Sunan Tembayat Klaten, Walisongo Penutup

Makam Sunan Tembayat atau Sunan Pandaran di Bayat, Klaten. HUMAS KLATEN

Makam Sunan Tembayat atau Sunan Pandanaran yang terletak di Desa Paseban, Kecamatan Bayat, merupakan tempat tujuan para peziarah terbesar di Kabupaten Klaten. Hampir setiap hari selalu banyak yang berziarah ke makam tersebut, baik warga Klaten maupun dari berbagai penjuru Indonesia.

Letak makam Sunan Bayat kurang lebih 12 km dari kota Klaten. Makam berada di sebuah bukit kecil (anakan) di lereng Gunung Jabalkat sebelah timur yang dinamakan Bukit Cakra Kembang. Saat memasuki lokasi, ada sepasang gapura pertama, yaitu Gapura Segara Muncar yang dibuat dari batu alam. Pada kaki gapura terdapat tulisan huruf Jawa ‘Murti Sarira Jleging Ratu’ yang menandai berdirinya gapura tersebut, tahun 1488.

Di belakangnya, terdapat Gapura Dudha yang tidak bisa dilewati para peziarah. Oleh Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) dibuatkan gapura pintu masuk. Para peziarah berjalan masuk melalui tangga undakan berjumlah sekitar 250 undakan.

Sesampainya di atas, terdapat bangsal luar diperuntukkan bagi peziarah yang ingin istirahat. Di sebelah bangsal terdapat gapura bernama Gapura Pangrantunan yang bertuliskan tanggal 1 Sura tahun 1633, tanda selesai dibangun, oleh Sultan Agung Mataram Hanyokrokusuma. Dulu terdapat tempayan yang berisi air untuk mencuci tangan dan kaki sebelum masuk ke makam. Oleh pemerintah, gapura tersebut tidak difungsikan lagi. Bagi para peziarah juga disediakan Bangsal Dalam kalau ingin beristirahat.

Selanjutnya, para peziarah akan melewati Gapura Panemut yang pada kaki gapura sebelah utara terdapat tulisan candra sengkala, ‘Wisasa Anata Wisiking Ratu’ tahun 1555 saka atau 1533.

Setelah menaiki tangga, sampailah pada Regol Sinaga. Di situ terdapat Gentong Sinaga yang konon diisi oleh Syekh Domba atas perintah Sunan Tembayat, untuk wudhu Sunan Tembayat dan Sunan Kalijaga.

Sampailah kemudian ke bangunan makam utama yang disebut Gedhong Inten, tempat dimakamkannya Sunan Bayat. Di sebelah timur laut, ada makam kedua istrinya, Nyai Ageng Kaliwungu dan Nyai Ageng Krakitan. Di sebelah tenggara, makam para sahabat, yaitu Nyi Ageng Madalem, Pangeran Jiwo, Pangeran Winang, Kali Datuk, Kiai Sabuk Janur, Kiai Banyubiru, Kiai Malanggati, Kiai Penembahan Sumingit Wetan, Kiai Panembahan Masjid Wetan, dan Penembahan Kabul.

Walisongo Penutup

Sunan Tembayat termasuk anggota Walisongo penutup. Penunjukan Sunan Bayat menjadi anggota Walisongo dalam suatu sidang Dewan Walisongo di Masjid Agung Demak untuk menggantikan Syekh Siti Jenar yang mendapat hukuman pati karena mengajar ajaran Wahdatul Wujud kepada khalayak umum. Usulan tersebut datang Sunan Kalijaga yang kemudian disetujui semua anggota Walisongo.

Kebesaran dan keramat Sunan Tembayat tidak hanya diakui kalangan masyarakat biasa, tapi juga oleh berbagai pejabat kabupaten, provinsi, bahkan sampai pusat. Terlebih bagi para pejabat Walikota atau Bupati Semarang. Mereka selalu mengadakan ziarah ke makam Sunan Bayat, karena leluhurnya itu ikut mendirikan Kabupaten Semarang. Kalangan keraton, mulai Pajang sampai Mataram sangat menghormati Makam Sunan Tembayat.

Kebesaran Sunan Tembayat sebagai Waliyullah yang keramat dapat ditemukan dalam buku Awal Kebangkitan Mataram karya HJ. De Graaf. Dikisahkan, sehabis kalah perang dengan pasukan Mataram di Prambanan, Sultan Hadiwijaya Pajang beserta pasukan yang tersisa mundur melewati Bayat. Sultan Hadiwijaya pun berkeinginan berziarah ke Sunan Bayat, tetapi ternyata pintu makam tidak bisa dibuka oleh juru kunci makam. Mengetahui hal ini, Sultan Hadiwijaya mengetahui isyarat bahwa wahyu keraton sudah berpindah, tidak lagi berpihak padanya.

Pujangga Besar Raden Ngabehi Ranggawarsito dalam Kitab Wirid Hidayat Djati juga menyebutkan Sunan Tembayat termasuk anggota delapan Waliyullah yang diberi kewenangan mengajar wirid dan pelajaran ilmu kesempurnaan (tasawuf) untuk angkatan kedua dan ketiga pada era akhir kerajaan Demak sampai awal kerajaan Pajang.

Pada angkatan kedua, delapan Waliyullah terdiri dari Sunan Giri Parapen, Sunan Derajat, Sunan Ngatasangin, Sunan Kalijaga, Sunan Tembayat, Sunan Kalinyamat, Sunan Gunung Jati, Sunan Kajenar. Sementara pada angkatan ketiga, delapan Waliyullah adalah Sunan Parapen, Sunan Derajat, Sunan Ngatasangin, Sunan Kalijaga, Sunan Tembayat, Sunan Padusan, Sunan Kudus, Sunan Geseng.

Sunan Tembayat pada angkatan kedua dan ketiga mendapat tugas dari gurunya, Sunan Kalijaga, memberikan wejangan mengenai susunan dalam singgasana Baitul Muharam. Wallahu a’lam.