Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Keprabon mengatakan kalau minat baca masyarakat itu sebenarnya berasal dari akses baca yang tersedia. Karena, tidak semua orang punya ketertarikan yang sama. ”Semua orang tidak bisa dipukulrata mau baca buku apa, mau baca konten apa. Itu mengapa, sasaran gerakan literasi mesti bergerak secara strategis,” ungkapnya.

Sekarang ini ada banyak wujud gerakan literasi. Tidak sedikit yang bergerak sendiri di tengah masyarakat dengan membuka lapak baca. Lalu ada pula yang bergerak dalam format komunitas. Menurut Anang, semuanya berhak untuk bergerak. Namun, lebih baik lagi jika ada suatu kebersamaan antar pihak yang punya cita-cita sama.

”Ini kan sebenanarnya era kolaborasi. Bersaing ya sah-sah saja. Tapi ini kan tidak mencari angka. Kita mengejar kualitas. Kualitas yang bukan hanya untuk diri kita. Tetapi juga kualitas bagi masyarakat. Nah kalo sudah bicara seperti ini ya, berarti enaknya bareng-bareng.”

Mengelola TBM

Belakangan pendirian TBM juga semakin banyak. Rata-rata mereka yang mendirikan TBM berkeinginan untuk membuka akses baca masyarakat seluas-luasnya. TBM Keprabon yang dikelola Anang Kusuma ini mulanya juga didirkan dengan niat demikian. Pendiri yang lain pun berkeinginan agar TBM ini bertahan lama, dan kalau bisa menjadi aset bersama warga sekitar.

TBM Keprabon ini merupakan salah satu TBM yang berada di jantung Kota Surakarta. Letaknya berada di tengah Kelurahan Keprabon. TBM ini satu kompleks dengan masjid kampung dan juga satu rumah huniang kosong milik warga sekitar. Untuk kegiatannya, tidak dijadwal jangka panjang, namun sebulan sekali disusun dengan pelbagai rangkaian acara.

”TBM ini malah sarana mendekatkan diri dengan masyarakat sekitar. Selain anak-anak ada yang dewasa juga. Orangtua mengawasi anak bermain. Yang remaja, baca-baca buku. Melihat itu saya bikinkan forum diskusi kecil-kecilan terkadang. Sekali pernah saya bikinkan kelas bank sampah. Ada kelas menggambar bersama juga,” Ujar Anang.

Menurut Anang, TBM punya banyak keunggulan jika dikelola bersama-sama. Apalagi dalam wadah organisasi. Ini membuka peluang tebentuknya frekuensi kegiatan secara berkala. Jika agenda dilaksanakan dengan konsisten, bukan tidak mungkin ada efek getok tular yang cukup baik di masyarakat. Sehingga nantinya pelan-pelan masyarakat tergerak untuk membaca, lalu membuka diri pada aktivitas literasi.

”Nanti dijadwalkan saja agenda diskusi tentang ini. Banyak hal tentang TBM yang dapat diurai bersama-sama. Ini penting buat peningkatan minat baca. Ada banyak cara dan opsi supaya jalannya efektif,” tandas Anang.

 

Add Comment