Pabrik Gula Gondang, Sebuah Relevansi Peningkatan Perekonomian Klaten

Salah satu sudut PG Gondang Baru. ARIF BENJAMIN GUNAWAN

Pabrik Gula Gondang Baru, terletak di Kabupaten Klaten, mempunyai banyak nilai sejarah yang bisa dijadikan sebagai media edukasi dan penguatan perekonomian masyarakat sekitar. Pabrik ini berdiri sejak 1860, ketika kolonial Belanda masih menjejakkan kakinya di bumi Surakarta. Gondang Winangoen, sebutan lainnya, mewakili penamaan pabrik yang konsisten menyerap hasil bumi, dalam hal ini tebu, dari lokasi tempat pabrik berdiri.

Beberapa artikel atau studi yang tertarik menghadap Gondang menciptakan beberapa pengamatan khusus. Salah satunya, terkait tata letak dan kausalitas historis, mengapa pabrik tersebut berdiri. Fokus pembahasan artikel ini menekankan pada penggunaan nilai lebih yang dimiliki Pabrik Gondang. Hal itu dimulai sejak penetapan pabrik sebagai museum tahun 1982 yang diprakarsai oleh Gubernur Jawa Tengah Soepardjo Rustam (1974-1982).

Artinya, revitalisasi Pabrik Gula Gondang Winangoen ternyata memang mempunyai nilai komparatif untuk kemajuan masyarakat sekitar. Terlebih apabila dalam perencanaan dan pelaksanaannya melibatkan masyarakat di sekitar Pabrik Gondang.

Selanjutnya, peranan kebudayaan mempunyai nilai lebih kepada peningkatan perekonomian di suatu wilayah, termasuk Gondang dan Klaten. Korelasi antara kebudayaan dan perekonomian mempunyai kausalitas yang memiliki keterkaitan baik.

Pandangan menarik datang dari Douglass Cecil North Douglass Cecil North, seorang ekonom Amerika Serikat yang dikenal dunia karena karyanya dalam sejarah ekonomi. Ia merupakan salah satu penerima Nobel Ekonomi tahun 1993 selain Robert William Fogel. Menurutnya, terdapat sebuah hubungan yang kuat dari sistem nilai, norma, dan belief system dengan institusi dalam sebuah masyarakat.[1]

Pabrik Gondang Winangoen terletak di tengah-tengah kehidupan sosial warga Klaten yang berarti mempunyai relevansi atas beberapa aspek, seperti institusi, kebudayaan, dan belief system yang berada di lokasi pabrik. Sistem sosial ini bisa diorganisasikan untuk keperluan kolektif dalam menciptakan belief system, berupa kemapanan dalam perekonomian.

Pada masanya nanti, hal itu akan kembali menguat, apabila secara institusional, telah lahir kapabilitas yang benar-benar memberdayakan masyarakat sekitar secara kontinu dan bijaksana. Sebuah konsep kehidupan yang saling berkorelasi antar-individu satu dengan yang lainnya, yakni menciptakan efek domino atas segala bentuk regulasi atau pun gerak sosial.

Ricky W. Griffin, Guru Besar Manajemen di Mays Business School, Texas A&M University, berpendapat, hidup seseorang sejatinya tidak bisa dilakukan dengan sendirian dan terisolasi.[2] Maka dari itu, harus ada kepercayaan sosial yang tinggi dengan bantuan akomodasi dari pihak terkait, seperti pemerintah, pakar kebudayaan, dan masyarakat untuk berkolaborasi dalam menemukan solusi pemberdayaan Pabrik Gondang Winangoen.

Nilai Jual Klaten

Menyinggung beberapa keunggulan komparatif yang dimiliki oleh Kabupaten Klaten, salah satunya dalam aspek kebudayaan yang memiliki citra baik dalam mengangkat kewibawaan dan nilai jual daerah. Misalnya, Tari Luyung, Tari Lurik Asli, dan hasil batik dari Juwiring. Pabrik Gondang Winangoen bisa diperankan sebagai ruang penyampaian beberapa kekayaan kebudayaan Klaten untuk kebaikan masyarakat sekitar. Secara geografis, letak Pabrik Gondang yang dekat dengan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mempunyai probabilitas tinggi terhadap kunjungan wisatawan.

Michael Paul Todaro, seorang ekonom Amerika dan pelopor ekonomi pembangunan, mendedah teori tradisional untuk perdagangan internasional. Ia menekankan keunggulan komparatif dalam membangkitkan sitem pasar terkait impor dan ekspor. Cerminan dari kondisi pasar bisa sedikit kita implementasikan kepada demand and supply dalam ranah internal alias hubungan antar-daerah dalam suatu negara.[3]

Bagi Todaro, dengan membangkitkan dan memperkuat keunggulan komparatif maka akan timbul suatu spesialisasi terhadap penilaian pasar. Klaten dengan beberapa kekayaan kebudayaan ditambah dengan adanya ruang yang memadai dalam menampilkan kebudayaan tersebut, yakni Pabrik Gondang Winangoen, mempunyai peluang sebagai kabupaten yang mampu bersaing. Sebuah pengelolaan kekayaan kebudayaan yang berguna bagi masyarakat sekitar.

Peningkatan demand and supply akan diserap untuk membangun konektivitas antar-kota yang berakibat kepada meleknya pengunjung terhadap nilai historis dan kemungkinan tukar informasi berbasis pengetahuan di lokasi. Asas timbal balik antara kualitas dari program yang dilaksanakan diharapkan mampu memberikan peningkatan pengunjung.

Tata ruang yang dimiliki oleh Pabrik Gondang Winangoen masih memiliki sisi oriental. Sangat memungkinkan sekali dengan keaslian tata ruang, bisa dimanfaatkan untuk ruang show up dari hasil kebudayaan kepada masyarakat sekitar atau pun luar Klaten. Pameran adalah salah satu solusi dalam menyampaikan keunggulan komparatif Kabupaten Klaten.

Potensi lain, Gondang tentu saja terkait dengan peningkatkan perekonomian Klaten berbasis pertanian. Kunci utama yang harus ditekankan yaitu dengan membangun sebuah jaringan pasar taktis untuk disampaikan dalam bazar.

Pengelolaan bazar diharapkan mampu menyampaikan beberapa keunggulan komparatif produk yang dimiliki oleh masyarakat Klaten. Pengorganisasian membutuhkan kerja sama antara warga sebagai kontributor dan pelaksana dari kegiatan.

Penempatan masyarakat sebagai subyek adalah pilihan tepat untuk menciptakan sebuah regulasi yang sesuai dengan apa yang dibutuhkan warga. Ketika masyarakat dilibatkan hanya kepada kebutuhan obyek maka yang terjadi adalah disparitas antara kemanfaatan sebuah program yang akan dilaksanakan.

Menciptakan sebuah bazar dengan pelibatan penuh masyarakat akan meringankan beberapa risiko disparitas kebermanfaatan. Mereka bisa merasakan beberapa program atau pun output program seperti kebutuhan material dan pengetahuan. Komunikasi dan koreksi kontinu menjadi sebuah fondasi untuk memberikan kualitas pemberdayaan masyarakat secara berlanjut.

[1] North, Douglass C. 2005. Understanding the Process of Economic Change. Princeton: Princeton University Press. h. 83.

[2] Griffin, Ricky W. 1999. Management. Massachusetts: Houghton Mifflin Harcourt.

[3] Todaro, Michael P. and Stephen C. Smith. 2009. Economic Development. Massachusetts: Addison-Wesley.