Berpikir Positif Ala Stoisisme

Lukisan yang menggambarkan dialog Alexander the Great dan Diogenes, sang filsuf stoisisme. REB RESEARCH & CONSULTING

Anak bangsa sejatinya adalah penerus bagi kemajuan sebuah bangsa. Anak bangsa harus menempatkan diri mereka sebagai penggerak di kala jiwa-jiwa lama menuntut kita untuk bisa kembali membantu dan menyejahterakan mereka.

Pemikiran lama yang kurang lagi relevan harus di-upgrade kembali dengan pemikiran baru yang lebih baik dan mumpuni. Penyesuaian zaman harus ditentukan oleh anak zaman itu sendiri. Memilih menjadi seperti apa dan bagaimana tergantung dari mereka, seorang anak zaman.

Iri dengki merupakan sebuah penyakit yang harus ditinggalkan oleh anak zaman. Minder dengan kemampuan pribadi adalah sebuah hal yang tidak pantas untuk dilakukan, karena menambah pekik permasalahan dan melupakan eksistensi mereka sebagai roda penggerak. Kecacatan kepercayaan diri sering membelenggu individu, sehingga ia tidak leluasa dalam menjalani kehidupan yang dinamis dan kompleks ini.

Berkutat pada masalah yang monoton terkesan individu sering terjerembap dalam jurang yang tidak bisa membawa mereka kedalam perkembangan yang luar biasa. Iri, dengki, dan percaya diri membawa mereka kepada jurang kemunduran yang disibukkan dengan pengamatan terhadap obyek dan lupa kepada diri kita sendiri.

Alam diciptakan dengan segala bentuk sebab akibatnya dan membawa kepada runtutan perubahan yang saling terkait. Hal ini akan membawa sebuah perubahan yang dramatis dalam berkehidupan. Seseorang terkadang dipaksa untuk bisa menyesuaikan diri agar tidak tergilas oleh zaman. Hal yang sering digeluti dan sangat dicintai—passion, sering ditinggalkan demi sesuai dengan kepentingan zaman. Individu inilah yang sejatinya tidak percaya diri dengan apa yang ia miliki demi memilih kepentingan praktis agar apik terlihat oleh dogma zaman temporer.

Iri dengan termotivasi sangatlah berbeda. Iri salah satu bentuk refleks individu yang dimanifestasikan ke dalam bentuk negatif, sedangkan untuk termotivasi lebih kepada kompulsif yang mengakibatkan individu untuk bisa bergerak kepada tahapan yang lebih positif. Iri akan mengantarkan kepada jurang keburukan dan ketertinggalan, dikarenakan iri sendiri menghambat gerakan individu untuk eksis dan menjalankan segala bentuk kebaikan.

Penyakit iri tidak bisa kita pandang sebelah mata. Penyakit ini sering menjangkit manusia pada umumnya. Kehidupan yang saling bersinggungan antara individu lain akan memberikan sebuah interaksi dan komunikasi satu sama lain. Hal yang dilakukan oleh individu akan dibaca oleh individu lain, segala bentuk pencapaian pribadi akan terpaksa dilihat oleh kelompok atau individu lain.

Suka dan tak suka secara pragmatis akan terjadi dalam lingkup sosial tersebut. Seperti yang disampaikan oleh Georg Wilhelm Friedrich Hegel, seorang filsuf Jerman, dalam realitas sosial terdapat tesis dan antitesis. Begitulah kehidupan akan berjalan dan bergerak di mana akan terjadi sebuah pertentangan antara satu sama lain. Cerminan tersebut bisa terjadi ketika kita belum tentu disenangi oleh individu lain. Beruntunglah bagi mereka yang mampu memposisikan diri dengan bijaksana untuk kehidupan yang lebih baik.

Belajar dari Kaum Stois

Salah satu Kaum Stois yang terkenal bernama Zeno di Athena pada kurun waktu sekitar 300 SM. Stoisisme (stoicism) merupakan filsafat yang dikembangkan oleh Diogenes dalam menjalani hidup yang sebenar-benarnya hidup. Kaum Stois dikenal sebagai pribadi yang sangat bijaksana dalam menangkap segala bentuk gejolak dalam berkehidupan. Mereka melakukan sebisa mungkin dan sebaik mungkin dalam berkehidupan tanpa ada rasa bimbang maupun berpikiran buruk terhadap individu lain.

Kehidupan yang kompleks semakin hari semakin membentuk diri kita agar lebih fleksibel dalam memandang dan menjalani sebuah realitas. Penat, tertekan, dan frustrasi sering menghampiri beberapa individu, karena tidak kuatnya mereka dalam memandang dan menjalani realitas yang terkesan sangat mengekang. Munculnya stoisisme walaupun bisa dikatakan kuno, akan tetapi mempunyai nilai dan relevansi untuk memberikan rekomendasi dalam menjawab tantangan zaman.

Stoisisme merupakan sebuah strategi sekaligus taktik dalam menjalani sebuah kehidupan. Mengapa bisa dikatakan taktis? Dikarenakan dalam ajaran stoisis menyampaikan beberapa rekomendasi untuk bisa hidup damai, caranya, menyatukan subyek kita dengan alam. Kita tidak bisa hidup sendiri dan menentang realitas dengan sendirinya. Menurut teori stoisis bahwa pergulatan kita dalam berkehidupan yaitu dengan menakar kembali keterkaitan kita antara alam dan individu.

Menyatu dengan alam adalah aspek dasar orang-orang stoisis untuk menjalani dunia. Orang stoisis lebih berada pada jiwa yang tenang dikarenakan mereka sangat tenang terhadap segala bentuk kehidupan yang kadang membuat gusar. Mereka tidak membuat pusing segala bentuk tekanan atau pun hasil final yang kurang sesuai dengan ekspektasi yang mereka buat.

Mereka lebih menitikberatkan kepada sebuah perjuangan individu untuk hidup dan menciptakan sebuah target tertentu dalam berkehidupan. Apabila ekspektasi mereka tidak tercapai, di sinilah peranan kebijaksanaan orang-orang stoisis. Mereka akan tetap tenang dan merasakan apa yang alam berikan tanpa ada rasa membenci sekalipun.

Hukum alam menurut Kaum Stois sendiri sebagai ruang dan waktu yang mempengaruhi manusia dalam menjalani kehidupan. Hukum alam memberikan sebuah penetrasi dalam kehidupan manusia yang kadang memberikan tujuan tertentu berbeda jauh dengan ekspektasi yang kita sengaja buat. Kondisi ini sebagai bentuk implementasi dari filsafat yang disampaikan oleh filsuf Demokritos bahwa alam semesta merupakan sebuah satu kesatuan yang saling memiliki keterkaitan.

Alam akan mempengaruhi beberapa individu terkait dengan apa yang telah mereka konstruksikan. Alam akan mempunyai dampak yang berupa dukungan maupun pertentangan. Subyek selaku individu seharusya sudah khatam dalam mengamati realitas, apabila tidak rentan terjadi sebuah penyakit hati yang dapat menurunkan kualitas diri Individu atau pun kelompok tertentu.

Kehidupan yang sangat kompleks dan kental sekali dengan kebudayaan yang masuk, menghunjam kebudayaan pribumi, sering membuat bimbang individu selaku cerminan dalam kebudayaan. Penempatan stoisis sebagai bius untuk tetap berpikir positif dalam mengamati realitas sosial yang ada, menenangkan diri dan tetap melakukan yang terbaik, bisa kita adopsi dari para Kaum Stois yang mempunyai idelisme tinggi dalam menjalani kehidupan yang fana ini.

Iri dengan prestasi salah satu individu merupakan sesuatu yang sia-sia. Lebih baiknya bergerak dan memfokuskan diri kepada apa yang kita miliki untuk membangun karier dan masa depan yang lebih baik.