Seni Profetik, Semangat Pengembangan Kesenian Islam

Pementasan wayang kulit. KOTA SURAKARTA

Seni Profetik sebagai pengejawantahan nilai-nilai Islam sebenarnya mampu beradaptasi dengan perubahan budaya yang terjadi. Karena itu, tidak perlu dipertanyakan, apakah seni tersebut muncul dalam bentuk sastra kontemporer, musik kontemporer, atau teater kontemporer. Justru dengan munculnya kreativitas bentuk seni seperti ini, nilai-nilai Islam akan tetap lestari, tetap diminati, dan tetap aktutal.

Hal yang terpenting adalah bagaimana seniman dengan produk kesenian yang dihasilkan mampu mengekspresikan ruh (af’idah, spiritualisme) dalam konsep kesinian dan kekinian.[1] Inilah peluang yang harus dikembangkan oleh seniman Islam.

Di Indonesia, fenomena pengembangan Seni Profetik misalnya bisa dilihat ada pada seni sastra karya Sutardji Calzoem Bachri, Danarto, Abdul Hadi WM, Hamka, Emha Ainun Nadjib, AA. Navis, dan lainnya. Memang tidak semua karya yang mereka hasilkan bermuatan nilai-nilai profetik Islam, tetapi beberapa karya seperti O Amuk Kapak, Adam Ma’rifat, Rintrik, Asmaradana, Armageddon, Slilit Sang Kiai, dan Robohnya Surau Kami, misalnya, jelas menunjukkan adanya upaya pencarian hakikat ketuhanan dalam konsep spiritualisme Islam.

Dalam bermusik, dapat kita lihat musik-musik kontemporer seperti yang diciptakan grup Kantata Takwa, Soneta, atau Bimbo. Berdasarkan aliran musiknya, mereka jelas tidak bisa disebut sebagai musik Islam dalam arti tradisi. Namun secara substansial, lagu-lagu yang mereka ciptakan sebagian besar didasari nilai-nilai Islam.

Fenomena lain yang tidak kalah menarik adalah reaktualisasi seni tradisi yang digarap oleh Emha Ainun Nadjib dengan kelompok Kiai Kanjeng. Secara berkala, seni tradisi seperti wayang atau garapan baru musik tradisi Jawa ternyata telah dijadikan media dakwah pada setiap bulan purnama di desa kelahiran Emha, yang kemudian terkenal sebagai ‘Padhang mBulan’. Hal yang perlu dicermati adalah kemampuan kelompok-kelompok tersebut dalam menyedot penonton. Dapat dipastikan bahwa setiap pertunjukan dapat dihadiri oleh setidaknya 10 ribu orang.

Pengembangan seni dengan nilai-nilai profetik Islam bukannya tanpa tantangan. Tantangan pertama justru banyak berasal dari intelektual Muslim yang memandang bahwa bentuk-bentuk seni kontemporer cenderung bersifat syubhat.[2]

Barangkali munculnya pandangan seperti ini secara tidak langsung melahirkan ‘ketakutan’ bagi seniman Muslim untuk mengoptimalkan kreativitas seninya dengan label seni Islam. Sebagai ilustrasi, kita mengakui bahwa pertunjukan wayang kulit bukanlah seni Islam, bahkan bisa disebut sebagai seni agama Hindu. Namun berkat kreativitas para wali, konsep pakem lakon pertunjukan wayang kulit diubah dengan memasukkan nilai-nilai profetik ajaran Islam. Menyebarnya Islam di Jawa khususnya, di antaranya adalah berkat pertunjukan wayang kulit.

Dalam konteks kekinian, pertunjukan wayang kulit cenderung dilihat dari kerangka historis. Para intelektual Muslim, tampaknya tidak interest terhadap keberadaan wayang kulit sebagai media dakwah Islam, apalagi terlibat dalam proses kreatif pengembangan pakem-pakem pertunjukan. Adanya indikator ini tampaknya dilihat oleh pemeluk agama lain sehingga mereka mulai memanfaatkan pertunjukan wayang kulit sebagai media dakwahnya. Jika hal ini terjadi, sungguh merupakan kerugian besar bagi umat Islam Indonesia.

Reaktualisasi Esensi Kebenaran Islam

Tantangan kedua, dapat dilihat dari kemampuan seniman Muslim sendiri. Dari segi kuantitas, seniman Indonesia yang beragama Islam sangatlah besar. Namun, kemampuan, pemahaman, dan kesadaran untuk menghasilkan produk seni yang secara substansial bermuatan nilai-nilai profetik Islam sangatlah terbatas.

Gus Dur dalam kolom majalah Tempo edisi 16 Juli 1983 berjudul ‘Wayang, Gamelan, serta Seni Suara Suluk sebagai Sarana Dakwah’ berpandangan bahwa apa yang disebut sebagai seni film Islam yakni apabila di dalamnya memuat visualisasi normatif atau formalitas, seperti gambar masjid, wudhu, sembahyang, mengaji, berdoa, dan lainnya. Insan film jarang menampilkan potret Islam dalam arti refleksi esensi keyakinan kebenaran ajaran.

Film-film dakwah Islam Indonesia seperti Panggilan Tanah Suci, Atheis, atau Wali Songo adalah contoh konkret lebih ditonjolkannya formalitas daripada esensi. Kenyataan ini oleh Abdurrahman Wahid disebut sebagai ‘hambatan kolosal dunia perfilman Indonesia’.

Hal tersebut jauh berbeda dengan model penggarapan film asing, meskipun dengan tema yang sama. Misalnya saja film-film yang digarap Moustapha Akkad seperti the Message, Lion of the Desert, Ten Commandment. Pesan keagamaan yang bersumber pada nilai-nilai Islam dapat divisualisasikan secara utuh, sehingga menampilkan ‘inilah esensi kebenaran Islam’. Padahal, aktor yang memainkannya bukan aktor Muslim, misalnya Steve McQueen.

Apalagi jika dibandingkan dengan film-film dakwah agama lain, jelas kita sangat ketinggalan. Film-film seperti the Priest of St. Pauli, Boys Town, Our Lady of Fatima, The Singer not the Song, merupakan contoh film yang mampu memberikan potret agama Kristen sebagai sebuah kebenaran yang mendasarkan pada konflik-konflik kehidupan keseharian dan kekinian.

Tuntutan terhadap kreativitas Seni Profetik ternyata tidak harus dilandasi eksplisitas normatif keagamaan. Hal yang penting adalah bagaimana esensi kebenaran Islam mampu direaktualisasi dalam konteks kekinian dan kesinian. Inilah barangkali salah satu tantangan kreativitas seniman Muslim dalam menyiasati perubahan yang terjadi.

Pengembangan kesenian Islam tampaknya perlu penanganan yang lebih serius. Secara historis dapat dilihat bahwa seni merupakan salah satu media efektif dalam pengembangan dakwah islamiah. Nilai- nilai profetik Islam yang bersifat universal dan tidak membedakan lintas ruang dan waktu, sudah saatnya lebih dikembangkan melalui media kesenian bernama Seni Profetik.

Hal tersebut di samping dimaksudkan sebagai sosialisasi nilai-nilai Islam, juga sebagai bagian pembentukan peradaban Muslim pasca-modernisme. Kekosongan nilai-nilai pada peradaban modern dan bangkitnya masyarakat untuk mengembangkan peradaban dengan nilai-nilai humanis dan religius, sebenarnya merupakan momentum yang sangat tepat untuk mengedepankan nilai-nilai profetik Islam sebagai alternatif dalam segala matra kehidupan.

Mampu dan beranikah kita memanfaatkan peluang dan tantangan tersebut?

[1] Endang Saifudin Anshari. 1993. Wawasan Islam: Pokok-pokok Fikiran tentang Islam dan Ummatnya. Jakarta: Raja Grafindo Persada. h. 42.

[2] Diskusi Estetika Islam dalam Yustiono (ed.). 1993. Islam dan Kebudayaan Indonesia: Dulu, Kini, dan Esok. Jakarta: Yayasan Festival Istiqlal. h. 66.