Kiai Amin dan Gitik

HM. Aminuddin bin KH. Abdul Wahab Shodiq, akrab disapa Pak Amin atau Kiai Amin. AL-MUAYYAD

Saya ‘ngaji turutan’ atau hapalan juz Amma di Pesantren Al-Muayyad Mangkuyudan sering kali berpindah-pindah kamar. Artinya, pindah-pindah guru ngaji atau ustaz, yang akrab kami panggil ‘Kang’. Di Mangkuyudan, ada dua tempat untuk mengaji Al-Quran. Pertama, di kamar asrama. Kedua, di serambi masjid. Tingkat penghapal juz Amma atau tingkatan ngaji di bawahnya bertempat di kamar, sedangkan tingkatan di atasnya bertempat di serambi masjid.

Tiap-tiap kamar diisi oleh satu guru ngaji yang menerima para penghapal juz Amma. Sedangkan para pembaca dan penghapal 30 juz Al-Quran berada di serambi masjid, duduk melingkar di depan guru, atau berhadapan-hadapan.

Ada hal yang sampai saat ini saya rasa spesial dari para guru ngaji ini. Beliau, para guru ngaji, mampu membenarkan bacaan dan hapalan muridnya, meski sang murid membaca berbarengan ayat atau surat yang berbeda-beda. Padahal, sekali menghadap, sedikitnya ada tiga murid yang menghadap, sering kali bisa lebih, sampai lima atau enam membaca sekaligus.

Ada perbedaan yang mencolok antara guru ngaji juz Amma dengan guru ngaji di serambi. Guru ngaji juz Amma yang ada di kamar rata-rata membawa tongkat kecil berbahan bambu kuning, atau penjalin (rotan) yang disebut ‘gitik’.

Dulu, saya pikir, itu tren saja, seperti kelengkapan busana Kang Guru ngaji juz Amma yang rata-rata galak itu. Sekarang, saya berpikir kalau itu bukan sekadar tren, tapi bagian dari pembelajaran. Pada saat santri membaca hapalannya, Kang Guru medengarkan sembari memukul-mukulkan tongkatnya, seperti sedang menyusun tempo bacaan, sehingga santri dapat dengan mudah mengikuti nada panjang pendek bacaan. Di luar fungsi itu, kadang tongkat kecil dipakai untuk memukul paha santri ndableg, yang terus-terusan salah membaca.

Ngaji yang diwajibkan di Mangkuyudan, selain ngaji di bangku madarasah atau di kelas, dilaksanakan setelah sembahyang Subuh dan Magrib. Sebab ngaji pada dua waktu itu sifatnya wajib maka ada buku absensi yang harus diisi, ditandatangani guru untuk melengkapi kehadiran santri mengaji atau sebagai bukti bahwa santri sudah mengaji.

Buku ngaji tiap minggu diperiksa oleh pengurus pondok. Bagi yang presensinya bolong-bolong akan mendapatkan hukuman dari pengurus. Hukumannya beragam. Ada yang dihukum untuk membersihkan kamar mandi dan halaman, atau hukuman lainnya. Dari kebiasaan santri ngaji setelah Subuh dan Magrib inilah, dulu jarang ditemui ada orang yang kembali tidur setelah sholat Subuh, atau merasa ganjil jika tidak mengaji setelah sholat Magrib.

Entah kenapa, saat itu saya suka pindah guru-guru ngaji. Mungkin karena tertarik dengan iming-iming teman bahwa guru ngajinya lebih enak, lebih mudah, dan lain sebagainya. Jadi, tiap-tiap santri bisa berbeda-beda guru ngajinya. Misalnya, salah satu santri yang bertempat di kamar 12 bisa saja mengaji di kamar 21. Sedangkan santri lain yang sekamar dengannya di kamar 12 bisa mendapat jatah berguru mengaji di kamar 10.

Nah, di sela-sela waktu, satu sama lain bercerita mengenai gurunya masing-masing. Santri labil seperti saya dengan cepat terpengaruh, membandingkan guru satu dengan yang lainnya, lalu dengan mudah bolak-balik pindah guru. Padahal, itu dilarang dalam peraturan, sebab terkait dengan pembagian jumlah santri di tiap-tiap kamar. Apalagi tidak setiap kamar semuanya luas. Ada yang kecil, menyesuaikan jumlah santri yang menempatinya.

Seingat saya, saya mengaji di banyak guru, berpindah-pindah di kamar 1, 12, 9, 6, 22, serta terakhir dan paling lama, di kamar 1. Jelas ini cara belajar yang keliru, tidak efektif, hanya menghabiskan waktu saja. Kamar 1, 6, 9, dan 12 berada di kamar lama, atau bangunan lama pesantren, yang sekarang sudah dibongkar dan berubah bentuk. Sementara kamar 22 berada di gedung baru di sebelah selatan masjid.

Meski tidak dipaksa untuk mengulang hapalan, dengan syarat pada saat dites hapalan bacaannya sudah benar, tetap saja cara pindah-pindah guru ini saya sebut menghabiskan waktu, sebab waktu-waktu yang ada habis untuk membandingkan satu guru dengan guru yang lain. Sungguh bukan perilaku yang baik sebagai seorang murid.

Dari perjalanan gonta-ganti guru tersebut, beruntung sekali saya ditakdirkan untuk kemudian berhenti di satu guru yang mengajar di kamar 1. Profil guru saya ini persis seperti apa yang sampai pada saya. Pribadinya halus, tidak galak, dan yang paling penting, tidak membawa gitik. Setidaknya, saya yang bebal ini nyicil ayem. Kalau pun nanti kesulitan menghapal dengan baik, atau salah baca terus-terusan, tetap terhindar dari ganjaran kena gitik.

Selain itu, yang membedakan dengan guru ngaji di kamar lain, kami memanggil guru kamar 1 ini dengan panggilan Pak, bukan Kang. Setahu saya, ada dua guru ngaji yang biasa kami panggil Pak. Pertama, Pak Rodlin, dan guru saya ini.

Guru saya ini juga membuktikan bahwa mengajar dengan halus dan tanpa ancaman hukuman, tetap bisa berjalan baik. Mungkin beberapa kasus ada santri yang bisa hapal dengan mudah di bawah bimbingan guru yang tegas atau galak. Beberapa santri lain, semodel saya misalnya, lebih mudah menghapal jika berjumpa dengan guru tanpa ancaman, tanpa gitik.

Dari guru saya ini saya berhasil menyelesaikan hapalan Juz Amma. Dan guru saya ini bernama H. M. Aminuddin bin KH. Abdul Wahab Shodiq. Guru saya ini putra menantu dari kiai kami, pengasuh Pesantren Mangkuyudan, Kiai Abdur Rozaq Shofawi bin Kiai Shofawi.

Ahad (6/12/2020), saya mendapat kabar bahwa guru saya ini wafat. Kiai Amin yang mengajar ngaji tanpa gitik itu. Semoga kelak anak-anak saya bisa berjumpa dengan guru-guru seperti guru Amin dan guru-guru saya di kamar lain, untuk memperkaya pengetahuan.

Dan semoga semua guru saya, Kiai Amin, dan semua guru di Mangkuyudan, terkhusus beliau-beliau para pendiri Pesantren Mangkuyudan, Simbah Kiai Abdul Mannan, Simbah Kiai Ahmad Shofawi, Simbah Kiai Umar Abdul Mannan, dan Simbah Kiai Prof. Moh. Adnan, ditinggikan derajatnya oleh-Nya, diterima semua amalnya, dihapus segala dosanya, dikumpulkan bersama Rasulullah Muhammad SAW.